Saya, dan mungkin juga orang lain, sudah sering mendengar seseorang yang
mengatakan, “Hidupku ini mengalir, seperti air…” atau yang semacam itu.
Intinya, orang-orang yang mengatakan hidupnya mengalir seperti air itu
secara tidak langsung ingin menyatakan bahwa mereka bukanlah orang yang ngoyo dalam menjalani hidup, bahwa mereka adalah orang yang hanya mengikuti apa maunya hidup; mengalir seperti air.
Tentu
saja orang berhak untuk memegang atau menjalani atau mempercayai
filosofi hidupnya sendiri-sendiri. Begitu pula dengan orang-orang yang
menjadikan air yang mengalir sebagai filosofi hidupnya. Saya sendiri
terkadang membayangkan bahwa hidup ini memang mengalir seperti air—ia
tak pernah berhenti bergerak, ia terus mengalir…dan mengalir.
Sebagaimana air, laju atau perjalanan hidup tak bisa dibendung, karena
jika dibendung maka ia akan mencari celah lain untuk terus mengalir.
Sampai
kemudian saya melihat, atau lebih tepatnya lagi memahami, bahwa hidup
seorang manusia memiliki perbedaan yang sangat esensial dengan air.
Meskipun hidup dan kehidupan manusia mengalir, tetapi cara mengalirnya
amat berbeda dengan cara mengalirnya air. Hidup tidak sekedar mengalir,
dan bahwa manusia memiliki pilihan untuk mengalirkan dirinya, untuk
mengalirkan kehidupannya. Air tidak memiliki pilihan, sementara manusia
selalu memiliki pilihan, serta diberi kekuatan untuk memilih.
Ketika
air mengalir, ia mengalir kemana saja, ke celah manapun juga selama
memungkinkan, tak peduli mengalir ke sungai yang bersih ataupun mengalir
ke comberan yang kotor. Air tidak memiliki pilihan, ia hanya
mengalir—sebatas mengalir. Tetapi berbeda dengan manusia, atau lebih
tepatnya dengan hidup manusia. Manusia memiliki pilihan untuk
mengalirkan kehidupannya, dan ia selalu memiliki hak untuk memilih di
dalamnya. Ketika hidupnya mengalir ke tempat yang tidak diinginkannya,
manusia (selalu) bisa mengubah haluannya.
Saya pun menggunakan
kekuatan pilihan saya ketika menulis di blog ini. Sebagai manusia,
khususnya lagi sebagai penulis, sesungguhnya saya telah memiliki
‘celah-celah’ yang telah disediakan oleh kehidupan ini untuk mengalirkan
p(em)ikiran-p(em)ikiran saya. Celah-celah itu bisa berupa penerbit
buku, penerbit suratkabar, majalah, ataupun media-media lain yang
memungkinkan serta memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin
menyumbangkan karya tulisnya.
Tetapi ada kalanya ‘celah-celah’
tersebut tidak memungkinkan saya untuk mengalirkan sesuatu yang tengah
bergejolak di dalam pikiran saya. Ada kalanya apa yang ingin saya
sampaikan tidak sejalan dengan apa yang mereka inginkan, ada kalanya
sesuatu yang ingin saya alirkan bertabrakan dengan kepentingan mereka.
Hal-hal semacam ini tentu saja bukan sesuatu yang aneh, karena perbedaan
semacam itu sudah menjadi hukum alam dalam kehidupan, bahwa apa yang
dipikirkan seseorang belum tentu dapat diterima oleh pikiran yang
lainnya.
Karenanya, saya pun menulis di blog ini, sebagai salah
satu bentuk pilihan saya dalam mengalirkan apa yang ingin saya alirkan
dalam kehidupan saya. Karena, seperti halnya air, ketika ia merasa
terbendung oleh sesuatu maka ia pun akan mencari celah lain yang dapat
digunakannya untuk terus mengalir. Dan sebagaimana halnya air yang
mengalir, ada kalanya air itu dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup
lainnya namun ada kalanya juga menjadi sarana pencemaran lingkungan.
Untuk hal itu, saya berharap tidak menjadi si pencemar.
Sekali lagi, ini
adalah soal pilihan. Saya memilih untuk menutup akses blog yang satu dan
membuka akses blog yang lain secara bebas, dan blog inilah yang saya
pilih untuk dapat diakses siapa saja, yang kebetulan menemukannya. Blog
ini adalah salah satu tempat dimana saya akan mengalirkan apa saja yang
ingin saya alirkan dari pikiran saya, dan saya berharap aliran pikiran
di blog ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yang
lainnya.
Tetapi, sebagaimana air yang tak terhitung banyaknya di
dunia ini, blog ini pun bukan apa-apa; blog ini hanya satu di antara
sekian juta blog lain, dan blog ini sungguh bukanlah blog yang istimewa.
Blog ini hanya ditulis oleh orang yang biasa-biasa saja. Atau lebih
tepatnya; oleh orang biasa-biasa saja yang memilih untuk menggunakan
pilihannya…