2015-01-09

Keikhlasan Manusia

Di dunia tempat manusia memuja hiruk-pikuk penuh bising,
selalu ada malaikat yang bekerja dalam hening.
Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc


Di kantin Siang ini saya mengobrol dengan salah satu mahasiswa dari Bapak Pratikno selama masa kuliah di UGM Yogyakarta dahulu kala. Yupp mahasiwa tersebut adalah atasan saya sekarang dimana saya bekerja saat ini. Dan siapa sangka Bapak Pratikno sekarang menjadi atasan dari atasan saya ( jadi bisa dibilang kakek atasan ). Oke saya tentunya tidak akan membahas antara atasan dan bawahan disini. Tetapi ada yang unik dari cerita atasan saya tersebut. Yang tentunya bisa kita ambil sedikit hikmah. Ceritanya Bapak Pratikno marah-marah di depan para mahasiswanya. Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc—yang biasa disapa Pak Pra—sedang mengajar sebuah mata kuliah Sosiologi di kampusnya ( tentunya sebelum Beliau menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara RI jilid 14 ). Di depan para mahasiswa kampus itu, ia berbicara dengan bahasa yang akrab, mengalir dan mudah dipahami, sekaligus lucu. Berkali-kali audiens tertawa cekikikan saat menikmati ceramahnya. Ia menjelaskan dan menguraikan banyak hal, khususnya yang berhubungan dengan sosial, budaya, dan agama.

Di satu bagian ceramahnya, Pak Pra menceritakan kisah masa mudanya, ketika ia pergi dari rumah orangtua untuk menyepi dan bertafakur. Hal itu ia lakukan sampai cukup lama. Selama bertafakur, Pak Pra bisa dibilang menjauhi segala kenikmatan duniawi, bahkan selama dua tahun dia hanya makan tiwul (makanan yang dibuat dari ketela pohon atau singkong).

Ketika ceramah selesai dan sesi tanya jawab dibuka, seorang mahasiswa bertanya, apa motivasi Pak Pra menyepi dan bertafakur sebagaimana yang tadi diceritakannya. Di luar dugaan semua orang, Pak Pra marah mendapat pertanyaan itu.

Sambil marah pula, Pak Pra menjelaskan bahwa dia bertafakur di masa mudanya bukan karena motivasi apa pun, tapi karena memang ingin melakukannya. Dan kemarahan itu bahkan berlangsung cukup lama, selama menjelaskan bahwa dia bertafakur bukan karena mengharapkan sesuatu, bukan karena menginginkan apa pun, tetapi semata karena ingin melakukannya. Dengan nada marah ia menyatakan, “Urip kok motivasiiiii bae! Urip kok pamriiiiiih bae!” (“Hidup kok cuma motivasi! Hidup kok cuma pamrih!”)


Saya memahami kemarahan Pak Pra dilatarbelakangi karena kemuakannya terhadap gaya hidup orang modern yang segala sesuatunya dilandasi pamrih atau motivasi tertentu. Sebegitu akrab dengan pamrih, hingga kita di zaman ini sering tidak bisa memahami orang-orang yang melakukan sesuatu karena keikhlasan semata, karena memang ingin melakukannya, dan tidak bertendensi apa pun.

Kita terlalu akrab dengan pamrih, dengan motivasi di balik perbuatan yang kita lakukan, hingga tanpa sadar kita mulai asing dengan keikhlasan. Pernahkah kita menyadari kenyataan mengerikan itu? Kita telah menjadi semacam rayap yang menggerogoti kemanusiaan kita sendiri, hingga perlahan-lahan kita kehilangan nurani dan nilai kemanusiaan yang kita miliki. Kita mau melakukan sesuatu jika melihat keuntungan yang bisa diperoleh, dan menolak atau enggan melakukan jika tidak ada imbalan. Kita sedang merendahkan kemanusiaan kita sendiri.

Kita percaya kepada Tuhan, mau beribadah sebagaimana perintah-Nya, tetapi diam-diam kita menyembunyikan motivasi untuk masuk surga atau terhindar dari neraka. Kita tidak beribadah karena memang ingin melakukannya sebagai bukti kehambaan dan kemanusiaan, melainkan karena motivasi dan pamrih surga-neraka. Jika memang begitu yang kita lakukan, akan seperti apakah kita jika surga dan neraka tidak ada?

Penyakit yang menghinggapi banyak orang modern adalah terlalu lekatnya pamrih dan motivasi, sehingga kita tidak bisa melakukan apa pun tanpa pamrih dan tanpa tendensi. Yang mengerikan, kalau kita belum sadar, orang-orang semacam itu sangat mudah dikalahkan dan dihancurkan.

Pikirkan kenyataan ini. Jika seseorang melakukan sesuatu karena motivasi uang, orang itu bisa dikalahkan dengan uang. Sodorkan setumpuk uang untuknya, dan moralnya akan tergadai. Jika seseorang mengerjakan sesuatu karena pamrih jabatan, dia pun akan mudah dihancurkan. Janjikan suatu jabatan kepadanya, dan kemanusiaannya akan terjual. Orang-orang penuh pamrih sangat mudah dikalahkan, bahkan dihancurkan.

Karenanya, orang paling kuat di dunia adalah orang yang melakukan sesuatu karena memang ingin melakukannya. Orang semacam itu tidak bisa dikalahkan, karena dia melakukan sesuatu berdasar keikhlasan semata, tanpa pamrih, tanpa motivasi apa pun. Sodorkan setumpuk uang untuknya, dia tidak akan berubah. Janjikan jabatan kepadanya, dia tetap bergeming. Dia akan terus melakukan sesuatu yang memang ingin dilakukannya, tak peduli orang lain tahu atau tidak, tak peduli dunia menatap kepadanya atau tidak.

Selain tak bisa dimanipulasi dengan uang, jabatan, atau semacamnya, orang-orang ikhlas semacam itu juga tidak bisa dihalang-halangi, dan tak bisa dihentikan. Jika dia ingin melakukan, dia akan melakukan. Halangi jalannya, dia akan mencari jalan lain. Letakkan batu sandungan, dia akan melompatinya. Orang yang melakukan sesuatu karena ingin melakukan, tidak bisa dihalangi dan tidak bisa dihentikan. Itulah orang paling kuat di dunia, yang melakukan sesuatu dengan keikhlasan, tanpa pamrih, tanpa tendensi.

Dalam rangkaian kata-kata yang inspiratif, Mario Teguh pernah menceritakan perempuan tua yang melakukan sesuatu karena memang ingin melakukannya. (Rangkaian kata-kata itu sudah saya baca cukup lama, dan saya tuturkan kembali di sini berdasarkan ingatan semata. Mohon maaf kalau ada bagian yang kurang akurat).

Ceritanya—sebagaimana yang ditulis Mario Teguh—ada seorang perempuan tua yang biasa menyapu jalan di komplek perumahannya menjelang subuh. Sendirian, tanpa diketahui siapa pun, dia menyapu dan membersihkan jalanan. Selama waktu-waktu itu, orang-orang di komplek kadang mendengar suara-suara aneh di jalan, tapi mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di depan rumah mereka. Yang mereka tahu, setiap pagi, jalanan komplek telah bersih.

Pagi hari, seusai subuh, petugas kebersihan datang ke komplek perumahan itu, untuk mengambil dan mengakuti sampah. Mereka mendapati sampah-sampah telah ditumpuk dan dikumpulkan rapi, sehingga para petugas tidak perlu repot, dan mereka mengira penduduk komplek itu yang melakukannya. 

Jadi, para penduduk mengira para petugas kebersihan yang membersihkan komplek mereka hingga sangat bersih, sementara petugas kebersihan mengira orang-orang di komplek itu sangat rajin membersihkan lingkungannya. Tidak ada yang tahu, seorang perempuan tua melakukan hal itu saat orang-orang lain sedang terlelap—tanpa pamrih, tanpa tendensi, bahkan tanpa ingin diketahui. 

Namun, karena penduduk di komplek itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, muncul rumor macam-macam akibat suara-suara aneh yang sering mereka dengar waktu dini hari. Suara-suara aneh itu cukup membuat warga ketakutan, hingga mereka tidak ada yang berani keluar. Sampai kemudian, rumor itu terdengar seorang wartawan, yang lalu berniat menyelidikinya.

Si wartawan mendatangi komplek tersebut, berjaga di suatu tempat tersembunyi, untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di sana. Pada pukul 2 dini hari, sesosok perempuan tua muncul dengan sapu dan gerobak. Ia menyapu dan membersihkan komplek perumahan itu, mengumpulkannya dengan rapi, hingga petugas kebersihan tinggal mengangkutnya saat mereka datang di pagi hari. 

Si wartawan pun kemudian memahami bahwa “suara-suara aneh” yang didengar warga setiap dini hari adalah gesekan sapu dan gerobak si perempuan tua, dan rupanya dialah yang selama ini telah membersihkan komplek itu tanpa diketahui siapa pun. Si wartawan berniat menulis kisah itu di korannya. Si perempuan tua mengizinkan, namun dia tidak ingin identitasnya diungkap di koran.

Sekarang, jika kita bertanya kenapa perempuan tua itu mau bangun di tengah malam, lalu menyapu komplek perumahannya hingga bersih, kita tidak akan menemukan jawaban apa pun, selain karena dia memang ingin melakukannya! Dia tidak ingin mendapatkan uang, tidak berharap jabatan atau penghargaan, dia bahkan melakukannya ketika orang-orang lain sedang terlelap, hingga tidak ada yang tahu dialah yang melakukan. Dia hanya melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya. Semudah itu, sesederhana itu.

Dan itulah yang disebut manusia. Ketika kebaikan dilakukan semata karena itu baik, tanpa berharap pujian, penghargaan, ataupun pamrih agar terkenal. 

Kenapa kita sepertinya tidak bisa menerima konsep sederhana tapi mulia semacam itu...? Kenapa kita harus selalu berpikir apa keuntungan yang kita dapatkan jika melakukan sesuatu? Lebih ironis lagi, mengapa kita selalu curiga pada orang lain yang melakukan sesuatu karena memang ingin melakukannya?

Karena itulah, Pak Pra sampai marah ketika ada mahasiswanya yang mempertanyakan apa motivasinya ketika dia menyepi dan bertirakat di masa mudanya. Pak Pra tidak hanya marah karena keikhlasannya dipertanyakan, tetapi juga karena muak menyaksikan generasi abad ini telah begitu berjarak dengan ketulusan, asing dengan keikhlasan. Segalanya dengan pamrih, dengan tendensi—dari berharap imbalan uang, sampai ingin masuk koran dan terkenal. 

Kita telah berubah menjadi rayap-rayap yang menggerogoti kemanusiaan kita sendiri. Kita sudah malih rupa menjadi lintah-lintah yang mengisap nurani kita sendiri. Proses itu mungkin berlangsung pelan, diam-diam, tanpa disadari. Tetapi peradaban dan gaya hidup yang kita jalani terus mengubah identitas dan nurani kita, hingga pelan-pelan kita tidak lagi menjadi manusia. Kita mulai asing dengan ketulusan, mulai berjarak dengan keikhlasan, hingga apa pun yang kita lakukan selalu dilandasi pamrih dan tendensi, pamrih dan tendensi, pamrih dan tendensi.

Di tengah-tengah rusaknya Gotham City yang dicengkeram pemerintahan korup dan masyarakat bobrok, seorang milyuner bernama Bruce Wayne mengenakan jubah dan topengnya untuk menjadi Batman. Di belantara New York yang disesaki gedung-gedung tinggi pencakar langit yang individualis dan materialistis, seorang pemuda miskin bernama Peter Parker mengenakan kostum untuk menyembunyikan identitasnya, dan menjadi Spiderman.

Ketika melakukan kebajikan dan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama, Bruce Wayne maupun Peter Parker tidak mengharapkan uang atau imbalan, pun tidak ingin masuk televisi agar terkenal, tetapi semata karena ingin melakukannya—menyadari bahwa mereka harus melakukannya. Di mata saya, mereka bukan hanya pahlawan, bukan sekadar superhero. Mereka adalah manusia yang sedang mengingatkan kita untuk kembali menjadi manusia.

2015-01-05

Hidup Adalah Soal Pilihan

Begitu banyak pilihan dalam hidup, tidak hanya hitam dan putih. Ada hijau, abu-abu, biru, merah, kuning dan masih banyak lagi.
~Bayu

Hari ini saya memulai pekerjaan baru di suatu lembaga Pemerintahan setelah sebelumnya saya bekerja di salah satu ritel di daerah kota Jakarta. Sebelumnya banyak yang menilai bahwa keputusan saya kali ini sangat gegabah. Bagaimana tidak, saya resign dari pekerjaan lama sudah lebih satu bulan yang lalu dan mulai bekerja lagi di pekerjaan yang baru, hari ini. Dengan kata lain, saya sudah hampir satu bulan lebih menjadi pengangguran. Selain itu,  menurut mereka yang menganggap saya gegabah, oleh karena pekerjaan yang saya geluti kemarin merupakan pekerjaan yang santai dan sedang trend saat ini (yaitu berdagang). Selain itu menurut mereka, selain gaji pokok yang saya terima, saya juga akan mendapatkan uang sisihan apabila target dalam berdagang saya sudah memenuhi (uang insentif). Ouh well, mereka sebenarnya tidak tahu dan mengetahui apa yang saya hadapi di pekerjaan saya kemarin. Tapi biarlah, orang lain berkomentar dan kita yang menjalani. Itulah yang disebut sosial dan bermasyarakat. 

Menurut saya masalah pekerjaan adalah pilihan. Saya memilih dari posisi nyaman ke ~posisi yang kurang nyaman. Dari banyak teman yang saya kenal di pekerjaan lama, ke~ kurang atau belum kenal di pekerjaan baru. Dari yang deket dari pacar ke~ jauh dari pacar. Semuanya adalah masalah pilihan hidup. Ada yang memilih untuk pekerjaan menantang, karena mungkin dia senang akan tantangan. Ada yang memilih menjadi orang terkenal, karena mungkin dia ingin popularitas. Ada yang memilih hidup menyendiri, karena mungkin dia ingin tenang dari keramaian dunia. Jadi semua itu soal pilihan. Seperti halnya saya yang memilih pekerjaan baru yang menurut saya menantang, ada beberapa teman saya di bawah ini yang mungkin patut diceritakan soal pilihan hidupnya yang menurut saya nyeleneh. Mereka memilih untuk tidak terkenal disaat mereka memiliki potensi sebagai orang terkenal. Dan saya bangga mengenal mereka. Karena mereka orang terkenal yang tidak dikenal.

Yang pertama adalah Adityawarman (bukan nama sebenarnya). Dia adalah lelaki misterius, bagi sebagian orang. Dia sering menulis artikel berisi pemikiran-pemikirannya di media massa, juga menerbitkan beberapa buku. Di luar itu, dia bekerja di lembaga litbang milik suatu organisasi. Yang menjadikannya misterius, dia tidak pernah muncul ke hadapan publik, bahkan fotonya bisa dibilang tidak pernah ada di media mana pun. Padahal namanya populer untuk bidang ilmu yang digelutinya.

Saya mengenalnya secara pribadi. Dia lelaki yang baik, ramah, dan biasa menjalani hidup seperti umumnya orang lain. Di hari Minggu, saat orang-orang di kompleknya bekerja bakti, dia ikut kerja bakti. Di waktu senggang, dia mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di depan rumahnya sendiri. Sore hari, sehabis bekerja, dia kadang duduk merokok di teras rumah, membalas sapaan ramah para tetangga yang kebetulan lewat. Pendeknya, dia lelaki biasa, seperti umumnya orang kebanyakan.


Suatu hari, seorang teman yang bekerja sebagai wartawan ingin menemuinya. Dia ditugaskan korannya untuk mewawancarai Adityawarman, lengkap dengan foto profil. Si wartawan telah mencoba mendatangi tempat kerja Adityawarman, namun dia diusir oleh sekuriti yang menjaga di sana. Berkali-kali dia mencoba, berkali-kali dia gagal. Kemudian, dia tahu kalau saya mengenal Adityawarman secara pribadi. Jadi dia menemui saya, dengan harapan saya mau menemaninya ke rumah Adityawarman langsung untuk mewawancarainya.


Sebagai teman, saya menemani wartawan itu berkunjung ke rumah Adityawarman, suatu malam. Adityawarman menerima kami dengan ramah, bahkan dia sendiri yang membuat dan mengantarkan minuman untuk kami. Setelah itu, dengan keramahan seorang tuan rumah, Adityawarman bercakap-cakap dengan kami, dengan senyum dan tawanya yang menyenangkan—khas orang kebanyakan.


Setelah cukup mengobrol basa-basi, si wartawan menyatakan tujuannya, bahwa dia ditugaskan korannya untuk mewawancarai Adityawarman, plus mendapatkan foto profil. Dengan suara datar, Adityawarman berkata, “Aku senang berteman dengan siapa pun, termasuk dengan wartawan, sepertimu. Tetapi, aku benar-benar tidak ingin, dan tidak berminat, masuk ke koranmu atau koran mana pun. Aku ingin menjalani kehidupan pribadiku seperti sekarang ini—menjadi orang biasa—dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusiknya.” 

Sebenarnya, saya sudah tahu hasilnya akan seperti itu. Dari dulu, Adityawarman memang tidak pernah mau diwawancarai koran, majalah, televisi, atau media apa pun. Dia tidak menyukai publisitas, khususnya menyangkut pribadi. Kenyataan itulah yang menjadikan sosoknya terkesan misterius bagi sebagian orang. Padahal, bagi orang-orang yang mengenalnya, dia sama sekali tidak misterius. Dia hanya orang biasa yang ingin tetap menjalani kehidupan sebagai orang biasa.   

“Popularitas itu candu,” kata Adityawarman suatu kali. “Sekali kau mendapat popularitas, kau tidak akan bisa melepasnya lagi, bahkan ingin terus menambah dosisnya.”

Saya setuju dengan tesis itu. Jika kita mau memperhatikan, jutaan orang di sekeliling kita melakukan segala upaya demi bisa terkenal. Di dunia maya, misalnya, mereka mengumbar kehidupan dan kesehariannya, memamerkan foto-foto dan aktivitasnya, bahkan sampai ada yang bertingkah konyol dan tak masuk akal demi bisa terkenal. Sementara yang sudah terkenal masih bertingkah aneh-aneh demi mendapat liputan media, disorot kamera, dan agar terus diperbicangkan. 

Popularitas itu candu. Sekali kau mendapatkannya, kau tidak akan bisa melepasnya, bahkan ingin terus menambah dosisnya. Dalam keadaan “sakaw”, orang rela melakukan apa pun demi mengatasi kecanduannya, demi bisa terus populer.

Yang kedua adalah Anita (bukan nama sebenarnya). Dia adalah penulis novel laris. Sejak awal, dia mengaku, dia hanya ingin menulis—sesuatu yang disukainya. Karenanya, ketika novelnya bestseller, dia hanya menganggapnya sebagai bonus. Tak jauh beda dengan Adityawarman, Anita juga menolak untuk tampil di depan publik. Di semua bukunya juga tidak ada foto apa pun. Bukan apa-apa, tetapi semata karena ingin tetap tak dikenal. Dia hanya ingin menulis, bukan ingin terkenal.

Bahkan saat novelnya difilmkan pun, Anita tetap menolak untuk muncul. Pada waktu itu, seperti umumnya penulis lain, Anita juga diburu reporter yang ingin mewawancarai sehubungan novelnya yang akan difilmkan. Tapi Anita tak pernah bersedia. Dia mewanti-wanti penerbitnya untuk tidak memberikan alamat atau nomor ponselnya kepada siapa pun, dan... puji Tuhan, penerbitnya bisa menjaga privasi Anita. 

Salah satu “adat” perfilman di Indonesia adalah menggelar syukuran untuk film yang akan dibuat. Novel Anita yang akan difilmkan juga menjalani “ritual” yang sama. Produser menggelar syukuran, dan biasanya pihak-pihak yang terlibat akan datang untuk ikut merayakan—dari penerbit, penulis, kru film, sampai para artis yang akan memerankan. Tetapi, bahkan dalam acara sepenting itu pun, Anita tetap tidak muncul, padahal dia seharusnya menjadi bintang utama. Jadi, ada beribu-ribu orang yang pernah membaca novel Anita, ada beribu-ribu orang yang telah menonton film yang diadaptasi dari novelnya, tapi beribu-ribu orang itu tidak pernah tahu seperti apa sosok Anita. Satu-satunya profil Anita hanya terdapat pada sebuah majalah kurang terkenal, yang berisi sekilas wawancara dengannya. Belakangan, Anita mengakui, dia mau diwawancarai majalah itu karena si reporter adalah temannya sendiri. “Aku tidak enak jika harus menolak,” dia menceritakan.

Dan seperti apakah sebenarnya sosok Anita?

Saya mengenalnya secara pribadi di kampus tempat saya kuliah dulu, dan di mata saya dia perempuan dengan wujud sempurna. Selebihnya, Anita adalah sosok biasa—bukan artis, bukan selebritas, bukan orang terkenal—hanya perempuan biasa seperti umumnya. Memang benar dia sangat cantik—sosok yang sangat layak untuk menjadi santapan kamera—tapi dia tidak menginginkan. Selfie dan pamer tidak termasuk bagian kesibukannya, karena dia memang tak ingin dikenal.

Kadang, ada orang menyangka Anita sosok yang sombong, atau terkesan eksklusif. Padahal tidak seperti itu kenyataannya. Dia memang menutup diri dari publik, semata karena memang tak ingin dikenal. Sebagai pribadi, dia sosok yang ramah dan asyik, tapi dia ingin dikenal sebagai Anita, sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai sosok terkenal atau semacamnya. Dia tidak menyukai publisitas mengenai dirinya.

Pernah, kami keluyuran di Malioboro, kemudian mampir ke kantin tempat lesehan di sekitaran Malioboro karena kelaparan. Di kantin, Anita dan saya berdesak-desakan dengan banyak orang yang juga akan makan siang. (Kalian yang tahu kondisi Malioboro pasti paham yang saya maksudkan). Hampir bisa dibilang tidak akan ada orang terkenal yang berani makan di sana, karena masing-masing orang saling berdekatan ketika makan. 

Karena kami bukan orang terkenal, kami pun enjoy makan di sana, berdampingan dan berhadapan dengan banyak orang yang juga sedang makan siang. Sehabis makan, saya nyaris tertawa geli. Perempuan yang bersama saya waktu itu adalah sosok yang namanya sangat terkenal, dikagumi banyak orang, yang novelnya dinikmati beribu-ribu pembaca di Indonesia. Tetapi, siang itu, dia duduk menemani saya makan dengan ekspresi santai, sementara orang-orang berlalu-lalang di sekitar kami tanpa mengenalnya sama sekali. 

....
....

Tidak semua orang ingin terkenal. Kenapa kenyataan yang sebenarnya sangat sederhana itu tampak sulit dipahami?. Sekali lagi, hidup ini adalah soal pilihan.

Dunia kita dibangun oleh berbagai hal yang berpasangan. Ada hitam, ada putih. Ada atas, ada bawah. Ada pintar, ada bodoh. Ada kaya, ada miskin. Ada luar, ada dalam. Bahkan ada materi, dan ada antimateri. Karenanya sangat wajar kalau ada orang yang ingin terkenal, dan ada pula orang yang tidak ingin terkenal. Jadi, kenapa kenyataan yang sangat sederhana itu sepertinya sulit dimengerti?

Kita, tampaknya, terlalu terbiasa dengan orang-orang yang ingin terkenal. Sebegitu terbiasa, hingga kita merasa asing saat mendapati ada orang yang sebaliknya. Kita mungkin telah terbiasa dengan orang-orang yang sibuk pamer apa pun dengan heboh. Sebegitu terbiasa, hingga kita sulit menerima ada orang yang memilih untuk menyepi dan menyisih. Kita mungkin terlalu terbiasa dengan aktivitas selfie, unjuk diri, dan hal-hal konyol para selebriti. Sebegitu terbiasa, hingga kita sulit memahami saat ada orang yang justru menjauh dari publikasi.

Sebagian orang ingin terkenal—tidak masalah, itu hak dan pilihan setiap orang. Namun, jangan lupa, sebagian orang yang lain juga memiliki hak yang sama, misalnya memilih untuk tidak dikenal. Karena sekali lagi, hidup ini adalah pilihan.

2014-12-28

Egoisme Dalam Expendables

“Aku punya ide. Dan dengan egomu, kurasa kau akan menyukainya.”
Barney Ross kepada Lee Christmas dalam Expendables 2


Penggemar film action pasti tahu The Expendables, film yang dibintangi bocah-bocah terkenal Hollywood. Sejak pertama kali dirilis, The Expendables telah menjadi film laris—tidak hanya karena kedahsyatan aksi dalam ceritanya, tapi juga karena aktor-aktor yang terlibat. Nama-nama besar bergabung dalam film ini—Sylvester Stallone, Jason Statham, Arnold Schwarzenegger, Jet Li, Dolph Lundgren, Van Damme, Wesley Snipes, Chuck Norris, Bruce Willis, sampai Mel Gibson, dan lain-lain.

The Expendables adalah proyek Sylvester Stallone yang ingin membuat “film reuni”, yang mempertemukan bocah-bocah terkenal Hollywood dalam satu film. Proyek itu tampaknya berhasil, hingga The Expendables—sejauh ini—telah dibuat tiga seri. Saya termasuk penggila serial Expendables, dan selalu menikmati saat menontonnya. Oh, well, menyaksikan Stallone duel satu lawan satu dengan Van Damme (dalam Expendables 2) adalah kesempatan yang belum tentu terulang dalam seratus tahun!

Di mata saya, Expendables adalah film yang dibuat oleh bocah, diperankan para bocah, dan ditujukan untuk bocah. Para penonton The Expendables—khususnya yang lelaki—pasti masih ingat keasyikan di masa kecil dulu, ketika main perang-perangan dengan teman-teman, tembak-tembakan menggunakan pistol air atau senjata mainan, sampai bertarung main-main dengan teman-teman. Semua keasyikan masa kecil itu diwujudkan The Expendables dalam skala spektakuler.  

Jalan cerita serial Expendables bisa dibilang hanya berisi perang, pertempuran, pertarungan, ledakan, tembak-tembakan. Dan semuanya dikemas dengan sangat memukau, melibatkan banyak senjata, pesawat dan helikopter tempur, sampai tank. Semua yang terjadi dalam Expendables bisa dibilang merefleksikan bayangan keasyikan para bocah. Tidak ada drama bertele-tele yang membosankan, tidak ada percakapan sia-sia, yang ada hanya perang, pertarungan, dan ledakan. 

Jika kita memperhatikan sungguh-sungguh percakapan antar tokoh dalam The Expendables, kita akan mendapati dialog yang selalu muncul dalam setiap serinya. Percakapan atau dialog itu berbunyi, 

“Did you win?” 


“Of course I win.”

Ada kisah tersembunyi di balik percakapan itu, yang berhubungan dengan tokoh-tokoh dalam Expendables. Ketika Stallone berencana membuat The Expendables pertama kali, dia meminta Steven Seagal untuk ikut dalam film. Rencananya, Steven Seagal akan diminta memerankan James Munroe, tokoh antagonis dalam Expendables 1. Namun, Steven Seagal menolak mentah-mentah. Tahu kenapa? Alasannya mungkin lucu—karena James Munroe kalah dalam film! 

Setelah Steven Seagal menolak mentah-mentah, Stallone lalu menghubungi Van Damme, dan berharap aktor terkenal itu bersedia masuk dalam film Expendables 1 untuk memerankan James Munroe. Tetapi, sama seperti Steven Seagal, Van Damme juga menolak. Dan alasannya juga sama—karena James Munroe kalah dalam film! 

Karena dua bocah terkenal itu tidak mau menerima tawarannya, pilihan Stallone kemudian jatuh ke Eric Roberts, aktor yang sering menjadi antagonis. Eric Roberts bersedia memerankan James Munroe, maka Expendables 1 pun mulai syuting. Hasilnya, ketika dirilis, film itu meledak dan menghasilkan keuntungan besar. 

Lalu proyek Stallone berlanjut dengan membuat Expendables seri kedua. Jika Expendables 1 memunculkan James Munroe sebagai antagonis, Expendables 2 menghadapi musuh yang lebih kuat—bajingan keji bernama Jean Villain. Untuk seri kedua tersebut, Stallone menemui Steven Seagal, dan mencoba kembali memintanya untuk ikut dalam film Expendables.

Kali ini, Stallone berharap Seagal bersedia, karena peran yang akan dimainkannya tidak main-main, dan mereka akan bertarung satu lawan satu, hidup atau mati. Steven Seagal bertanya, “Apakah aku akan menang dalam film?”

“Tidak,” jawab Stallone. “Kau berperan sebagai Villain, dan dia mati di akhir film.”

Mendengar jawaban itu, Steven Seagal menolak.

Karena Seagal kembali menolak tawarannya, Stallone pun menemui Van Damme, seperti sebelumnya, dan berharap Van Damme kali ini mau menerima tawarannya. Karena melihat kesuksesan Expendables 1 yang luar biasa, Van Damme akhirnya bersedia menerima tawaran Stallone. Meski tokoh yang diperankannya akan kalah dan mati di akhir film, Van Damme kali ini tidak keberatan. Tawaran bayaran besar rupanya mampu menurunkan ego seorang Van Damme.

Maka jadilah Van Damme membintangi Expendables 2, dan memerankan Jean Villain. Di akhir film, seperti yang dapat kita saksikan, Stallone dan Van Damme bertarung sampai mati, dan itu menjadi salah satu pertarungan paling memukau yang pernah ada di Hollywood. Kapan lagi kita bisa melihat Van Damme memamerkan tendangan memutarnya yang mematikan itu, tepat di hadapan muka Sylvester Stallone?

Karena aksi yang lebih dahsyat dari film sebelumnya, Expendables 2 juga sukses, bahkan mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar. Lalu Stallone melanjutkan proyeknya, dan menyiapkan Expendables 3. Kali ini, jumlah tokoh yang terlibat semakin banyak, bahkan melibatkan Wesley Snipes, Antonio Banderas, hingga Harrison Ford. Seperti sebelum-sebelumnya, Stallone kembali berharap Steven Seagal mau ikut terlibat.

Ketika Expendables 3 telah siap syuting, Stallone masih berusaha merayu Steven Seagal untuk mau membintangi film tersebut. Beberapa kali, Stallone bahkan sempat menuliskan upayanya itu di akun Twitter-nya, bahwa dia sedang membujuk Seagal agar mau ikut dalam Expendables 3. Namun, Seagal rupanya tidak terbujuk. Ia masih menolak dengan alasan yang sama—karena tokoh yang diperankannya kalah dalam film. Intinya, Steven Seagal tidak mau kalah, meski hanya dalam film!

Akhirnya, karena Seagal tetap tidak mau ikut dalam Expendables 3, Stallone lalu menghubungi Mel Gibson. Hasilnya, seperti yang kita lihat, Mel Gibson bersedia memerankan tokoh Conrad Stonebanks, antagonis dalam Expendables 3. Di akhir film, sama seperti para antagonis sebelumnya, Conrad Stonebanks a.k.a Mel Gibson juga kalah dan mati setelah bertarung dengan Barney Ross yang diperankan Stallone.

Jika kelak Stallone membuat Expendables 4, dan ia kembali meminta Steven Seagal untuk ikut membintanginya, apakah mungkin Seagal akan bersedia? Bila tokoh yang diperankannya juga kalah dalam film, banyak pihak meramalkan Seagal akan tetap menolak. Penolakan Steven Seagal dan Van Damme sebelumnya itulah yang kemudian memunculkan dialog “Did you win?/Of course I win” dalam film. Dialog itu sebenarnya ditujukan untuk menyindir Steven Seagal dan Van Damme, yang menolak main film hanya karena tokoh yang diperankannya kalah.

Mungkin banyak orang menilai tingkah Van Damme dan Steven Seagal terlalu kekanak-kanakan, bahkan terkesan tidak profesional. Mungkin ya. Kenyataannya, dua bocah itu memiliki ego yang sama-sama besar—tidak hanya dalam film, tetapi juga di dunia nyata. Bahkan latar penolakan mereka untuk tidak mau terlibat dalam proyek Expendables, juga diperkirakan berawal dari kejadian di dunia nyata.

Pada 1997, Sylvester Stallone mengadakan pesta di rumahnya, di Miami, dan mengundang bocah-bocah terkenal Hollywood. Steven Seagal dan Van Damme termasuk tamu yang diundang. Dalam pesta, orang-orang bercakap asyik, bercanda, tertawa-tawa, bahkan saling ledek. Pada waktu itu, Steven Seagal meledek Van Damme dengan mengatakan bahwa dia “bisa menendang pantat Van Damme dengan mudah”.

Entah karena tidak paham ucapan itu hanya bergurau atau karena memang muka Seagal yang terlalu lempeng, Van Damme marah. Dengan emosi, Van Damme menantang Steven Seagal dengan menyatakan, “Bagaimana kalau kita keluar, untuk membuktikan omong besarmu?”

Menyadari Van Damme marah, Seagal buru-buru menjelaskan bahwa ucapannya tadi hanya dimaksudkan sebagai gurauan. Tetapi, Van Damme sudah telanjur emosi, dan nyaris terjadi perkelahian dalam pesta, sampai Stallone turun tangan memisahkan kedua bocah itu agar tidak berantem. Kejadian itu pun membuat geger orang-orang yang ada di sana. Sampai pesta berakhir, Van Damme maupun Seagal masih belum bisa tersenyum.

Apakah kisah itu selesai? Tidak—belum, karena kemudian Van Damme berkoar-koar ke media mengenai tantangannya kepada Steven Seagal. Dalam beberapa wawancara, Van Damme dengan jelas mengungkapkan kekesalannya kepada Seagal, bahkan mengejek Seagal yang kini mulai gendut karena jarang berlatih. 

Seagal lebih memilih tutup mulut dan tidak melayani koar-koar Van Damme di media. Dia menolak setiap kali diwawancara mengenai keributannya dengan Van Damme. Dan bagaimana dengan Stallone? Ketika ditanya pers, mengenai siapa yang akan menang jika kedua bocah itu bertarung, Stallone menjawab diplomatis, “Van Damme terlalu kuat untuk dikalahkan Seagal.”

Banyak pihak mempercayai bahwa insiden di rumah Stallone itulah yang kemudian berbuntut panjang, hingga kedua aktor terkenal itu sampai menolak ikut dalam proyek Expendables, jika tokoh yang diperankannya kalah dalam film. Steven Seagal maupun Van Damme memiliki ego sangat besar—mereka sama-sama terkenal, telah bermain dalam banyak film, populer sebagai jago tarung, dan... sejauh ini keduanya bisa dibilang tidak pernah kalah dalam film. 

Ego adalah urusan penting di Hollywood—tidak hanya dalam film, tapi juga dalam kehidupan nyata. Sebagian besar bocah terkenal di Hollywood memiliki “kegilaan” yang berhubungan dengan ego. Bahkan Stallone pun mengidap “kegilaan” yang sama.

Dulu, ketika masih muda, Stallone dikenal sebagai aktor yang sangat angkuh, dengan ego luar biasa besar. Ketika bermain film, dia tidak mengizinkan lawan mainnya menatap matanya. Jika lawan mainnya nekat menatap matanya, Stallone marah-marah, dan jadwal syuting akan berantakan. Meski dalam skenario jelas mengharuskan adegan saling tatap, Stallone tidak peduli. Akibatnya, dalam proses syuting, adegan saling tatap di-shoot secara terpisah. Awak film di sana mau mengalah, meski repot, karena waktu itu Stallone “barang jualan” yang pasti laku.  

“Kegilaan” Stallone mulai sembuh ketika usianya makin matang, dan mungkin dia bisa lebih bijak serta rendah hati. Di film-filmnya sekarang, dia tidak lagi mempersoalkan urusan yang dulu diributkannya. Tetapi, apakah Stallone benar-benar telah mampu mengalahkan egonya sendiri?  

Dalam trilogi Expendables, Sylvester Stallone memerankan tokoh Barney Ross, ketua kelompok jagoan yang selalu menang dalam pertempuran. Dalam film-film itu, Stallone bertarung dengan lawan-lawan yang tangguh—dari Eric Roberts, Van Damme, sampai Mel Gibson—dan dia selalu menang. 

Apakah kemenangan Stallone dalam film-film itu memang semata tuntutan skenario? Semoga saja begitu. Karena sangat ironis dan lucu jika serial Expendables ternyata hanya cara Stallone memanjakan egonya yang masih membatu.

2014-12-27

10 Buku Terbaik Yang Saya Baca di 2014

Buku yang bagus serupa teman. Ia tahu membuatmu
tersenyum, dan seiring dengan itu membukakan pengetahuan
dan kesadaran. Pun kadang kearifan.
Bayu


Saya ingin berbagi buku-buku terbaik yang saya baca, fiksi maupun nonfiksi. Daftar berikut tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi, namun murni apresiasi—yang tentu bisa subjektif—atas buku-buku yang saya anggap terbaik. Berikut ini, tertulis secara alfabetis berdasarkan nama-nama penulisnya, 10 buku yang saya anggap terbaik dari semua buku yang saya baca sepanjang 2014. Silakan disimak.

Gary Allen: The Rockefeller’s File


John D. Rockefeller mendirikan Standard Oil Co pada satu abad yang lalu, dan perusahaan minyak itu kemudian tumbuh menjadi perusahaan raksasa, bahkan paling besar di dunia. Sebagai perusahaan besar, Standard Oil telah menghadapi aneka tuduhan monopoli, bertarung dengan pengadilan, melibatkan banyak penulis untuk berperang lewat propaganda, sampai terlibat dalam wilayah abu-abu yang kelak melahirkan tak terhitung banyaknya teori konspirasi. 

Setelah Rockefeller Tua meninggal, perusahaan itu diwarisi anak-anaknya, dan para pewaris melanjutkan serta membesarkannya hingga makin meraksasa.

Seratus tahun kemudian, Standard Oil Co telah melahirkan ratusan industri lain, meliputi perbankan, farmasi, asuransi, kesehatan, surat kabar—sebut apa pun. Sekadar ilustrasi, Chase Manhattan Bank adalah bank internasional yang dimiliki keluarga Rockefeller. Bank tersebut memiliki 28 kantor cabang sendiri di luar negeri, dan memiliki 50.000 kantor cabang koresponden di seluruh dunia.

Bisa dibayangkan sebesar apa pengaruh dan kekuasaan mereka? Lima puluh ribu bank koresponden di seluruh dunia! Jika setiap bank koresponden tersebut hanya memiliki 10 juta dollar saja, maka Chase Manhattan Bank memiliki kekayaan sebesar 500 miliar dollar di seluruh dunia. Dengan kekayaan sebesar itu, maka Chase Manhattan Bank, di bawah kendali keluarga Rockefeller, bisa menciptakan krisis moneter internasional kapan saja dalam waktu semalam, semudah kita membalikkan telapak tangan!

Berdasarkan standar apa pun, Chase Manhattan Bank tak ubahnya sebuah negara yang berkuasa, bahkan memiliki kekayaan lebih besar dibanding sebagian negara lain. David Rockefeller, salah satu anak Rockefeller Tua, biasa nyangkruk dengan para presiden, bahkan dikabarkan pengaruhnya lebih besar dari presiden Amerika.

Itu baru dari industri perbankan, dan estimasi yang digunakan adalah perkiraan paling rendah. Sementara keluarga Rockefeller memiliki banyak industri lain, dengan jumlah uang yang juga luar biasa besar. 

Buku ini memaparkan sepak terjang keluarga Rockefeller, industri dan gurita bisnisnya, kekayaan mereka, serta pengaruh dan keterlibatan mereka dalam berbagai kebijakan dan masalah dunia. Selama membacanya, saya terus-menerus tercengang, geleng-geleng kepala tak percaya. Membayangkan sekelompok bocah memiliki kekayaan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan negara, benar-benar membuat sakit kepala.



Ita F. Nadia: Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65


Rusminah berusia 20 tahun, ketika dijodohkan dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya. Pada 1960, Rusminah baru tamat Sekolah Guru di Malang, dan waktu itu sedang menunggu penempatan sebagai guru. Ketika orangtuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan anak orang yang dianggap terpandang, Rusminah tidak kuasa menolak. Maka mereka pun menikah.

Setelah menikah, Rusminah mengajar di Sekolah Rakyat di desanya, di Malang. Pernikahannya telah berlangsung selama lima tahun, dan bisa dibilang tidak ada masalah apa-apa, selain kenyataan bahwa mereka belum memiliki anak. Suami Rusminah aktif di PKI (Partai Komunis Indonesia), dan aktivitas itu menjadikannya jarang di rumah. Rusminah sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan suaminya. Jika ditanya, suami Rusminah tidak pernah menjelaskan, selain menjawab, “Aku nyambut gawe kanggo wong cilik—aku bekerja untuk orang kecil.”

Jadi, praktis bisa dibilang Rusminah sama sekali tidak tahu apa-apa tentang PKI, tidak tahu apa yang dilakukan suaminya dalam aktivitas bersama PKI, tidak tahu apa saja kegiatan PKI. Tapi sejarah kemudian menghancurleburkan hidupnya dengan sangat brutal.

Pada 1 Oktober 1965, Rusminah mengajar di sekolah sampai pukul 10:00 pagi, karena sekolah dipulangkan awal akibat “terjadi peristiwa penting di Jakarta”. Waktu itu sarana informasi belum semaju sekarang, jadi Rusminah sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di Jakarta, hingga sekolahnya dipulangkan awal. Dia bahkan tidak tahu suaminya ada di mana waktu itu, karena telah pergi sejak 25 September dan belum pulang atau memberi kabar.

Tidak lama setelah sampai di rumah, Rusminah dikejutkan oleh segerombolan orang yang mendatangi rumahnya. Mereka mencari suaminya. Karena tidak menemukan yang dicari, orang-orang itu membakar rumah Rusminah, dan menangkap wanita itu, lalu melemparkannya ke truk bersama beberapa orang lain yang telah ditangkap sebelumnya. Awal penderitaan Rusminah pun dimulai.

Selama dalam penangkapan, Rusminah disiksa, dianiaya secara fisik dan mental, diperkosa banyak orang, direndahkan, dan semua perlakuan tak manusiawi itu hanya karena dituduh terlibat dalam PKI, padahal dia sama sekali tidak tahu apa pun tentang PKI. 

Kisah lara yang dialami Rusminah hanyalah satu di antara sekian banyak kisah serupa yang terjadi selama pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Mereka orang-orang tak bersalah, yang tidak tahu apa-apa, tapi kemudian ditangkap, disiksa, dianiaya secara brutal, bahkan dibunuh secara keji, tanpa pembuktian jelas apakah mereka benar-benar bersalah atau tidak. Itu kisah-kisah yang tidak pernah ada dalam buku-buku sejarah Indonesia yang dicekokkkan kepada kita di bangku sekolah. 

Suara Perempuan Korban Tragedi ’65 memuat kisah-kisah nyata yang sangat tragis dan getir—sebagian bahkan biadab—yang dituturkan langsung oleh wanita-wanita yang menjadi korban dalam tragedi sejarah 1965. Tentu saja buku ini tidak memuat semua kisah yang ada, tetapi sepuluh kisah nyata yang dirangkum buku ini bisa menjadi ilustrasi betapa mengerikannya sejarah bangsa kita.


John Grisham: The Innocent Man


A Time to Kill, novel pertama Grisham, langsung menyedot perhatian banyak pembaca di dunia, termasuk saya. Setelah itu, Grisham menulis novel-novel lain yang tak kalah mengasyikkan—The Pelican BriefThe FirmThe Client, serta lainnya—yang makin membuat pembaca kecanduan cerita-ceritanya. Semua kisah yang ditulis Grisham melibatkan dunia hukum, khususnya pengacara, dan cerita yang dibangunnya selalu tegang, mendebarkan.

Tetapi, makin ke sini, novel-novel Grisham makin berkurang efek ketegangannya. Entah hanya saya yang merasakan, atau pembaca lain juga berpikir seperti itu. Saya masih mencoba menikmati The RainmakerThe TestamentThe Runaway JuryThe SummonsThe PartnerThe BrokerThe Last JurorThe Brethren, jugaThe Street Lawyer, dan lainnya, tapi makin lama saya makin kehilangan gairah pada novel-novel Grisham. Tampaknya, pikir saya, Grisham telah kehilangan sentuhan suspense-nya. Judul-judul novel yang saya sebut barusan bisa dibilang jauh berbeda dengan novel-novel awalnya yang sangat menegangkan.

Lama-lama, Grisham bahkan seperti terjebak menjadi penulis drama. The Rainmaker, misalnya, lebih tepat disebut novel drama daripada novel suspense. Begitu pula The TestamentThe Summons, atau The Street Lawyer—novel-novel itu tidak memiliki unsur suspense sama sekali. Ceritanya datar, jauh dari kesan menegangkan apalagi mencekam. Karena berpikir Grisham tidak lagi menulis suspense, saya pun berhenti membaca novel-novelnya.

Sampai kemudian, muncul The Innocent Man. Saya tertarik membaca novel ini, karena diangkat dari kisah nyata. The Innocent Man juga tidak bisa disebut novel suspense, tapi inilah novel Grisham yang lain dari yang lain. Dalam novel ini, Grisham menuturkan kisahnya hanya melalui narasi dan deskripsi, nyaris tanpa dialog sama sekali. Bisa dibilang, The Innocent Man adalah novel dokumenter—Grisham mengangkat kisah aslinya sesuai yang terjadi—lengkap dengan foto-foto dokumentasi.

The Innocent Man mengisahkan Ron Williamson, lelaki yang dituduh membunuh Debra Sue Carter, pada 1982, dan dijatuhi hukuman mati, padahal bukti-bukti yang ada tidak bisa dibilang meyakinkan. Kenyataannya, Ron Williamson tidak melakukan pembunuhan itu, dan hidupnya kemudian dihabiskan hanya untuk mengusahakan dirinya terbebas dari ancaman hukuman mati, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah.

Karena kisah nyata, pembaca seperti dipaksa ikut merasakan tekanan batin serta beban hidup yang dijalani Ron Williamson selama bertahun-tahun, menghadapi tuduhan mengerikan yang tak pernah dilakukannya, berusaha membuka mata dunia bahwa pengadilan Amerika telah berlaku sewenang-wenang terhadapnya, hingga akhirnya—saat usianya telah senja—Ron Williamson berhasil membebaskan dirinya, dan mengembalikan nama baiknya.

Dibanding A Time to Kill, kisah dalam The Innocent Man jelas kalah. Tetapi ini kisah nyata, dan... saya pikir, ini salah satu kisah nyata paling mengerikan yang bisa dialami manusia.


Joost Smiers & Marieke van Schijndel: Dunia Tanpa Hak Cipta


Merupakan terjemahan kumpulan esai kedua penulisnya, berjudul Imagine There is No Copyright and No Cultural Conglomerates Too. Isinya, seperti yang tergambar pada judul, tawaran ide untuk menghapus hak cipta dan konglomerasi budaya. 

Dalam perspektif Joost Smiers dan Marieke van Schijndel, hak cipta sering kali tidak dimiliki oleh si pencipta suatu karya, melainkan dimiliki—bahkan dikendalikan—oleh perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang kebudayaan. Kenyataan itu menjadikan segelintir konglomerat memiliki kekuasaan mutlak dalam menentukan apa yang bisa kita lihat, dengar, atau baca—dalam tampilan seperti apa—juga yang tidak boleh kita lihat, dengar, dan baca.

Karena perspektif itu pula, kedua penulis buku ini menawarkan ide baru yang radikal, yakni penghapusan hak cipta. Dengan dihilangkannya hak cipta, menurut mereka, maka siapa pun bisa berkarya dengan bebas, dengan segenap ekspresi, dan masyarakat juga bebas menikmati karya seperti apa yang mereka inginkan, karena perusahaan-perusahaan besar yang biasa mendominasi ranah budaya telah disingkirkan. Dengan kata lain, dunia tak bisa lagi didikte oleh segelintir konglomerat yang menguasai hak cipta.

Dalam menawarkan idenya yang idealis ini, Smiers dan Schijndel mengandaikan satu sisi—yakni jika semua orang, tanpa kecuali, dapat hidup dan berkarya secara jujur. Mereka juga menyatakan bahwa abad digital yang sekarang muncul di dunia kita, pelan namun pasti, makin mengaburkan pentingnya hak cipta. 

Secara keseluruhan, ada banyak ide dalam buku ini yang tidak saya setujui. Namun, saya juga harus jujur mengakui bahwa buku ini bagus, karena menawarkan perspektif baru yang mungkin belum pernah dibayangkan banyak orang. Selain itu, penerjemahan dan penyuntingan buku ini layak diacungi jempol, karena mengalir lancar dan enak dibaca, hingga saya merasa sedang membaca buku asli Indonesia.


Kurniawan (et.al.): Pengakuan Algojo 1965


Bisa dibilang, ini “majalah yang dibukukan”. Pengakuan Algojo 1965 berawal dari investigasi wartawan Tempo, yang semula dimuat majalah Tempo. Rangkaian investigasi itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, dan... sepertinya bestseller. Buku yang saya baca menyebutkan cetakan V.

Daya tarik buku ini pastilah sudut pandang yang digunakan, yaitu orang-orang yang terlibat dalam pembantaian terhadap pihak-pihak yang dituduh atau dicurigai sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia), yang terjadi pada era 1965. Setelah membaca Suara Perempuan Korban Tragedi ’65, maka Pengakuan Algojo 1965 seperti buku pelangkap. Yang satu menjelaskan suara para korban, satunya lagi menjelaskan suara para algojo.

Dua buku tersebut (Suara Perempuan Korban Tragedi ’65 dan Pengakuan Algojo 1965) bisa dibilang buku-buku yang menjelaskan hal-hal yang tidak pernah dijelaskan buku-buku sejarah “konvensional” yang kita baca di sekolah. PKI mungkin kejam, tapi bukan berarti pelakuan terhadap PKI—atau yang dituduh sebagai PKI—tidak kejam. Buku-buku sejarah yang kita baca selama ini telah berlaku tidak adil, karena hanya menjelaskan kekejaman satu pihak sambil menyembunyikan kekejaman pihak lain.

Sejarah, kenyataannya, memang ditulis oleh pemenang. Soeharto memenangkan pertempuran ketika melawan PKI, jadi dia pun menulis sejarah seenak udelnya, kemudian mencekokkannya ke kepala kita. Dan, selama bertahun-tahun, kita percaya. 

Kini, setelah era Soeharto berlalu, dan kebebasan berpendapat terbuka lebar, buku-buku yang mengungkap “sejarah sebenarnya” pun bermunculan untuk membuka mata kita, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Buku ini mengungkap banyak hal—khususnya kisah-kisah dari para pelaku sejarah dan pembantaian—termasuk tentang Anwar Congo, salah satu algojo pembantai yang (mungkin) merasa dirinya pahlawan.

Selama membaca buku ini, saya seperti dipaksa menghadapi kenyataan yang amat mengerikan menyangkut sejarah Indonesia. Bahwa di balik “budaya luhur” yang sering kita gembar-gemborkan, di masa lalu tersimpan sejarah barbar penuh kebuasan.



Richard Dawkins: The God Delusion


Sejak terbit pertama kali, The God Delusion langsung bikin geger dunia dan membakar jenggot banyak orang. Buku yang merupakan akumulasi kegelisahan seumur hidup Richard Dawkins ini mengobrak-abrik seluruh tatanan keyakinan yang sudah mapan bagi banyak orang. Menggunakan keahliannya sebagai pakar biologi, Dawkins dengan amat meyakinkan membuktikan bahwa Tuhan, sebenarnya, well... tidak ada.

Pertarungan ideologi antara kreasionis dan evolusionis bisa dibilang pertarungan abadi yang tak pernah selesai. Sejak Charles Darwin ngoceh tentang evolusi pada 1895, pertarungan itu pun dimulai—secara terang-terangan. Kubu kreasionis telah berupaya mematahkan teori Darwin, bahkan Harun Yahya pernah menghabiskan hidupnya untuk membuktikan kesalahan Darwin. Kini, seratus tahun kemudian, Richard Dawkins muncul dengan amunisi yang menggelegar, dan mungkin Charles Darwin sedang cekikikan dalam kuburnya.

Saya mengagumi Richard Dawkins karena dua hal. Pertama, dia sinting. Kedua, dia mampu mempertanggungjawabkan kesintingannya secara ilmiah. The God Delusion adalah bukti kesintingan Dawkins yang menggelisahkan pikiran pembaca, bahkan membuat saya tidak bisa tidur selama membacanya. Melalui pemaparan yang lugas, bahkan frontal, Dawkins memuntahkan pikiran-pikirannya yang paling gila, menunjukkan bahwa Tuhan hanyalah bentuk delusi umat manusia.

Sebagai orang beriman—kalau boleh dibilang begitu—saya mengamini nasihat bijak yang menyatakan bahwa sebaiknya kita percaya Tuhan ada. Karena, mempercayai keberadaan Tuhan jauh lebih baik, dan lebih menguntungkan, daripada mempercayai Tuhan tidak ada. Jika kita percaya keberadaan Tuhan, namun ternyata Tuhan tidak ada, habis perkara. Namun, jika kita tidak mempercayai Tuhan, tapi ternyata Tuhan benar-benar ada, maka kita menghadapi masalah.

Richard Dawkins punya pola pikir berbeda. Dia tidak percaya keberadaan Tuhan. Dengan seluruh kecerdasannya—atau kesintingannya—dia lebih percaya bahwa Tuhan tidak ada, karena bukti-bukti yang ada menunjukkan Tuhan memang tidak ada. Jadi, secara konklusif, Dawkins lebih percaya Tuhan tidak ada. Lalu bagaimana jika Tuhan ternyata ada?

Jika Tuhan ternyata benar-benar ada, dan di akhirat kelak Dawkins bertemu Tuhan, kira-kira Richard Dawkins akan ngomong seperti ini, “Tuhan, maafkan saya. Seumur hidup, saya telah berusaha mencari keberadaan Tuhan, namun bukti-bukti yang saya temukan menunjukkan Tuhan tidak ada. Sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran, saya telah mengerahkan segala kemampuan berpikir, namun hasil yang saya dapatkan menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Kalau sekarang ternyata Engkau benar-benar ada, Tuhan, mohon ampuni kebodohan saya.”

Kalau Tuhan benar-benar ada, apakah Tuhan akan mengampuni Richard Dawkins? Kira-kira, lebih baik manakah di mata Tuhan; manusia yang percaya kepada Tuhan tanpa berpikir, ataukah manusia yang berpikir namun tidak percaya kepada Tuhan?

The God Delusion adalah buku yang menantang pikiran, dan menggelisahkan keyakinan. Jika hidupmu sudah tenang dan pikiranmu sudah nyaman dengan segala yang kauyakini, sebaiknya jangan baca buku ini. 

Rizki Ridyasmara: The Codex


Pertama kali mengenal Rizki Ridyasmara ketika dia menerbitkan novel pertamanya, The Jacatra Secret, yang waktu itu diterbitkan secara indie. Saya membaca novel itu, dan cukup menikmatinya. The Jacatra Secret mengisahkan misteri-misteri yang ada di Jakarta, dengan pemaparan ala Dan Brown. 

Mungkin karena baru pertama kali menulis novel, Rizki Ridyasmara tampak sangat kaku dalam membangun kisah The Jacatra Secret. Tokoh-tokohnya tidak berkarakter, jalan ceritanya terasa dipaksakan, sementara plotnya bisa dibilang meniru mentah-mentah The DaVinci Code-nya Dan Brown. Semua kekurangan itu, untungnya, tertolong oleh kisah penelusuran misteri yang menjadikan The Jacatra Secret asyik dibaca.

Kini, setelah The Jacatra Secret, Rizki Ridyasmara telah menulis beberapa novel lain, salah satunya The Codex, yang saya baca tahun ini. Dibanding The Jacatra SecretThe Codex jauh lebih bagus. Kisahnya mengalir alami, tokoh-tokohnya memiliki karakter jelas, teknik penceritaannya luwes, sementara pemaparan aneka deskripsi di dalamnya tidak terkesan dipaksakan. Inilah yang benar-benar disebut novel!

The Codex menceritakan konspirasi busuk yang melibatkan zat-zat beracun dalam makanan yang biasa kita konsumsi. Dalam novel ini, Rizki Ridyasmara melakukan riset sangat dalam untuk membangun kisahnya, hingga mampu menceritakan banyak hal secara akurat, plus menyuguhkan fakta-fakta yang bisa diverifikasi kebenarannya. 

Bagi saya, The Codex adalah novel lokal bercita rasa internasional. Jalan ceritanya mengasyikkan, kisahnya tidak membosankan, pemaparan di dalamnya menambah wawasan dan pengetahuan. 

Sophie Hannah: The Monogram Murders


Agatha Christie, pengarang wanita yang dijuluki “Ratu Kisah Kriminal”, menciptakan sosok detektif hebat bernama Hercule Poirot. Tokoh itu muncul dalam banyak novel Agatha Christie, dan membuat jutaan orang jatuh cinta dengan penuh kekaguman. Bisa jadi, Hercule Poirot adalah detektif terbesar di dunia fiksi, setelah Sherlock Holmes yang diciptakan Sir Arthur Conan Doyle. 

Menjelang wafatnya, Agatha Christie mematikan tokoh Hercule Poirot dalam novel terakhir, berjudul The Curtain, dan itulah kasus terakhir yang ditangani Hercule Poirot. Karena pengarangnya telah mati, Hercule Poirot pun tidak pernah muncul lagi.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2014, Hercule Poirot “hidup lagi” dalam novel karya Sophie Hannah, The Monogram Murders, yang ditulis berdasarkan lisensi Agatha Christie Ltd. Kehadiran kembali Hercule Poirot tentu disambut gembira banyak orang yang merindukannya—termasuk saya. Jadi, ketika novel ini terbit, serta merta saya langsung bernafsu membacanya. Oh, well, rasanya menyenangkan bisa kembali menikmati kisah Hercule Poirot dengan segala kehebatan dan tingkahnya yang eksentrik.

The Monogram Murders mengisahkan kasus pembunuhan yang sangat rumit, dengan plot penuh teka-teki yang saling membelit, trik-trik “menyesatkan” yang membuat pembaca berpikir keliru, plus tokoh-tokoh unik yang suka bicara melantur, khas Agatha Christie. Sophie Hannah tampaknya berusaha keras agar novel ini memiliki “ruh” Agatha Christie, dan—dalam hal itu—usahanya layak dipuji.

Namun, apakah Sophie Hannah bisa menghidupkan Hercule Poirot sebagus Agatha Christie? Menurut saya, Sophie Hannah tidak terlalu berhasil. Di tangan Sophie Hannah, Hercule Poirot tampak seperti badut—penegasan karakternya terkesan dipaksakan—tidak alami seperti ketika ditulis Agatha Christie. Tapi tentu tidak adil jika berharap Sophie Hannah bisa menyamai Agatha Christie. Bagaimana pun, Christie yang menciptakan Hercule Poirot—tentu dia lebih mengenalnya, dan lebih tahu bagaimana menghidupkannya.

Terlepas dari hal itu, The Monogram Murders adalah kisah detektif yang menyenangkan dan mengasah otak, khususnya bagi para pengagum Hercule Poirot yang telah lama merindukannya.

Stephany Josephine: The Freaky Teppy


Kalau kalian mengira saya hanya membaca buku-buku berat yang bikin jidat berlumut, kalian keliru. Sebagai bocah, saya tentu juga membutuhkan hiburan, melemaskan urat saraf, dan cekikikan. Karena itulah saya juga membaca buku-buku ringan—lebih khusus yang lucu—yang tidak membuat kepala pening, sekaligus untuk mengingatkan saya agar tidak kehilangan selera humor.

Di toko buku, banyak sekali buku “ringan” semacam itu. Sebegitu banyak, hingga rasanya kita bisa menemukannya sambil merem. Tetapi harus diakui, tidak semua buku semacam itu bagus. Umumnya, buku-buku ringan—dan lucu—yang bagus ditulis orang yang benar-benar bisa menulis, bukan orang yang sekadar latah menulis buku. The Freaky Teppy adalah satu di antaranya.

Jika buku komedi/ringan selama ini terkesan remaja banget, The Freaky Teppylebih dewasa. Jika saya sering “gagal paham” saat membaca buku komedi remaja sehingga tidak tahu di mana letak lucunya, The Freaky Teppy mampu membuat saya cekikikan tanpa henti. Oh, well, saya sangat menikmati saat membacanya, hingga terus guling-guling di sofa selama membaca kisah-kisah di dalamnya. 

Nyaris setiap lembar buku ini membuat saya tidak bisa berhenti tertawa. Stephany ‘Teppy’ Josephine menulis kisah-kisahnya dengan caranya sendiri—lugas, jujur, apa adanya, tanpa sok jaim-jaiman, dan selalu mampu menghadirkan humor di rangkaian kisahnya.

Tapi kejutan tak terduga muncul menjelang akhir buku, tepatnya dalam kisah “Shameless Assistant: Patah Hati”. Di akhir kisah itu, jantung saya mencelos, dada saya menghangat. Setelah cekikikan dan guling-guling sejak halaman pertama, akhir kisah itu membuat saya tercenung dan ingin menangis. Saya tidak akan menceritakannya di sini—kalian harus membacanya sendiri!

Buku ini murni komedi, ditulis dengan tujuan untuk menghibur, namun kita bisa menemukan pelajaran-pelajaran tersembunyi di dalamnya. Sayangnya, buku ini terlalu tipis—saya menghabiskannya dalam sekali duduk. Akibatnya, ketika sampai di halaman akhir, dan mendapati kisahnya telah selesai, saya merasa “tidak rela”. Ini seperti makan sedang enak-enaknya, belum sempat kenyang, tapi tiba-tiba disuruh berhenti. 

*Nangis pelangi*

Stephen King: Carrie


Carrie adalah karya klasik Stephen King, yang kemudian mengantarnya menjadi raja novel horor. Sebagai novel, Carrie terbit pertama kali pada 1974, tepat ketika Stephen King—yang waktu itu masih penulis pemula—merasa frustrasi dengan banyaknya penolakan dari penerbit. 

Di rumahnya yang sederhana, Stephen King memasang paku besar di salah satu dinding. Menancap kuat di dinding rumah, paku itu menonjol sepanjang 10 centimeter. Paku itu menjadi saksi bisu penolakan demi penolakan yang pernah diterima Stephen King. Setiap kali ia mengirim naskah ke penerbit dan ditolak, King akan menancapkan nota penolakan yang ia terima pada paku di rumahnya.

Waktu demi waktu berlalu, dan surat-surat penolakan yang diterimanya semakin banyak—semuanya ia tancapkan pada paku di dinding—hingga paku yang panjang itu seolah tak muat lagi karena telah penuh deretan nota penolakan. Pada waktu itulah, di tengah frustrasi memandangi banyaknya penolakan yang ia terima, Stephen King mendapat kabar bahwa novelnya, Carrie, diterima untuk diterbitkan.

Hasil penerbitan novel itu tidak hanya mampu menopang kehidupan Stephen King yang waktu itu sedang kembang-kempis, namun juga mengantarnya menjadi legenda novel horor. Kisah seorang gadis yang memiliki kekuatan telekinetik bernama Carrie White segera terkenal, novelnya terjual dalam jumlah besar, hingga kemudian difilmkan beberapa kali. Setelah itu, Stephen King pun menancapkan namanya sebagai penulis horor paling terkenal di dunia.

Carrie mengisahkan gadis lugu yang sering di-bully teman-teman sekolahnya, hingga puncaknya terjadi ketika si gadis lugu menggunakan kekuatan telekinetik yang dimilikinya, dan menghancurkan seisi kota. Teknik penulisan novel ini sangat unik, karena plotnya tidak hanya mengisahkan tokoh-tokoh dalam cerita, namun juga melibatkan aneka deskripsi berupa potongan-potongan berita yang seolah nyata.

Novel yang saya baca adalah cetakan baru—Februari 2014. Tetap asyik dibaca dan dinikmati, meski telah ditulis empat puluh tahun yang lalu. Bukti bahwa Carrie memang tak lekang oleh waktu.