2014-06-26

Catatan Dari Dalam Celana

Hidup bahagia seperti celana dalam yang pas.
Tidak longgar, tidak terlalu ketat. Nyaman digunakan.
-Bayu

Saat belanja pakaian, kadang-kadang saya juga membeli celana dalam. Untuk hal satu itu, saya melakukan survei pribadi, untuk menemukan celana dalam paling pas dan paling nyaman saat dipakai. Meski tak terlihat—karena tertutup celana luar—tingkat kenyamanan celana dalam berbanding lurus dengan tingkat kenyamanan hidup yang kita jalani. Maksud saya, kau tidak bisa nyaman menikmati hidup kalau ada sesuatu yang terselip apalagi terjepit di celana dalammu.



Jadi, saat membeli celana dalam, biasanya saya akan membeli beberapa merek sekaligus. Kebetulan, swalayan yang saya datangi menyediakan cukup banyak pilihan. Kemudian, seiring hari demi hari, saya akan mengenakan masing-masing celana dalam itu, untuk merasakan merek mana yang terasa paling pas dan paling nyaman. Yang keluar sebagai “pemenang” kemudian saya jadikan celana dalam pilihan.



Di antara berbagai merek celana dalam yang pernah saya pakai, sebenarnya rata-rata terasa pas dan nyaman. Sama-sama terbuat dari bahan yang lembut, pas di pinggang, dan tersedia dalam banyak warna pilihan. Tetapi, bagaimana pun, tentu ada yang pualiiiiing pas dan nyaman. Kita sebut saja celana dalam Merek X. 

Dibanding yang lain, celana dalam Merek X benar-benar hebat. Bahannya sangat lembut, hingga kita seperti tidak memakainya, karena begitu ringan memeluk pinggang, sangat halus menempel kulit, namun tepat dalam menyangga beban. Jika ada kompetisi celana dalam terbaik di dunia, mungkin Merek X akan menjadi pemenang.

Tetapi, bagaimana pun, sepertinya dunia ini tidak dibuat untuk sempurna. Celana dalam X yang hebat dan nyaris sempurna itu pun memiliki kekurangan. Yang ironis, kekurangan itu justru disebabkan oleh mereknya!

Jadi, celana dalam Merek X ditempeli label merek yang terbuat dari kain sintetis agak kaku, berukuran 5x2 sentimeter. Label merek itu dijahit secara horisontal di bagian karet sebelah dalam, di bagian belakang. Akibatnya, ketika dipakai, ujung merek yang kaku terasa menusuk-nusuk punggung. Padahal, rata-rata celana dalam lain memasang merek di bagian luar, di sebelah depan, sehingga keberadaan label merek sama sekali tidak mengganggu. 

Karena masalah sepele itu pula, saya jadi jengkel setiap kali memakai celana dalam Merek X. Semua struktur yang membentuk celana dalam itu hebat, tapi label mereknya justru bermasalah! Saya tidak habis pikir mengapa Merek X ingin “tampil beda” dengan memasang label merek di bagian dalam, padahal umumnya celana dalam lain memasang label merek di bagian luar.

Akhirnya, untuk mengatasi hal itu, saya terpaksa melepaskan label merek dengan cara menggunting semua jahitannya, hingga label yang mengganggu itu terlepas. Setelah labelnya hilang, celana dalam itu pun benar-benar nyaman saat dikenakan. Dan hidup terasa lebih indah. Nyanyian burung terdengar lebih merdu, dan daun-daun pohon yang bergoyang tampak seperti tarian bidadari.

Karena celana dalam Merek X yang saya miliki cukup banyak, aktivitas melepas label merek dari celana dalam itu pun cukup memakan waktu. Bagaimana pun, saya harus sangat hati-hati saat menggerakkan gunting waktu memotong benang-benang jahitannya, agar tidak melukai bahan celana dalamnya. Label merek itu harus terlepas dengan mulus, tanpa ada bagian lain yang terluka.

Ketika sedang sibuk melakukan kegiatan aneh itu, saya sempat berpikir dan bertanya-tanya. Mengapa celana dalam Merek X melakukan hal semacam itu—memasang label merek di bagian dalam? Apakah mereka tidak sempat memikirkan hal semacam itu bisa mengganggu dan membuat pemakainya tidak nyaman? Kenapa mereka tidak meniru celana dalam lain saja, yang memasang label merek di bagian luar?

Mungkin, pikir saya, celana dalam Merek X ingin tampil beda, agar tidak mainstream. Bisa jadi mereka berpikir label merek di bagian luar sudah sangat biasa, dan mereka ingin tampil unik. Tetapi apalah arti unik, jika hasilnya justru membuat tidak nyaman? Apalah arti berbeda, jika efeknya justru menjengkelkan?

Atau, bisa jadi, celana dalam Merek X ingin tampil bersahaja dan tidak menonjolkan diri. Jika celana dalam lain menempelkan label merek di bagian luar, Merek X memasang label mereknya di bagian dalam. Tetapi, sekali lagi, apalah arti bersahaja jika hasilnya ketidaknyamanan?

Hidup kita tak jauh beda dengan celana dalam itu, kalau dipikir-pikir. Sebagian orang menunjukkan identitasnya terang-terangan bahkan berharap bisa dikenal banyak orang, sementara sebagian lain ingin tak terlihat karena tidak ingin dikenal. Apa pun pilihannya, tentu hak dan pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, karena hidup adalah soal pilihan. Selama orang nyaman dengan pilihannya, kita tidak berhak mengganggu gugat.

Yang kadang menjadi masalah adalah pilihan yang didasari oleh sinisme atau keinginan untuk semata berbeda. Beberapa orang kadang sangat ingin dianggap antimainstream, sebegitu inginnya hingga mereka tampak sangat ekstrem. Padahal, tidak selamanya yang mainstream tak bernilai, sebagaimana tidak selamanya yang antimaintream pasti hebat.

Di Twitter, misalnya, ada cukup banyak orang yang sangat antiselebtwit. Sebegitu anti, sampai semua selebtwit jadi tampak seperti iblis baginya. Padahal, meski ada beberapa selebtwit yang songong campur bangsat, tapi banyak pula selebtwit yang baik dan ramah. Sebagian dari mereka bahkan sangat bersahaja, dan rajin memposting tweet-tweet lucu atau bermanfaat, hingga layak di-follow.

Identitas seseorang tak jauh beda dengan merek celana dalam. Apa pun mereknya, kita memilih dan memakai celana dalam bukan karena mereknya, melainkan karena kenyamanan. Bahkan, ketika merek yang melekat itu terasa mengganggu, saya sampai melepaskan label merek dari celana dalam demi bisa nyaman memakainya. Artinya, merek sama sekali tidak penting, jika dibandingkan kenyamanan.

Seseorang yang kita kenal mungkin punya merek artis, seleb di Twitter, public figure, atau orang terkenal di internet. Itu hanya merek. Sama seperti merek celana dalam, sebagian dari mereka ada yang menunjukkan identitasnya terang-terangan, ada pula yang menyembunyikan identitasnya karena tak ingin terlihat. Tetapi apa pun pilihannya, sekali lagi itu hak mereka. Jika kita nyaman dengan merek atau identitas mereka, silakan ambil. Jika tidak, cari yang lain.

Sebaliknya, kita juga punya hak untuk menunjukkan merek atau identitas kita sendiri, sebagaimana celana dalam yang kita kenakan. Kita bisa memamerkan merek itu di bagian luar secara terang-terangan, atau bisa pula menempelkannya di bagian dalam di sebelah belakang. Yang jelas, orang lain juga akan menilai merek atau identitas kita, sebagaimana kita menilai merek dan identitas orang lain. 

Sebagian orang memasang merek dan membangun identitasnya secara alami, dari tidak dikenal menjadi terkenal, karena berbagai kualitas yang dimilikinya. Sebagian lain memasang merek dan membangun identitasnya dengan cara ekstrem hingga menimbulkan kehebohan sesaat dan terkenal dalam waktu singkat. Sebagian lainnya lagi ingin dikenal sebagai pihak yang “pokoknya beda dengan siapa pun”. Terserah saja, itu pilihan masing-masing orang, dan orang-orang lain pula yang akan menilainya. 

Sebagaimana celana dalam, kita menilai kualitas dari kenyamanan. Apa pun merek seseorang, kita akan mendekat jika membuat nyaman, dan menjauh jika sebaliknya. Meski seseorang artis terkenal atau tokoh populer, kita tidak akan tertarik mendekatinya jika tidak merasa nyaman. Dan meski seseorang bukan siapa-siapa, kita pun menyukai berdekatan dengannya karena merasa nyaman. Merek sama sekali tidak penting. Karena yang penting adalah kenyamanan.

Dan, ketika melihat label-label merek berserakan setelah saya lepaskan dari celana dalam, saya pun jadi berpikir untuk tidak punya merek sama sekali. Kadang-kadang, ketiadaan merek justru terasa lebih baik dan membuat nyaman, sebagaimana label-label merek yang saya lepaskan dari celana dalam.

2014-01-15

Pelajaran Di Bawah Hujan

Kita tak pernah tahu sebesar apa dampak yang
ditimbulkan dari perbuatan kita yang mungkin kecil.
Bayu

Dahulu, kalau sedang asyik mengerjakan sesuatu, saya sering lupa segalanya, termasuk lupa makan. Sering kali saya baru sadar belum makan seharian setelah merasakan perut yang tiba-tiba keroncongan di tengah malam. Biasanya, kalau sudah begitu, saya agak panik. Karenanya pula, saya pun selalu berusaha menyiapkan makanan—aneka roti sampai mie instan—untuk jaga-jaga kalau muncul “keadaan darurat” semacam itu.

Suatu hari, saya asyik mengerjakan sesuatu, dan sama sekali tak sadar kalau seharian belum makan. Sejak bangun tidur sampai malam datang, saya hanya ngemil, minum teh, dan merokok. Saat pekerjaan selesai sekitar pukul 1 dini hari, tiba-tiba saya sadar belum makan seharian. Kesadaran itu memicu kesadaran lain—perut yang tiba-tiba terasa sangat kelaparan.

Maka, dengan agak buru-buru, saya pun mengeluarkan motor, dan ngebut mencari warung makan. Dini hari seperti itu sudah jarang warung makan yang masih buka, tapi saya tahu ada warung makan yang biasa buka sampai larut malam di depan tempat billiar. Lokasinya agak jauh, tapi sepertinya cuma warung makan itu yang bisa saya andalkan. Jadi saya pun menuju ke sana.

Tepat seperti yang saya harapkan, warung makan itu masih buka. Biasanya, bocah-bocah yang capek main billiar akan masuk ke warung itu, untuk minum dan ngobrol dengan teman-teman mereka. Ketika saya sampai, warung itu cukup sepi. Saya pun segera memarkir motor, lalu masuk warung dan memesan nasi.

Ketika sedang makan dengan lahap akibat kelaparan, tukang parkir di sana masuk ke warung, dan berkata pada saya, “Mas, uh... itu motornya menghalangi mobil yang akan keluar.”

Karena tadi buru-buru, saya memang memarkir motor agak sembarangan. Tapi sekarang saya tidak mungkin memutus makan hanya untuk membetulkan parkir motor. Maka saya pun memberikan kunci motor pada si tukang parkir, dan memintanya untuk mengurus parkir motor saya. Dia menerima kunci itu, dan segera keluar untuk mengerjakan tugasnya.

Seusai makan, saya merokok sambil memegangi perut yang kenyang. Rasanya nikmat sekali kalau kau kelaparan, kemudian menemukan warung yang tepat, dan bisa makan sampai kenyang. Setelah merasa cukup duduk di sana, saya pun bangkit untuk beranjak keluar warung. Waktu itu, bertepatan dengan gerimis yang mulai turun dari langit.

Pada saat itulah saya baru sadar kunci motor tidak di tangan. Kunci itu tadi saya berikan pada tukang parkir, dan dia belum mengembalikannya!

Dengan agak panik, saya buru-buru keluar warung. Waktu itu saya mengendarai Mega Pro, yang baru saya beli dua minggu! Saya sedang cinta-cintanya pada motor itu! Dan sekarang kunci motor itu dipegang orang lain yang sama sekali tidak saya kenal! Berbagai pikiran buruk segera melintas di pikiran. Bagaimana kalau motor yang masih baru itu dibawanya pergi...?

Dengan bergegas, saya menuju ke tempat tadi memarkir motor. Dan... omigod, motor itu tidak ada di sana!

Bagimana ini bagaimana ini bagaimana iniiiiihh...???

Sambil kebingungan, saya berdiri di tempat tadi memarkir motor, dan mengedarkan pandangan ke sana kemari dengan jantung berdebar. Pada waktu itulah kemudian seseorang mendekati saya, dan mengacungkan sesuatu. Tukang parkir yang tadi!

Dengan muka agak bingung, tukang parkir itu mengacungkan kunci motor saya, dan berkata, “Maaf, Mas, motornya saya pindahin ke sana, biar nggak kehujanan. Saya mau ngembaliin kunci ini, tapi nggak enak, situ masih makan.”

Bersama perasaan yang lega tiba-tiba, saya tak mampu berkata apa-apa, selain, “Ya, nggak apa-apa.”

Saya pun menuju tempat parkir motor, yang kini telah dipindahkan di bawah atap. Setelah memberikan uang pada tukang parkir itu, saya segera melaju menembus gerimis yang masih turun.

Sebenarnya, kisah ini sudah selesai, kalau saja hal yang sama tidak terulang.

Sekitar dua minggu setelah kejadian itu, saya kembali lupa makan karena asyik mengerjakan sesuatu. Larut malam, saya baru menyadari perut keroncongan, dan segera mengeluarkan motor untuk mencari makan. Seperti dua minggu sebelumnya, waktu itu pun saya langsung menuju warung yang ada di tempat billiar. Dalam keadaan kelaparan, saya tentu tidak mungkin keluyuran ke sana kemari hanya untuk mencari warung makan yang masih buka.

Sesampai di sana, saya memarkir motor di tempat yang aman, di bawah atap, seperti yang dilakukan tukang parkir dua minggu sebelumnya. Waktu itu masih musim hujan, jadi gerimis sering kali turun sewaktu-waktu. Setelah memastikan motor aman dan tidak akan mengganggu lalu lintas kendaraan lain, saya pun melangkah masuk warung untuk makan.

Seusai makan dan menikmati rokok secukupnya, saya memutuskan untuk pergi. Pada waktu keluar dari warung dan sedang melangkah menuju tempat motor, hujan turun dari langit. Tanpa gerimis. Air seperti tiba-tiba dicurahkan dari atas. Saya pun berlari-lari kecil menuju tempat parkir motor, berharap bisa berteduh di sana.

Harapan saya terwujud. Tempat parkir motor agak lengang, dan atap di atasnya cukup mampu melindungi dari curah hujan. Ketika saya sampai di tempat itu, si tukang parkir juga tampak sedang berteduh. Ia berdiri menyandar tembok, sambil menyedekapkan tangan, seperti kedinginan. Dia tersenyum waktu melihat saya datang, dan saya pun membalas senyumnya.

Kami berdiri bersisian. Sepertinya dia sebaya dengan saya, tapi mungkin kerasnya hidup menjadikannya tampak lebih dewasa. Semula, kami hanya diam, menatap hujan yang turun. Lalu saya mengeluarkan rokok, menyulut sebatang, dan menawarinya. Dia mengambil sebatang, menyulutnya, lalu kami mulai bercakap-cakap.

Percakapan kami waktu itu hanya basa-basi antar dua lelaki yang tak saling kenal. Dia bertanya apakah saya pelanggan warung itu, karena dia mendapati saya dua kali makan di sana. Saya menjawab, teman-teman saya biasa main billiar di tempat itu, kadang saya menemani mereka, dan saya pun tahu masakan di warung itu cukup enak. Apalagi kalau sedang kelaparan. Jadi kalau sewaktu-waktu butuh makan di larut malam, warung itulah yang segera terbayang di benak saya.

Hujan masih turun. Sesekali kilat menerangi bumi.

Percakapan yang semula kaku lama-lama mulai mencair, bersama asap rokok yang mengepul di antara kami. Kemudian, setelah kami terdiam beberapa saat karena kehabisan bahan percakapan, tukang parkir itu menatap saya dengan bingung, lalu berkata perlahan-lahan, “Mas, sebenarnya saya harus ngucapin terima kasih.”

Saya menatapnya dengan bingung. “Untuk apa?”

“Untuk kepercayaan tempo hari.”

Saya masih belum paham.

Kemudian, dengan agak ragu, tukang parkir itu menceritakan. Dua minggu sebelumnya, ketika kami bertemu pertama kali saat saya makan di sana, dia baru lima hari keluar dari penjara. Seperti bekas narapidana lainnya, dia juga gamang menghadapi hari barunya di luar penjara. Dia merasa tidak ada orang yang akan mempercayainya.

Akibat suatu kesalahan, dia dihukum dua tahun di penjara. Saat bebas, dia kesulitan berbaur kembali dengan masyarakatnya, karena stigma bekas napi membuat orang lain memilih menjauh. Teman-teman yang dulu dikenalnya berpaling, orang di kampungnya terlihat menjaga jarak, bahkan keluarganya sendiri pun sepertinya tak bisa lagi percaya kepadanya.

Satu-satunya tempat dia bisa meneruskan hidup adalah di tempat billiar itu, karena kebetulan dia kenal dekat dengan pemiliknya. Setelah berusaha meyakinkan bahwa dia telah bertaubat, si pemilik tempat billiar memberi kesempatan padanya untuk menjaga tempat parkir. Dia baru lima hari berada di tempat itu, ketika suatu malam bertemu saya yang makan di sana.

Dan, waktu itu, saya menyerahkan kunci motor kepadanya.

Sesuatu yang tampaknya remeh itu ternyata memiliki arti besar bagi dirinya. Seseorang yang tak ia kenal mempercayakan kunci motor kepadanya—seseorang mempercayainya! Kenyataan itu seperti mengembalikan rasa percaya dirinya, bahkan memulihkan harga dirinya. Ia merasa masih layak dipercaya—setidaknya masih ada orang yang mau percaya kepadanya.

“Karena itulah saya ingin ngucapin terima kasih,” ujarnya sambil menatap saya dengan campuran bingung dan malu.

Saya tak mampu berucap apa-apa, karena tiba-tiba merasa bersalah. Saya masih ingat, dua minggu sebelumnya, saya sempat was-was begitu ingat kunci motor saya ada padanya. Tapi rupanya dia menjaga kepercayaan saya. Bukannya membawa lari motor yang tampak masih baru, dia justru memindahkannya ke tempat yang aman.

Hujan masih turun, sesekali terdengar suara petir di kejauhan.

Dini hari itu, berdiri di bawah atap bersama seseorang yang tidak saya kenal, di bawah hujan yang membekukan, tiba-tiba saya merasa mendapat pelajaran penting. Sesuatu yang tampaknya remeh yang kita lakukan, bisa jadi sangat besar artinya bagi orang lain.

2014-01-06

Masalah Malam Tahun Baru Masehi

Berulang kali saya mengalami masa-masa tersebut. Tapi saya mulai yakin, bahwa malam tahun baru saya adalah malam 1 Muharram.