2013-07-09

Saya Memang Bocah

“Hei, kacrut,” ujar seorang teman, “kenapa kamu mencintai wanita dewasa?”

“Karena Batman juga begitu,” jawab saya mantap.

“Kenapa kamu rajin belajar?”

“Karena Spiderman begitu.”

“Kenapa kamu jadi jurnalis?”

“Karena Superman begitu.”

“Kenapa kamu suka minum klorofil?”

“Karena Iron Man begitu.”

“Kenapa kamu kadang-kadang sinis?”

“Karena Magneto begitu.”

....
....

Oh, well, saya memang bocah.

Surga Ada di Rumah

Yang dicari orang-orang di luar itu, apa sih? Berdesakan, 
berjubelan, bising... Enakan di rumah, hangat, nyaman, hening.
@bayukacrut


Well, tempo hari saya menonton film yang saya beli dari penjual lapak DVD langganan. Judulnya Black Water. Sepertinya itu bukan film bioskop, dan filmnya juga tak bisa dibilang bagus. Yang membuat saya tertarik membeli film itu karena di sampul filmnya terdapat keterangan kalau film itu berdasarkan kisah nyata (true story).

Ceritanya tentang penyerangan buaya pada manusia. Jadi, Adam, Grace, dan Lee, berlibur ke Australia. Adam dan Grace adalah pasangan suami istri, sementara Lee adalah adik Grace. Mereka memutuskan untuk menikmati pemandangan sungai Backwater Barry, di wilayah Australia Utara. Maka mereka pun menemui seorang pemilik perahu untuk tour tersebut. Si pemilik perahu, bernama Jim, menemani mereka, dan perahu itu pun melaju dengan tenang di sepanjang sungai Backwater.

Di tengah perjalanan, seperti yang direncanakan, mereka memancing. Tapi kemudian sesuatu yang tak terbayangkan terjadi. Sesosok buaya sangat besar muncul, dan menggoncangkan perahu mereka. Perahu itu terbalik, orang-orang yang ada di atasnya segera terjatuh ke air, dan buaya mengerikan itu menyerang. Jim, si pemilik perahu, terbunuh oleh si buaya. Sementara Adam, Grace, dan Lee, berhasil menyelamatkan diri dan naik ke atas pohon.

Lalu ketegangan yang amat menjengkelkan pun dimulai.

Di atas pohon, ketiga orang itu memang selamat. Tapi mereka juga tak bisa ke mana-mana. Perahu mereka terbalik mengapung di atas sungai. Adam menyatakan satu-satunya jalan mereka untuk bisa pergi dari tempat itu adalah dengan perahu tersebut. Tetapi, jarak mereka dengan perahu yang terbalik itu cukup jauh. Untuk dapat menggunakan perahu, mereka harus turun ke air, dan itu artinya menantang maut karena si buaya masih berkeliaran.

Ketiga orang itu pun saling tegang dan sesekali bertengkar di atas pohon. Mereka tak bisa apa-apa, tak bisa ke mana-mana. Di atas pohon, mereka memang hidup. Tetapi mereka juga seperti ditahan di sana. Sementara mereka juga tak bisa berharap datang pertolongan, karena tidak ada orang lain yang tahu keberadaan mereka di sana. Jadi, seperti yang dibilang Adam, satu-satunya cara untuk pergi dari sana hanya menggunakan perahu mereka yang sekarang terapung dalam keadaan terbalik.

Adam berencana turun ke air dan berenang ke tempat perahu, tapi rencana itu ditentang Grace, istrinya. Akhirnya, setelah sedikit bertengkar, Adam meyakinkan Grace kalau ia akan selamat sampai perahu. Grace pun mengizinkan suaminya turun, lalu Adam masuk ke air dan berenang menuju perahu. Adam selamat sampai perahu, dan berhasil membalikkannya sehingga siap ditumpangi. Tetapi, belum sempat Adam naik ke atas perahu, buaya keparat itu muncul dan langsung memangsa Adam.

Grace dan Lee panik tak karuan menyaksikan Adam tewas dimangsa buaya. Mereka makin bingung, makin tegang, dan saya yang menyaksikan semua itu semakin merasa jengkel. Ya, saya jengkel, karena tak habis pikir dengan orang-orang yang suka keluyuran ke tempat-tempat semacam itu. Selama menyaksikan ketegangan mereka dalam film, berkali-kali saya membatin, “Memangnya siapa yang menyuruh kalian keluyuran ke sana, hah? Siapa? Siapa? Siapa…???”

Mungkin saya tidak memiliki jiwa petualang seperti Ryanni Djangkaru atau Trinity yang suka keluyuran ke tempat-tempat “eksotik”. Saya tak pernah bisa melihat apa asyiknya mempertaruhkan keselamatan hanya untuk melihat tempat-tempat semacam itu. Daripada keluyuran ke tempat-tempat tidak jelas seperti itu, saya lebih suka duduk nyaman di dalam rumah yang hangat, menyeduh kopi, mengunyah dark chocholate, merokok, sambil membaca buku.

Sebagai orang rumahan, saya tidak bisa menemukan tempat lain yang lebih menyenangkan dan mendamaikan selain di dalam rumah. Liburan bagi saya adalah duduk santai di atas sofa yang empuk dan nyaman sambil membaca buku yang bagus, atau meringkuk di atas springbed yang hangat ketika di luar sedang hujan. Tak perlu ke mana-mana, tak perlu capek keluyuran, juga tak perlu mempertaruhkan nyawa untuk seekor buaya. Asal ada rokok, teh panas atau kopi, dan buku yang bagus, kenyamanan rumah sudah cukup bagi saya.

Sepertinya saya melantur.

Oke, kita lanjutkan cerita dalam film tadi. Setelah Adam tewas dimangsa buaya, Grace dan Lee pun memutar otak bagaimana caranya menyelamatkan diri. Tetapi, lagi-lagi, cara paling logis yang bisa ditempuh hanyalah dengan perahu itu. Kali ini perahu sudah tak terbalik, karena tadi sudah dibetulkan posisinya oleh Adam. Tetapi jarak mereka dari perahu masih jauh. Dan mereka tetap ngeri jika harus turun ke air lalu berenang ke perahu.

Akhirnya, karena tak ada jalan lain, mereka pun nekat. Grace dan Lee turun ke air, berenang perlahan-lahan, menuju ke perahu. Begitu mereka hampir menyentuh perahu, buaya keparat itu muncul lagi, tepat di depan mereka. Grace dan Lee kabur tunggang langgang menyelamatkan diri. Keduanya selamat, tapi kaki Grace tercabik oleh buaya, hingga luka dan berdarah.

Lalu ketegangan yang menjengkelkan dimulai lagi.

Mereka kembali menyelamatkan diri dengan naik ke atas pohon. Mereka selamat, meski luka dan berdarah, tapi tak bisa ke mana-mana. Mungkin akan begitu terus sampai kiamat, pikir saya dengan jengkel. Dan lagi-lagi saya membatin, “Memangnya siapa yang menyuruh kalian keluyuran ke sana, hah? Siapa? Siapa? Siapa…???”

Saya pikir, kalau mau liburan, mbok tidak usah keluyuran ke tempat-tempat seperti itu. Apa salahnya sih, liburan ke tempat yang relatif aman? Oh, well, kadang-kadang saya juga liburan dengan pergi meninggalkan rumah. Tapi saya tidak sudi menghabiskan waktu liburan ke tempat-tempat semacam sungai yang dihuni buaya, atau hutan liar yang belum terjamah, atau ke gunung yang wingit. Daripada ke tempat-tempat semacam itu, saya lebih suka ke luar kota, shopping, dan menginap di hotel mewah!

Kadang-kadang, saya diajak teman pecinta alam untuk mendaki gunung, mengisi waktu liburan. Kadang-kadang pula saya menerima ajakan itu. Tetapi, sejujurnya, saya tak pernah bisa menikmati acara semacam itu. Di alam liar, kita tak bisa naik kendaraan, artinya harus jalan kaki. Tidak ada warung atau restoran, apalagi kafe, dan itu artinya makan minum kami sangat terbatas. Untuk makan, kami biasanya bikin mie rebus. Untuk minum, kami hanya mengandalkan air putih.

Bagi saya, liburan semacam itu sangat menyiksa dan menyusahkan. Dan, demi Tuhan, saya sudah bosan hidup susah, juga sama sekali tak berminat mengulanginya. Karenanya, selagi bisa menikmati ketenangan, saya akan menikmatinya. Selagi bisa menikmati hidup yang nyaman, saya akan menikmatinya. Daripada jauh-jauh ke gunung hanya untuk makan mie rebus dan minum air putih, saya lebih memilih tinggal di rumah dan menikmati kopi atau teh yang nikmat sambil membaca buku.

Ya, ya, selera orang memang berbeda. Ada yang suka tempat-tempat alami seperti hutan, sungai, atau gunung, ada pula yang seperti saya. Dan, sebenarnya, kalau dipikir-pikir, semuanya memang ada risikonya. Di alam liar, risikonya bisa diserang hewan buas. Di perkotaan, risikonya bisa kecelakaan di jalan raya sampai perampokan. Ada risikonya semua. Tetapi, saya pikir, di wilayah perkotaan ada kantor polisi, rumah sakit, atau setidaknya mudah ketemu orang lain jika perlu minta tolong. Lhah di hutan…???

Kalau kebetulan kita diserang macan di tengah hutan ketika sedang liburan, kira-kira mau minta tolong siapa? Tarzan…? Yang benar saja! Begitu pula kalau kita liburan di sungai, lalu diserang buaya ganas, kita mau minta tolong siapa? Kenyataannya, Grace dan Lee dalam film tadi tak bisa minta tolong siapa-siapa. Ketika seekor buaya besar menyerang mereka, kakak beradik itu hanya bisa panik, bingung, panik, bingung, panik, bingung, panik… mungkin begitu terus sampai kiamat.

Uh, sepertinya saya melantur lagi.

Di akhir film, Lee memang akhirnya berhasil menyelamatkan diri setelah membunuh si buaya dengan pistol yang ia temukan pada mayat Jim (si pemilik perahu). Tetapi, Grace meninggal di atas pohon, mungkin karena kehabisan darah, mungkin pula karena terlalu shock. Setelah si buaya terbunuh, Lee mengambil perahu dan membawa mayat kakaknya ke dalam perahu. Lalu mendayung perahu, pergi meninggalkan tempat itu.

Dan film pun selesai.

Bagi saya, film ini memberikan pelajaran yang sangat penting, yaitu, “Cintailah rumahmu”. Berbahagialah, dan nyamanlah tinggal di rumah. Tidak usah keluyuran ke mana-mana, apalagi ke tempat-tempat yang relatif berbahaya. Sepertinya itu pesan yang bagus sekali—khususnya bagi saya. Setelah menonton film ini, dan setelah menyaksikan orang-orang dimangsa buaya, saya makin suka tinggal di rumah.

Kalau boleh sedikit lebay, surga di dunia ini terdapat di dalam rumah. Tak perlu mencari ke tempat jauh.

Lubang di Jalan

Nurani itu seperti baja. Semakin digunakan, ia makin berkilat.
Didiamkan dan dilupakan, ia pun berkarat.
—bayukacrut


Saya masih kelas 3 SMP ketika peristiwa yang menyakitkan itu terjadi. Minggu siang itu saya masih tertidur, karena malamnya ngobrol dengan teman-teman hingga pagi. Tidur saya dibangunkan oleh dering telepon. Saat saya menerimanya, suara pacar saya segera menerpa telinga.

“Masih tidur, ya?” sapanya dengan halus, setelah mendengar suara saya yang mungkin lesu. “Kita jadi ketemuan?”

Malam tadi saya tidak apel ke tempatnya, dan menjanjikan untuk bertemu Minggu siang. Jadi, saat dia menelepon, saya pun segera menjawab, “Ya, habis ini aku ke tempatmu.” Dan menambahkan, “I miss you.”

Lalu saya pun segera bangkit dari tempat tidur, mandi, dan membuat teh hangat dengan buru-buru. Setelah itu mengeluarkan motor, dan melaju cepat ke rumah pacar. Ketika sedang ngebut di jalanan itulah, kecelakaan yang naas terjadi.

Waktu itu saya melaju di jalan satu arah, dan tepat berada di belakang bus yang melaju kencang. Speedometer di motor saya menunjukkan kecepatan 110 kilometer per jam. Aspal tampak mulus, hingga saya tidak sempat berpikir macam-macam. Sampai kemudian, sebuah lubang menganga tiba-tiba muncul di depan, dan saya tidak mampu menghindar akibat terkejut.

Bus yang ada di depan saya tidak terganggu adanya lubang di jalan itu, karena posisi lubang ada di tengah badan bus. Tapi motor saya tepat berada pada posisi lurus lubang tersebut, dan saya tidak mampu menghentikan atau membelokkan motor karena sedang melaju sangat cepat. Sekuat tenaga saya mengerem kecepatan untuk mengurangi dampak yang akan terjadi, tapi tetap saja motor saya masih melaju cepat ke arah lubang itu.

Akibatnya adalah bencana.

Lubang di jalan itu cukup dalam. Ketika motor saya sampai ke lubang itu, ban depan segera masuk ke dalam lubang, dan motor langsung terbanting ke aspal. Karena mesin sedang melaju cepat, motor itu lalu menyeret tubuh saya di atas aspal, mungkin sampai sepuluh meter, dan saya merasa sedang syuting film action.

Saya ditolong beberapa orang yang kebetulan ada di tempat itu, dengan tubuh berdarah-darah. Sekujur tubuh terasa sakit, tapi yang paling terasa ada di bagian kaki. Lutut serasa tak mau digerakkan. Terus terang, itu bukan kecelakaan pertama yang saya alami. Dua tahun sebelumnya, saya mengalami kecelakaan yang jauh lebih parah, sehingga cukup “berpengalaman” jika mengalami kejadian seperti itu.

Motor saya tidak bisa dikendarai, bagian depannya hancur. Sementara saya juga tidak bisa mengandalkan orang-orang di sana untuk mengurus saya. Maka saya pun segera menelepon seorang teman, yang segera datang membawa pick up. Motor saya diangkut ke rumah, dan saya mampir ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Diagnosis awal, bagian tangan saya mengalami kerusakan parah, akibat terseret di aspal, selain luka-luka di bagian lain. Kelak, saya butuh waktu satu tahun untuk bisa sembuh seperti sedia kala.

Setiap kali mengingat peristiwa itu, yang masih terasa menyakitkan bukan hanya ingatan bagaimana saya menjalani hari-hari dengan tangan yang di gips, atau ketika merasakan perih luka-luka yang lama sembuh. Yang paling terasa nyeri dalam ingatan saya adalah fakta bahwa ternyata ada orang-orang yang sengaja membiarkan lubang ada di jalan.

Ketika kecelakaan itu terjadi, dan saya diangkat orang-orang ke pinggir jalan, beberapa orang tersebut ada yang menceritakan bahwa saya bukan orang pertama yang mengalami kecelakaan akibat lubang itu. Sebelum saya terjatuh akibat lubang tersebut, telah ada beberapa pengendara motor lain yang mengalami hal sama. Seseorang bahkan dengan antusias bercerita, “Tiga hari lalu juga ada motor yang jatuh, Mas. Dua orang, boncengan. Malah lukanya lebih parah dibanding situ.”

Waktu itu saya sempat menyahut, “Kenapa tidak ada yang mau menimbun lubang itu dengan batu atau tanah, untuk mengurangi kecelakaan?”

Dan dia menyatakan, “Wah, itu sih bukan tugas kami.”

Jadi, di dunia ini ada orang-orang yang menyaksikan kecelakaan terus terjadi akibat sebuah lubang di jalan, dan mereka tidak mau berusaha mengatasi hal itu karena berpikir itu bukan tugas mereka. Itu sangat terasa nyeri bagi saya, khususnya karena saya salah satu korban akibat lubang tersebut. Gara-gara lubang itu, saya harus menghabiskan waktu satu tahun untuk merasakan sakit yang sebenarnya tidak perlu terjadi, kalau saja ada orang yang mau peduli untuk menimbun lubang itu.

Tapi rupanya mereka berpikir bahwa itu bukan urusan mereka. Karena mereka tidak mengalami kecelakaan yang sama. Karena memperbaiki jalan yang rusak bukan tugas mereka. Karena menyaksikan orang-orang terjatuh akibat lubang itu tetap saja tidak mampu mengetuk nurani dan kepedulian mereka terhadap sesama.

Salah satu kesalahan bahkan kerusakan pola pikir manusia modern adalah mempertanyakan apa manfaat yang bisa diterimanya jika melakukan sesuatu. Itu pula yang membedakan orang biasa dengan pahlawan. Setiap kali melakukan sesuatu, orang biasa berpikir, “Apa manfaatnya ini bagiku?” Sementara pahlawan berpikir, “Apa manfaatnya ini bagi orang lain?”

Tanpa kita sadari, kita telah terdoktrin untuk selalu, selalu, selalu, mempertanyakan apa manfaat yang akan kita peroleh jika melakukan sesuatu. Sebegitu kuat doktrinasi itu, hingga kita kadang-kadang kehilangan nurani dan kepedulian terhadap sesama. Setiap kali akan berbuat sesuatu untuk dunia, kita berpikir, “Apa manfaatnya ini bagiku?” Jika kita merasa mendapatkan manfaat, kita mau melakukan. Jika tidak, kita pun enggan melakukannya.

Sekali lagi, itulah perbedaan pola pikir antara orang biasa dengan pahlawan.

Ketika Batman mengenakan jubah dan topengnya, lalu memerangi kejahatan di Gotham City, dia tidak berpikir apa manfaatnya bagi diri sendiri, tapi berpikir apa manfaatnya bagi orang lain. Ketika Spiderman bergelantungan di atas gedung-gedung tinggi demi mengejar penjahat, dia tidak berpikir apa manfaatnya bagi diri sendiri, tapi apa manfaatnya bagi orang lain. Ketika Superman terbang ke sana kemari, menolong orang-orang yang membutuhkan, dia juga tidak berpikir apa manfaatnya bagi diri sendiri, tapi apa manfaatnya bagi orang lain.

Itulah yang membedakan pola pikir orang biasa dengan pahlawan. Orang biasa berpikir manfaat bagi diri sendiri, pahlawan berpikir manfaat bagi orang lain. Orang biasa berorientasi pada keuntungan pribadi, pahlawan berorientasi pada kemaslahatan orang lain.

Tentu saja kita bukan Batman, Spiderman atau Superman. Tetapi kita sama-sama memiliki sesuatu yang mereka miliki. Yakni nurani. Yang membedakan, para pahlawan menghidupkan nuraninya, sementara orang biasa cenderung mematikan nuraninya sendiri. Para pahlawan memiliki kepedulian besar pada sesamanya, orang biasa memiliki kepedulian besar bagi dirinya sendiri. Para pahlawan berfokus memberi manfaat bagi orang lain, orang biasa hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.

Dalam perjalanan hidup, ada banyak waktu ketika kita seharusnya berpikir apa manfaat bagi orang lain, tapi justru berpikir apa manfaat bagi diri sendiri. Untuk menjadi pahlawan, kita tidak perlu peralatan canggih seperti Batman, tidak perlu bisa terbang seperti Superman, juga tidak perlu digigit laba-laba ajaib seperti Spiderman. Ada banyak cara untuk menjadi pahlawan. Salah satunya adalah menutup lubang di jalan, agar orang lain bisa selamat dalam perjalanan.

Sudah Lama Tidak Ngeblog

Sudah sekitar satu bulan lebih saya tidak pernah menulis di blog kesayangan saya ini. Ohh well, saya tidak lagi sibuk atau sudah tidak hobi menulis lagi. Tetapi jelas tidak ada yang tersirat dalam pikiran ini untuk lalu dituliskan di dalam blog ini. Maka dari itu selama satu bulan lebih, saya hanya sekedar melihat isi blog ini dan mereviewnya kembali tulisan-tulisan yang sudah lama saya buat. Oleh sebab itu saya akan kembali menulis disini, saya akan kembali mecurahkan apa yang tersirat dalam pikiran ini. okeeyyy yang terakhir mungkin terdengar sedikit lebay :)