"Pliiz jadikan saya mantu anda"
Tulisan di foto seorang cewek di jejaring sosial.
***
Setengah bulan yang lalu saya stres berat, karena tekanan “kehidupan”
tanpa henti, dan waktu yang sepertinya tak bisa diajak kompromi. Meski
sudah berusaha efisien, saya merasa terus tertinggal oleh detik jam. Dan
kondisi penuh tekanan semacam itu menjadikan insomnia saya makin parah.
Tingkat keparahan itu makin menjadi-jadi kalau tugas sedang menumpuk dan diburu waktu. Entah kenapa atau bagaimana,
saya tak pernah bisa tidur kalau pikiran belum tenang, semisal tugas yang belum rampung. Bahkan setelah mata sangat mengantuk dan
tubuh sangat lelah sekalipun, tetap saja sulit tidur.
Seperti bulan kemarin. Sebegitu sulit tidurnya, sampai-sampai saya
membuat “rekor” dalam hal tidak tidur. Karena ingin sekali menyelesaikan
tanggung jawab, saya sampai tidak tidur dua hari dua malam. Selama
begadang terus-menerus tanpa henti itu, yang saya khawatirkan bukan
kondisi fisik saya, tapi kondisi komputer. Saya benar-benar berdoa
semoga komputer yang saya ajak begadang tidak meledak atau mati
tiba-tiba.
Setelah dua hari tidak tidur, badan saya serasa tak
bisa digunakan lagi. Letih lahir batin. Fisik sudah lemah, otak tak bisa
lagi diajak mikir. Akhirnya, setelah tak lupa mematikan komputer—dan
benar-benar memastikan benda itu mati sewajarnya karena shut down—saya
pun melangkah sambil merem ke kamar tidur. Begitu badan menyentuh tempat
tidur, saya langsung terlelap.
Dan tidur selama satu hari penuh.
Ketika
bangun tidur, rasanya seperti… jetlag. Sewaktu bangkit dari tempat
tidur, dan duduk sambil bengong, saya baru menyadari kalau saya
terbangun akibat kelaparan—karena satu hari penuh tertidur dan tidak makan.
Perut rasanya keroncongan campur dangdutan. Mungkin, kalau tidak lapar,
saya pasti masih enak-enak tertidur dan entah akan bangun kapan.
Saya
duduk dengan lemas sambil menatap jam di dinding kamar. Jarum jam
menunjukkan pukul 4. Sesaat, saya kebingungan itu jam 4 pagi atau jam 4
sore. Lalu saya ambil ponsel, untuk memastikan waktu. Rupanya jam 4
pagi. Ketika melihat hari dan tanggal, saat itulah saya menyadari sudah
tertidur satu hari penuh.
Saya bangkit, dan menuju kamar mandi untuk
cuci muka. Lalu membuat kopi. Dan merokok. Sambil merasakan badan yang
masih letih serta perasaan seperti jetlag. Sedang perut keroncongan
bukan main. Dan saya mikir, ke mana harus mencari warung makan sepagi
ini?
Masalahnya bukan hanya mencari warung pada pukul empat pagi.
Kalau saya memaksakan diri untuk keluar, mau tak mau harus memanaskan
mesin kendaraan, karena satu hari tak dipakai. Dan itu tentu akan
mengganggu tetangga kanan kiri, karena masih sangat pagi. Standar etika
saya tidak bisa diajak kompromi.
Akhirnya, sambil menahan lapar,
saya pun menyabar-nyabarkan diri menunggu subuh tiba. Nanti, seusai
subuh, saya bisa mulai memanaskan mesin dan keluar cari makan. Untuk
menghibur diri—dan membunuh waktu—saya pun membaca buku. Dan bikin kopi
lagi. Sambil diam-diam berharap tidak tertidur lagi. Karena, jika itu
sampai terjadi, saya khawatir tidak akan bangun lagi.
Seusai
subuh, saya mulai memanaskan mesin, lalu kabur mencari warung. Sambil
menyusuri jalanan yang masih sepi, saya lirak-lirik kanan kiri, mencari
warung makan yang sudah buka. Sampai akhirnya, di tempat yang cukup
jauh, ada satu warung yang telah buka, dan terlihat masih sepi. Saya pun
masuk ke sana. Dan segera makan dengan lahap.
Pada waktu makan itulah, inti cerita ini dimulai.
Ketika
sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba terdengar suara lelaki
berteriak-teriak tidak jelas. Lelaki itu sepertinya di dekat warung
tersebut, dan terus berteriak-teriak sendiri, mengeluarkan kata-kata
yang semrawut dan tidak terstruktur. Sepertinya dia tidak pernah belajar
grammar. Atau conversation. Entahlah.
Berdasarkan pendengaran
saya sambil makan, inilah yang diucapkan lelaki itu sambil
teriak-teriak, “Pokoknya…! Haiyyaaa, pokoknya kawin! Aku kan kawin saja
ini itu sama kawin. Mosok sulit sekali padahal aku tidak pernah bilang
begitu selain kawin. Ya, kan? Hahahaaaa…! Aku ingin berlomba-lomba untuk
kawin, masyarakaaaaat. Haiyyaaa, pokoknya! Pokoknya kawin! Sudah saja,
ketika semua orang berlomba-lomba untuk kawin, aku malah ingin kawin.
Hahahahaaaa! Benar-benar supaya! Oaaah, supaya! Masyarakaaaaaat! Mau
kawin aja kok susah!”
(Tentu saja kalimat-kalimat itu berdasarkan
ingatan saya yang mungkin tidak akurat, dengan penerjemahan sekadarnya,
dan sensor ketat atas kata-kata tidak senonoh di sana-sini).
Karena
penasaran dan tergelitik dengan ocehannya, saya pun melongok keluar,
dan menyaksikan lelaki itu sedang semangat ngoceh sambil berdiri dengan
gaya orasi. Dilihat dari penampilan fisiknya, sepertinya dia berumur 35
tahunan. Pakaiannya terlihat bersih, tidak terkesan orang gila yang
tidak terurus. Dia terus ngoceh, dan kata “kawin” terus-menerus terselip
dalam ocehannya.
Saya pun bertanya pada ibu si penjual warung makan, “Siapa tuh, Bu?”
“Itu
orang kentir (tidak waras), Mas,” jawabnya. Kemudian ibu itu bercerita,
“Dia tuh dulu pengin kawin, tapi nggak tahu kenapa selalu gagal. Pernah
pacaran, terus bubar. Malah dulu pernah tunangan, tapi juga putus di
tengah jalan. Lama-lama dia jadi kentir, ya mungkin karena kepenginannya
kawin nggak kesampaian. Tiap pagi selalu teriak-teriak gitu. Kata
orang-orang sih, mungkin dia bakal waras lagi kalau udah kawin.”. Dan setiap kali saya kesana untuk makan, tak bosan-bosanya si Ibu tadi menceritakan lagi kisah orang kentir tersebut kepada saya.
Saya
terdiam. Karena bingung mau jawab apa. Juga karena tiba-tiba saya
menatap diri sendiri. Sampai segede ini, hati saya kok belum terketuk
ingin kawin. Dan tiba-tiba saya khawatir jadi kentir kalau dipaksa
kawin. Oh, well, kalau ada orang yang jadi kentir karena pengin kawin,
tentu logis kalau ada pula orang yang jadi kentir karena dipaksa kawin
padahal belum pengin kawin.
Tiba-tiba saya merasa tidak normal.
Sebenarnya sih dari dulu saya memang tidak normal. Kalau normal tentu
saya sudah pengin kawin!
Kadang-kadang, saya “memanas-manasi”
diri sendiri dengan menyaksikan teman-teman saya yang sudah punya istri.
Atau sengaja menjebak diri sendiri ke dalam keramaian,
agar bisa memelototi pasangan-pasangan yang sedang asyik dan bermesra-mesraan. Ya, kadang-kadang upaya itu memang berhasil—tapi temporer.
Ketika
melihat teman-teman saya tersenyum bahagia dengan istri-istri mereka,
atau menyaksikan pasangan-pasangan yang sedang bergandengan tangan, saya
memang merasakan keinginan untuk memiliki pasangan (istri) dan berumah tangga. Tetapi, setelah pemandangan itu sirna, dan
saya kembali sendirian, semua keinginan itu pun ikut sirna. Saya telah
telanjur jatuh cinta pada keheningan.
Ketika merasakan hening,
sendirian, di rumah yang sunyi, tanpa suara, sering kali saya bersyukur
karena tidak memiliki istri dan anak-anak. Kehadiran mereka pasti akan
merenggut keheningan dari hidup saya.
Sering kali, ketika sedang
asyik mengerjakan sesuatu hingga lupa waktu dan lupa segalanya, saya pun
membayangkan, “Untung aku tidak punya istri. Kalau ada istri, dia pasti
akan ngamuk-ngamuk karena dicueki.”
Atau, ketika sedang asyik
berpikir, sampai berjam-jam, kadang terselip pikiran nakal, “Untung aku
tidak punya istri. Kalau punya istri, aku pasti tidak akan sempat
memikirkan hal-hal ini, karena akan terus sibuk memikirkan dirinya.”
Pendeknya,
saya lebih sering bersyukur karena tidak memiliki pasangan (istri) daripada
sebaliknya. Ya, ya, mungkin saya memang tidak normal. Tetapi standar
kenormalan manakah yang akan kita gunakan dalam hal ini? Apakah
orang-orang yang memilih tidak kawin memang layak dianggap tidak normal?
Dan hanya orang-orang yang kawin saja yang normal? Tapi bukankah kawin
atau tidak kawin adalah hak setiap orang?
Ironi dalam sistem
masyarakat kita, sepertinya, adalah rancunya perbedaan antara hak dan
kewajiban. Beberapa hak dianggap kewajiban, sehingga jika “kewajiban”
itu tidak dilakukan, maka akan dianggap tidak normal. Ya contohnya soal
kawin itu.
Meski sesungguhnya kawin (menikah, merid, etc) adalah
hak, tapi sistem masyarakat kita menganggapnya kewajiban. Dan karena
sistem masyarakat menganggapnya kewajiban, maka mayoritas orang pun
melakukannya—karena ingin memenuhi “kewajiban”, atau juga karena memang
pengin kawin.
Tentu hal biasa kalau kita menyaksikan orang yang
jelas-jelas menunjukkan keinginannya untuk kawin. Atau teman kita yang
sibuk minta dicarikan pacar, pasangan, dan semacamnya. Banyak orang yang
sampai mengikuti acara-acara semacam biro jodoh demi tujuan yang sama.
Bahkan konon Facebook atau media sosial lain pun dijadikan salah satu
sarana untuk menemukan pasangan. Untuk kawin.
Tentu saja mereka tidak salah. Sama tidak salahnya dengan orang yang memang tidak atau belum ingin kawin.
Ehmm… Ada sebuah buku berbahasa Arab yang sangat bagus berjudul Al-‘Ulama’ Al-‘Uzzab alladzina Atsarul ‘Ilma ‘alaz Zawaj. Buku ini mengisahkan para ulama dan para pecinta ilmu (kebetulan semuanya lelaki) yang memutuskan tidak kawin sampai mati
karena ingin membaktikan hidupnya untuk belajar dan mencari ilmu.
Sejujurnya, saya sampai nangis bombay waktu membaca buku ini. Dan,
sejujurnya pula, saya makin tidak pengin kawin!
Beberapa pecinta
ilmu yang dikisahkan dalam buku ini adalah Yunus bin Habib Al-Bashri,
Abu Bakar bin Al-Anbari, Ibnu Taimiyyah, Abul Hasan Al-Qifthi, Ibnul
Khasysyab Al-Baghdadi, Abul Wafa’ Al-Afghani, dan lain-lain—semuanya
orang hebat, setidaknya saya mengagumi karya-karya mereka.
Sementara
ada jutaan orang yang sibuk bahkan sampai kentir karena pengin kawin,
ada segelintir orang yang justru menjauhi keinginan itu dan memutuskan
untuk tidak kawin. Artinya, bagi saya, ada kebahagiaan bahkan kepuasan
dan ketenteraman yang setara atau senilai dengan pasangan hidup, dengan
perkawinan—setidaknya bagi mereka yang memilih tidak kawin.
Maksud
saya, jika orang pengin kawin karena tujuan ingin mendapatkan pasangan
agar bisa hidup tenteram dan bahagia, maka artinya orang-orang yang
telah memutuskan tidak kawin telah menemukan ketenteraman dan
kebahagiaan yang setara nilainya di luar perkawinan. Mungkin bersama
buku, mungkin bersama ilmu—siapa tahu…?
Saya tidak berani
memastikan, karena saya sendiri masih ragu. Saya hidup di zaman modern,
bukan di zaman dahulu kala sebagaimana orang-orang hebat yang kisahnya
tertulis di buku tadi. Saya menghadapi sistem nilai masyarakat, saya
menghadapi struktur dan takaran nilai moral kontemporer (jika belum
kawin dianggap belum lengkap atau masih kurang), saya bahkan menghadapi
orang tua saya sendiri yang tentunya menginginkan saya kawin.
Secara
pribadi, mungkin saya mampu menjauhkan atau bahkan menghilangkan
keinginan untuk kawin. Dalam sepuluh hal
penting yang ada dalam hidup saya, perkawinan menempati peringkat paling
bawah—itu pun jika dipaksa masuk. Artinya, kawin adalah hal paling
tidak penting di antara hal-hal penting lain dalam prioritas.
Tapi
saya tidak hidup sendiri di tengah hutan. Maksudnya, saya hidup di
tengah-tengah masyarakat yang memiliki nilai-nilai dan standar moral
tertentu yang—meski tidak tertulis—namun telah disepakati bersama. Dan
salah satu kesepakatannya adalah kawin.
Lebih dari itu, kadang
saya juga “menantang” diri sendiri dengan bertanya pada diri sendiri,
“Hei, Bayu. Kalau umpama suatu hari kamu ketemu cewek yang membuatmu
jatuh cinta dan mabuk kepayang dan kamu ingiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn kawin
dengannya, kira-kira masih kuatkah kamu memegang prinsipmu untuk tidak
kawin?”
Nah, saya tidak mampu menjawabnya.
Sekarang,
ketika membayangkan semua ini, tiba-tiba saya ingin tidur lagi. Ya,
mungkin tidur satu hari penuh lagi. Dan mungkin pula saya perlu berharap,
semoga ketika bangun nanti saya bukan merasa kelaparan, tapi merasa…
ingin kawin dengan pacar saya!uhuukk...
***