2014-01-15

Pelajaran Di Bawah Hujan

Kita tak pernah tahu sebesar apa dampak yang
ditimbulkan dari perbuatan kita yang mungkin kecil.
Bayu

Dahulu, kalau sedang asyik mengerjakan sesuatu, saya sering lupa segalanya, termasuk lupa makan. Sering kali saya baru sadar belum makan seharian setelah merasakan perut yang tiba-tiba keroncongan di tengah malam. Biasanya, kalau sudah begitu, saya agak panik. Karenanya pula, saya pun selalu berusaha menyiapkan makanan—aneka roti sampai mie instan—untuk jaga-jaga kalau muncul “keadaan darurat” semacam itu.

Suatu hari, saya asyik mengerjakan sesuatu, dan sama sekali tak sadar kalau seharian belum makan. Sejak bangun tidur sampai malam datang, saya hanya ngemil, minum teh, dan merokok. Saat pekerjaan selesai sekitar pukul 1 dini hari, tiba-tiba saya sadar belum makan seharian. Kesadaran itu memicu kesadaran lain—perut yang tiba-tiba terasa sangat kelaparan.

Maka, dengan agak buru-buru, saya pun mengeluarkan motor, dan ngebut mencari warung makan. Dini hari seperti itu sudah jarang warung makan yang masih buka, tapi saya tahu ada warung makan yang biasa buka sampai larut malam di depan tempat billiar. Lokasinya agak jauh, tapi sepertinya cuma warung makan itu yang bisa saya andalkan. Jadi saya pun menuju ke sana.

Tepat seperti yang saya harapkan, warung makan itu masih buka. Biasanya, bocah-bocah yang capek main billiar akan masuk ke warung itu, untuk minum dan ngobrol dengan teman-teman mereka. Ketika saya sampai, warung itu cukup sepi. Saya pun segera memarkir motor, lalu masuk warung dan memesan nasi.

Ketika sedang makan dengan lahap akibat kelaparan, tukang parkir di sana masuk ke warung, dan berkata pada saya, “Mas, uh... itu motornya menghalangi mobil yang akan keluar.”

Karena tadi buru-buru, saya memang memarkir motor agak sembarangan. Tapi sekarang saya tidak mungkin memutus makan hanya untuk membetulkan parkir motor. Maka saya pun memberikan kunci motor pada si tukang parkir, dan memintanya untuk mengurus parkir motor saya. Dia menerima kunci itu, dan segera keluar untuk mengerjakan tugasnya.

Seusai makan, saya merokok sambil memegangi perut yang kenyang. Rasanya nikmat sekali kalau kau kelaparan, kemudian menemukan warung yang tepat, dan bisa makan sampai kenyang. Setelah merasa cukup duduk di sana, saya pun bangkit untuk beranjak keluar warung. Waktu itu, bertepatan dengan gerimis yang mulai turun dari langit.

Pada saat itulah saya baru sadar kunci motor tidak di tangan. Kunci itu tadi saya berikan pada tukang parkir, dan dia belum mengembalikannya!

Dengan agak panik, saya buru-buru keluar warung. Waktu itu saya mengendarai Mega Pro, yang baru saya beli dua minggu! Saya sedang cinta-cintanya pada motor itu! Dan sekarang kunci motor itu dipegang orang lain yang sama sekali tidak saya kenal! Berbagai pikiran buruk segera melintas di pikiran. Bagaimana kalau motor yang masih baru itu dibawanya pergi...?

Dengan bergegas, saya menuju ke tempat tadi memarkir motor. Dan... omigod, motor itu tidak ada di sana!

Bagimana ini bagaimana ini bagaimana iniiiiihh...???

Sambil kebingungan, saya berdiri di tempat tadi memarkir motor, dan mengedarkan pandangan ke sana kemari dengan jantung berdebar. Pada waktu itulah kemudian seseorang mendekati saya, dan mengacungkan sesuatu. Tukang parkir yang tadi!

Dengan muka agak bingung, tukang parkir itu mengacungkan kunci motor saya, dan berkata, “Maaf, Mas, motornya saya pindahin ke sana, biar nggak kehujanan. Saya mau ngembaliin kunci ini, tapi nggak enak, situ masih makan.”

Bersama perasaan yang lega tiba-tiba, saya tak mampu berkata apa-apa, selain, “Ya, nggak apa-apa.”

Saya pun menuju tempat parkir motor, yang kini telah dipindahkan di bawah atap. Setelah memberikan uang pada tukang parkir itu, saya segera melaju menembus gerimis yang masih turun.

Sebenarnya, kisah ini sudah selesai, kalau saja hal yang sama tidak terulang.

Sekitar dua minggu setelah kejadian itu, saya kembali lupa makan karena asyik mengerjakan sesuatu. Larut malam, saya baru menyadari perut keroncongan, dan segera mengeluarkan motor untuk mencari makan. Seperti dua minggu sebelumnya, waktu itu pun saya langsung menuju warung yang ada di tempat billiar. Dalam keadaan kelaparan, saya tentu tidak mungkin keluyuran ke sana kemari hanya untuk mencari warung makan yang masih buka.

Sesampai di sana, saya memarkir motor di tempat yang aman, di bawah atap, seperti yang dilakukan tukang parkir dua minggu sebelumnya. Waktu itu masih musim hujan, jadi gerimis sering kali turun sewaktu-waktu. Setelah memastikan motor aman dan tidak akan mengganggu lalu lintas kendaraan lain, saya pun melangkah masuk warung untuk makan.

Seusai makan dan menikmati rokok secukupnya, saya memutuskan untuk pergi. Pada waktu keluar dari warung dan sedang melangkah menuju tempat motor, hujan turun dari langit. Tanpa gerimis. Air seperti tiba-tiba dicurahkan dari atas. Saya pun berlari-lari kecil menuju tempat parkir motor, berharap bisa berteduh di sana.

Harapan saya terwujud. Tempat parkir motor agak lengang, dan atap di atasnya cukup mampu melindungi dari curah hujan. Ketika saya sampai di tempat itu, si tukang parkir juga tampak sedang berteduh. Ia berdiri menyandar tembok, sambil menyedekapkan tangan, seperti kedinginan. Dia tersenyum waktu melihat saya datang, dan saya pun membalas senyumnya.

Kami berdiri bersisian. Sepertinya dia sebaya dengan saya, tapi mungkin kerasnya hidup menjadikannya tampak lebih dewasa. Semula, kami hanya diam, menatap hujan yang turun. Lalu saya mengeluarkan rokok, menyulut sebatang, dan menawarinya. Dia mengambil sebatang, menyulutnya, lalu kami mulai bercakap-cakap.

Percakapan kami waktu itu hanya basa-basi antar dua lelaki yang tak saling kenal. Dia bertanya apakah saya pelanggan warung itu, karena dia mendapati saya dua kali makan di sana. Saya menjawab, teman-teman saya biasa main billiar di tempat itu, kadang saya menemani mereka, dan saya pun tahu masakan di warung itu cukup enak. Apalagi kalau sedang kelaparan. Jadi kalau sewaktu-waktu butuh makan di larut malam, warung itulah yang segera terbayang di benak saya.

Hujan masih turun. Sesekali kilat menerangi bumi.

Percakapan yang semula kaku lama-lama mulai mencair, bersama asap rokok yang mengepul di antara kami. Kemudian, setelah kami terdiam beberapa saat karena kehabisan bahan percakapan, tukang parkir itu menatap saya dengan bingung, lalu berkata perlahan-lahan, “Mas, sebenarnya saya harus ngucapin terima kasih.”

Saya menatapnya dengan bingung. “Untuk apa?”

“Untuk kepercayaan tempo hari.”

Saya masih belum paham.

Kemudian, dengan agak ragu, tukang parkir itu menceritakan. Dua minggu sebelumnya, ketika kami bertemu pertama kali saat saya makan di sana, dia baru lima hari keluar dari penjara. Seperti bekas narapidana lainnya, dia juga gamang menghadapi hari barunya di luar penjara. Dia merasa tidak ada orang yang akan mempercayainya.

Akibat suatu kesalahan, dia dihukum dua tahun di penjara. Saat bebas, dia kesulitan berbaur kembali dengan masyarakatnya, karena stigma bekas napi membuat orang lain memilih menjauh. Teman-teman yang dulu dikenalnya berpaling, orang di kampungnya terlihat menjaga jarak, bahkan keluarganya sendiri pun sepertinya tak bisa lagi percaya kepadanya.

Satu-satunya tempat dia bisa meneruskan hidup adalah di tempat billiar itu, karena kebetulan dia kenal dekat dengan pemiliknya. Setelah berusaha meyakinkan bahwa dia telah bertaubat, si pemilik tempat billiar memberi kesempatan padanya untuk menjaga tempat parkir. Dia baru lima hari berada di tempat itu, ketika suatu malam bertemu saya yang makan di sana.

Dan, waktu itu, saya menyerahkan kunci motor kepadanya.

Sesuatu yang tampaknya remeh itu ternyata memiliki arti besar bagi dirinya. Seseorang yang tak ia kenal mempercayakan kunci motor kepadanya—seseorang mempercayainya! Kenyataan itu seperti mengembalikan rasa percaya dirinya, bahkan memulihkan harga dirinya. Ia merasa masih layak dipercaya—setidaknya masih ada orang yang mau percaya kepadanya.

“Karena itulah saya ingin ngucapin terima kasih,” ujarnya sambil menatap saya dengan campuran bingung dan malu.

Saya tak mampu berucap apa-apa, karena tiba-tiba merasa bersalah. Saya masih ingat, dua minggu sebelumnya, saya sempat was-was begitu ingat kunci motor saya ada padanya. Tapi rupanya dia menjaga kepercayaan saya. Bukannya membawa lari motor yang tampak masih baru, dia justru memindahkannya ke tempat yang aman.

Hujan masih turun, sesekali terdengar suara petir di kejauhan.

Dini hari itu, berdiri di bawah atap bersama seseorang yang tidak saya kenal, di bawah hujan yang membekukan, tiba-tiba saya merasa mendapat pelajaran penting. Sesuatu yang tampaknya remeh yang kita lakukan, bisa jadi sangat besar artinya bagi orang lain.

2014-01-06

Masalah Malam Tahun Baru Masehi

Berulang kali saya mengalami masa-masa tersebut. Tapi saya mulai yakin, bahwa malam tahun baru saya adalah malam 1 Muharram.

2013-12-10

Cewek - cewek Suka Cowok Brengsek

Meski kadang sebagian orang masih meragukan kenyataan ini, tapi faktanya cewek-cewek memang suka cowok brengsek. Itu sudah jadi rahasia umum, bahkan sudah menjadi kenyataan yang sangat mencolok mata, meski kadang masih ada orang yang mencoba menyangkalnya.

Sedari SMA, saya memperhatikan teman-teman cowok saya yang mudah mendapat pacar justru mereka-mereka yang brengsek. Sementara cowok-cowok yang kalem, baik, alim, justru tampak kesulitan mendapat pacar—atau tidak ada cewek yang tertarik pada mereka. “Keanehan” itu terus terjadi ketika masa kuliah. Cowok-cowok yang brengsek justru mudah gonta-ganti pacar, sementara cowok-cowok yang “lurus” kesulitan cari pacar.

Apakah cewek-cewek pernah menyadari kenyataan aneh ini...?

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, cewek-cewek memang suka cowok brengsek!

Kalian mungkin pernah, atau malah sering, mendapati cewek yang curhat setelah putus dari pacarnya, dan menyatakan kalau cowoknya ternyata brengsek. Anehnya, kalau kita perhatikan, cowok yang baru putus dengan cewek itu memang brengsek. Bahkan, kalau kita mau lebih memperhatikan, sebenarnya ada banyak cowok lain yang lebih baik dari cowok itu. Tapi mengapa cewek teman kita justru jatuh pada cowok yang brengsek?

Sekarang, hei cewek-cewek, mari kita buat ilustrasi yang mudah, dan coba lihat seperti apa pilihanmu.

Ada dua cowok—kita sebut saja Cowok A dan Cowok B. Mereka memiliki penampilan yang sama—katakan saja sama-sama ganteng. Mereka memiliki latar belakang yang sama, punya tingkat kecerdasan yang sama, dan segala hal yang relatif sama. Bedanya, Cowok A tergolong “sangat lurus”, sedang Cowok B termasuk “brengsek”. Kira-kira, mana yang kalian pilih?

Secara teori, mungkin kalian bisa mudah menjawab, “Tentu saja gue pilih Cowok A, dong, yang hidupnya lurus!”

Sayangnya, dalam praktik, cewek-cewek akan lebih cenderung memilih Cowok B, yang relatif brengsek.

Mengapa...? Karena, dalam realitas, Cowok B—yang brengsek—tampak lebih asyik... dan lebih menantang!

Dalam kehidupan anak muda seperti kita, kepemilikan pacar sering kali bukan hanya untuk “mendamaikan hati” karena telah terlepas dari “kutukan jomblo”, tetapi juga untuk pamer dan bangga-banggaan. Oh, ayolah, tidak usah munafik. Karenanya, mendapatkan pacar yang “menantang” (dengan kata lain; brengsek) membuat kita—disadari atau tidak—bangga karena bisa dipamer-pamerkan. Hal itu sulit dilakukan jika pacar kita tergolong orang yang “lurus-lurus saja”, karena kesannya kurang menantang.

Selain itu, cowok brengsek juga sering ditaksir banyak cewek. Buktinya kau sendiri jatuh hati kepadanya. Karenanya, mendapatkan pacar yang tergolong brengsek membuat cewek bangga, karena merasa dapat “menundukkan” si brengsek. Sementara cowok lurus jarang ditaksir cewek-cewek. Karenanya pula, mendapatkan cowok yang lurus kurang mendatangkan kebanggaan.

Jadi, mengapa cewek-cewek suka cowok brengsek? Karena faktor tantangan. Dan karena alasan kebanggaan. Motivasi semacam itu biasanya sangat kuat pada cewek-cewek yang mencari cowok untuk hubungan pacaran. Biasanya pula, semakin mereka tumbuh dewasa, dan semakin terbuka matanya, mereka pun akan mulai menyadari bahwa faktor tantangan serta kebanggaan seperti itu mulai tak penting lagi. Khususnya jika motivasi mencari pasangan untuk hubungan yang lebih serius.

Nah, bagaimana dengan cowok-cowok? Apakah cowok juga lebih suka pada cewek brengsek daripada cewek yang lurus?

Sebenarnya, cowok pun tak jauh beda. Sebagai manusia, mereka juga menyukai tantangan—dan cewek yang brengsek sering kali tampak lebih menantang. Saya tidak mau pukul rata, karena bisa jadi selera masing-masing cowok berbeda. Karenanya, saya akan mengurai diri saya sendiri dalam kecenderungan atau ketertarikan terhadap lawan jenis.

Sebagai cowok normal—yang suka lawan jenis—tentu saja saya punya kecenderungan terhadap cewek. Dan cewek yang “agak nakal” (tolong perhatikan tanda kutipnya), bagi saya jauh lebih menarik daripada cewek yang “terlalu lurus” (sekali lagi, tolong perhatikan tanda kutipnya).

Cewek “nakal” yang saya maksud adalah cewek yang asyik, tidak sok jaim apalagi sok alim, pendeknya tidak terlalu konservatif. Bisa saja cewek “nakal” itu tergolong salihah, tapi dia tidak sok menunjuk-nunjukkan salihahnya secara demonstratif. Biasanya, cewek semacam itu asyik dijadikan teman, asyik pula dijadikan pacar. Sebaliknya, cewek yang terlalu lurus—apalagi sok alim—sering kali membosankan!

Kadang-kadang saya membayangkan ilustrasi seperti ini.

Ada dua cewek—kita sebut saja Cewek A dan Cewek B. Mereka memiliki kualitas yang sama—cantiknya, pintarnya, segalanya. Bedanya, cewek A tergolong nakal, sedang cewek B sangat lurus.

Kalau saya kencan dengan cewek A, obrolan kami mengalir asyik dan nyambung. Kami bisa bercanda dan tertawa penuh kecocokan, tidak ada upaya untuk saling mengungguli atau berusaha membuat terkesan satu sama lain. Umpama kebetulan dia mendapati video bokep di ponsel saya, dia cuma tertawa. Dia tidak menampilkan kesan sok jaim atau sok alim.

Kemungkinan besar, saya akan melanjutkan kencan kami, karena merasa cocok. Saya tidak perlu menyembunyikan apa pun darinya, dan merasa nyaman.

Sekarang, kalau saya kencan dengan cewek B, yang terlalu lurus, saya membayangkan obrolan kami kurang nyambung, sekaligus tidak asyik.

Karena merasa dirinya lurus, dia berusaha membuat saya terkesan, dan upaya itu menjadikannya tidak jujur sekaligus tidak wajar. Umpama dia mendapati video bokep di ponsel saya, dia akan menunjukkan sikap sok jaim, lalu berceramah panjang lebar tentang siksa neraka, dan mengkhotbahi saya macam-macam. Bah! Kita mau kencan atau latihan kultum...???

Kira-kira, apakah saya akan melanjutkan kencan dengan cewek semacam itu? Jawabannya jelas; Tidak!

Apa intisari yang dapat kita ambil dari ilustrasi-ilustrasi di atas? Bagi saya, inilah pelajarannya: Jadilah menantang bagi lawan jenis, tapi tidak usah berusaha membuat mereka terkesan! Biarkan dia terkesan kepada kita, tanpa kita harus berusaha membuatnya terkesan. Dan, kau tahu, kita lebih sering terkesan pada orang yang apa adanya, daripada orang yang sok segalanya.

Itulah yang dilakukan cowok-cowok brengsek, dan cewek-cewek brengsek! Mereka tampil apa adanya, jujur, tidak dibuat-buat, tidak menutup-nutupi diri sendiri—tidak sok jaim, apalagi sok alim.

Karena mereka tampil apa adanya, nilai minus mereka justru tak terlihat, dan kita tertarik pada mereka! Cowok-cowok brengsek, dan cewek-cewek brengsek, memiliki satu hal positif yang sering kali tak dimiliki orang-orang sok alim, yaitu kejujuran! Mereka jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain—jujur bahwa dirinya brengsek.

Karena mereka jujur, kita pun tertarik, dan merasa nyaman bersamanya. Dan, bagi saya, merasa nyaman dengan seseorang adalah syarat pertama untuk melangsungkan suatu hubungan. Well, bagaimana denganmu...?