2012-12-31

10 Buku Paling "WOW" yang Saya Baca Sepanjang 2012

Kita perlu bersyukur, karena kiamat tak terjadi pada tahun ini sebagaimana yang digembar-gemborkan segelintir bocah kurang kerjaan di Hollywood. Karena kiamat tak terjadi, dan kita masih diberi kesempatan hidup, kita pun masih dapat melakukan hal-hal menyenangkan di muka bumi, yang salah satunya membaca buku.

Ada cukup banyak buku bagus yang saya baca tahun ini—fiksi maupun nonfiksi—dan saya patut gembira karena tahun ini jumlah buku yang saya baca mengalami kenaikan. Jika tahun kemarin saya hanya mengkhatamkan 25 judul buku, tahun ini agak meningkat, menjadi 31 judul buku. Ini memang wujud “balas dendam” saya pada tahun kemarin yang mengalami penurunan dalam jumlah bacaan. Semoga tahun depan saya bisa lebih meningkatkannya lagi.

Well, seperti tahun kemarin, saya ingin kembali berbagi pengalaman atas buku-buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun ini, siapa tahu bisa menjadi wawasan teman-teman yang ingin menemukan buku “tak dikenal namun mengagumkan”. Daftar berikut tidak saya maksudkan sebagai rekomendasi, namun sebagai apresiasi saya—yang tentu bisa subjektif—atas buku-buku yang saya anggap bagus.

Berikut ini—saya tulis secara alfabetis berdasarkan nama penulisnya—10 buku yang saya anggap terbaik dari 31 buku yang saya baca sepanjang 2012. Silakan disimak.


Charles Dickens: A Christmas Carol

Mencari buku ini, bagi saya, seperti melakukan perburuan harta karun. Saya sudah tahu kehebatan A Christmas Carol sejak bertahun-tahun lalu, dari ulasan-ulasan yang pernah saya baca, bahkan dari film produksi Disney yang mengangkat novel ini menjadi film menawan. Tetapi saya belum pernah membaca novelnya sama sekali. Karenanya, saya pun sampai keluyuran kesana kemari demi bisa mendapatkannya.

Setelah menemukannya, semua upaya yang saya lakukan dalam pencarian rasanya terbayar lunas. A Christmas Carol sangat sederhana, tapi sangat dalam dan mempesona. Tak heran, jika novel yang terbit pada 1843 ini disebut sebagai karya terbesar Charles Dickens. Meski sudah terbit lebih dari 1,5 abad yang lalu, novel ini masih relevan bersama waktu.

(Catatan: A Christmas Carol telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, namun penerjemahan dan editingnya tak bisa dibilang bagus. So, kalau ingin membaca novel ini, sebaiknya carilah yang edisi bahasa Inggris).


Ernest Jones: Dunia Freud

Bagi yang rutin membaca tulisan saya di blog, pasti tahu salah satu nama yang sering saya sebut. Ya, Sigmund Freud. Saya memang banyak mengadopsi pemikiran Freud dalam catatan-catatan saya, khususnya yang berhubungan dengan psikologi manusia. Kita sama-sama sepakat, Freud adalah pemikir besar, khususnya dalam bidang psikoanalisa.

Buku ini, yang merupakan terjemahan The Life and Work of Sigmund Freud, adalah biografi Freud yang tergolong lengkap. Isinya mencakup masa kanak-kanak Freud, hingga ia kuliah, menikah, pergolakan batin dan pemikiran-pemikirannya, sampai masa-masa keemasannya ketika melahirkan karyanya yang terbesar, The Interpretation of Dream.

Tidak sedikit orang yang sinis terhadap Freud. Bahkan ada yang cukup nekat memburuk-burukkan nama Freud dengan setumpuk tuduhan mengerikan. Tetapi, penilaian parsial kepada Freud benar-benar tak pernah adil jika kita tidak mengetahui latar belakang hidup Freud secara utuh. Di buku ini, kita akan menyaksikan Sigmund Freud bukan hanya tokoh besar dan pemikir yang gelisah. Ia juga pribadi yang rendah hati.


Friedrich Nietzsche: Zarathustra

Pertama kali mengenal Zarathustra, ketika saya kelas 2 SMA, bertahun-tahun lalu. Waktu itu, tanpa sengaja, saya menemukan sebuah buku yang luar biasa tebal di perpustakaan sekolah, dengan judul dan nama penulis yang aneh. Karena penasaran, saya pun meminjamnya, dan membacanya. Itulah kali pertama saya mengenal nama Friedrich Nietzsche, dan kali pertama saya membaca Zarathustra edisi lengkap.

Karena masih bocah (kelas 2 SMA), saya tidak terlalu paham ketika membaca buku itu, meski mengkhatamkannya. Tetapi, walau begitu, saya seperti diberitahu bahwa Friedrich Nietzsche adalah orang yang pemikirannya layak dibaca dan direnungkan. Kenyataannya memang benar. Ketika dewasa, saya tahu dialah satu-satunya orang yang berani berkata blak-blakan bahwa Tuhan sudah mati.

Nah, buku ini—Zarathustra yang saya baca tahun ini—adalah edisi ringkasan, yang jauh lebih tipis dibanding Zarathustra edisi lengkap yang saya baca sewaktu SMA. Buku ini seperti cuilan roti yang diambil dari sepotong roti besar yang sangat lezat. Karenanya, meski secuil, rasanya tetap sangat lezat, dan membikin penasaran serta ketagihan. Isinya sangat... sangat dalam, khas Nietzsche. Zarathustra, dalam bayangan saya, adalah tandingan karya agung Kahlil Gibran, The Prophet. Jika Gibran menulis dengan elegan, Nietzsche menulis dengan gahar.

Seusai mengkhatamkan Zarathustra, dan mencium sampulnya, diam-diam saya berdoa, “Tuhan, tolong ampuni dosa-dosa Nietzsche, kalau memang ada. Meski kadang kurang ajar, tapi dia sangat keren!”


Gilang Pratama: Cuci Otak NII

Gilang Pratama adalah salah satu korban perekrutan NII yang mengangankan membangun negara Islam di Indonesia. Setelah bertahun-tahun bergabung dengan organisasi itu—sehingga tahu seluk beluk NII seutuhnya—Gilang Pratama akhirnya menyadari bahwa organisasi yang mengatasnamakan Islam itu tak lebih dari organisasi mafia pencuci otak yang hanya menginginkan uang dan keuntungan dari para anggotanya.

Buku ini merupakan memoar dan pengakuan blak-blakan penulisnya tentang bagaimana ia direkrut sebagai anggota NII, aktif di dalamnya, hingga “karir”nya mencapai pangkat Juru Doktrin yang bertugas merekrut dan mencuci otak para calon anggota baru. Karenanya, subjudul buku ini adalah Pengakuan Mantan Juru Doktrin NII.

Gilang Pratama mengisahkan, ketertarikannya pada NII karena ingin belajar Islam secara mendalam, karena menyadari dirinya masih sangat awam dalam hal agama. Tetapi keinginan mulia itu disalahgunakan oleh NII yang merekrutnya, hingga ia kemudian terjebak dalam jaring-jaring organisasi underground yang berlimpah kejahatan, pemerasan, pemutarbalikan ajaran agama, bahkan sampai ancaman pembunuhan.

Buku ini tidak hanya memaparkan perjalanan penulisnya dalam organisasi NII, tetapi juga memaparkan bagaimana liciknya NII memutarbalikkan ajaran-ajaran agama demi kebutuhan dan keuntungannya sendiri. Siapa pun yang merasa ingin belajar Islam karena merasa dirinya masih awam, sebaiknya membaca buku ini, agar tidak terjebak dalam rayuan NII. Lebih penting lagi, agar tidak terjebak menjadi orang sok suci yang merasa paling benar sendiri.


Henry D. Aiken: Abad Ideologi

Abad Ideologi adalah album pemikiran bocah-bocah paling mempesona di dunia. Di buku ini, Henry David Aiken mempertemukan silang sengkarut dan perdebatan ideologis abad ke-19 antara Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, G.W.F. Hegel, Arthur Schopenhauer, Auguste Comte, John Stuart Mill, Herbert Spencer, Soren Kierkegaard, Ernst Mach, hingga Karl Marx dan Friedrich Nietzsche.

Dunia filsafat abad ke-19 adalah periode paling semarak, eksplosif, dan revolusioner, karena pada masa itu terjadi pembongkaran secara sistematis atas metode dan pandangan filsafat tradisional. Buku ini memaparkan pengaruh pemikiran bocah-bocah keren yang namanya disebut di atas, juga kecenderungan filosofis periode itu atas berbagai dilema filsafat yang kelak mengikutinya.

Henry Aiken menulis buku ini dengan arif dan inspiratif. Saya membacanya sambil melayang penuh orgasmik.


H. P. Blavatsky: The Key to Theosophy

Judul selengkapnya adalah The Key to Theosophy: A Clear Exposition, in the Form of Questions and Answer, of the Ethics, Science and Philosophy for the Study of which the Theosophical Society has been Founded.

H. P. Blavatsky—atau populer disapa Madame Blavatsky—adalah salah satu pemikir wanita paling berpengaruh abad ke-19, serta pendiri teosofi. Buku ini memuat tanya jawab dengan H. P. Blavatsky tentang teosofi dan pernak-perniknya, serta persoalan-persoalan mendalam seputar keyakinan manusia kepada Tuhan dan hal-hal gaib.

Sejujurnya, saya harus membaca buku ini perlahan-lahan agar dapat memahami sepenuhnya. Dan selama membaca, saya benar-benar kagum pada wawasan serta pengetahuan Madame Blavatsky. Wanita itu selalu dapat menjawab semua pertanyaan dengan keluwesan, serta cara menjawab yang elegan.

Buku ini tidak ditujukan untuk orang-orang yang merasa paling suci dan sok benar sendiri. The Key to Theosophy adalah buku yang menggelisahkan pikiran, perjalanan pencarian dari gelap menuju terang, dari kenaifan menuju pemahaman.


Ian F. McNeely & Lisa Wolverton:
Para Penjaga Ilmu Dari Alexandria Sampai Internet

Demetrius dari Phaleron (360 SM-280 SM) mungkin tidak terkenal. Tapi dia salah satu orang genius yang pernah dimiliki planet Bumi. Dan, seperti kebanyakan genius lain, Demetrius juga gila. Dia suka mengecat wajahnya seperti Joker dalam film Batman, suka mengecat rambutnya menjadi pirang, suka berselingkuh dengan istri orang, sekaligus menjalani kehidupan homoseksual. Luar biasa genius, juga luar biasa gila.

Tetapi “orang gila” itu memiliki peran penting dalam ilmu pengetahuan. Dialah yang mendirikan perpustakaan Alexandria, yang menjadi perpustakaan paling terkenal di dunia. Demetrius memulai karir akademisnya di Athena, dan menjadi salah satu murid di Lyceum. Lyceum adalah perguruan alam terbuka yang sangat mahsyur, yang didirikan Aristotle. Perguruan itu merupakan cikal bakal lembaga perguruan tinggi yang kita kenal sekarang.

Perjalanan ilmu pengetahuan dari masa lampau membutuhkan waktu berabad-abad hingga sampai di tangan kita hari ini. Dari catatan-catatan di papirus dan daun lontar, ilmu pengetahuan terkumpul di berbagai perpustakaan, tersimpan di biara-biara, dilembagakan berbagai universitas, dipeluk para aktivis republik surat, terkodifikasi dalam disiplin ilmu, dicuci di laboratorium, hingga kemudian tersebar di internet pada zaman kita, dan dapat diakses siapa pun.

Perjalanan yang panjang itu pun membutuhkan ribuan orang tekun di berbagai belahan dunia. Orang-orang tekun itulah yang merawat peradaban serta pengetahuan untuk terus diwariskan kepada generasi setelahnya—hingga sampai pada generasi kita. Tanpa mereka, mungkin hari ini kita tidak pernah tahu siapa Galileo, siapa Marie Curie, Newton, Darwin, hingga Einstein dan Hawking.

Buku ini memaparkan perjalanan panjang ilmu pengetahuan dari masa Alexandria sampai ke zaman kita, serta siapa saja yang berperan di dalamnya. Bagi saya, buku ini semacam “biografi” ilmu pengetahuan. Materi serta cara penyampaian dalam buku ini tergolong berat, tetapi—saya yakin—para kutu buku akan sangat menikmatinya.


John Farndon: 50 Gagasan Luar Biasa

Menemukan buku yang dalam serta penuh wawasan, rasanya seperti menemukan pasangan yang sempurna—elegan, dan tidak membosankan. Buku ini memenuhi kriteria itu. Merupakan terjemahan The World’s Greates Idea, judul lengkap buku ini adalah 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia.

Sebagaimana judulnya, buku ini memaparkan ide-ide yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan dan peradaban manusia. John Farndon, dibantu sekelompok juri lain, mengumpulkan dan menyusun peringkat atas 50 ide besar yang dianggap paling berpengaruh dalam peradaban—dari yang remeh temeh seperti selokan dan roda, dari hukum-hukum fisika sampai matematika, dari marxisme sampai pembebasan budak.

Masing-masing item itu diuraikan dengan mengasyikkan, penuh wawasan, dengan bahasa yang mudah dipahami. Hasilnya, berdasarkan penilaian para juri, ide terbesar yang menempati peringkat teratas karena dianggap paling berpengaruh di dunia, adalah internet. Nomor dua, atau satu peringkat di bawah internet, adalah menulis. Sedangkan peringkat ke-50 alias paling bawah, adalah... perkawinan!

Oh, well, sepertinya nyokap saya perlu membaca buku ini.


Muhidin M. Dahlan, Mujib Hermani (ed.): Pleidoi Sastra

Judul selengkapnya adalah Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin. Ini buku terbitan lama (Januari 2004), namun baru saya temukan.

Kipandjikusmin adalah salah satu penulis Indonesia yang misterius. Namanya disebut banyak orang, karyanya dibahas para tokoh terkenal, kontroversi mengenai dirinya menjadi berita nasional, namun sosoknya tak pernah terlihat. Pada 8 Agustus 1968, majalah Sastra yang dipimpin H.B. Jassin memuat salah satu cerpen karya Kipandjikusmin, berjudul “Langit Makin Mendung”. Hasilnya adalah kontroversi sastra terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Cerpen itu dianggap menghina agama, majalah Sastra yang memuatnya kemudian dibredel, dan H.B. Jassin—selaku penanggung jawab pemuatan cerpen tersebut—diajukan ke pengadilan. Sementara itu, tak terhitung banyaknya tokoh terkenal—para sastrawan maupun nonsastrawan—yang berdebat dan berpolemik di media massa seputar cerpen “Langit Makin Mendung”.

Buku ini merekam semua peristiwa itu. Di halaman awal, buku ini memuat cerpen-cerpen karya Kipandjikusmin, termasuk “Langit Makin Mendung”, lalu dilanjutkan wacana dan pendapat serta polemik para tokoh atas cerpen itu. Beberapa tokoh terkenal yang ikut “berperang” dalam polemik itu di antaranya A.A. Navis, Goenawan Mohamad, Sju’bah Asa, Buya Hamka, Taufiq Ismail, Bahrum Rangkuti, Wiratmo Sukito, hingga Yahya Ismail (penulis dari Malaysia).

Di halaman akhir, buku ini memuat pleidoi H.B. Jassin untuk pembelaan cerpen itu, yang dibacakan di depan hakim di pengadilan pada 2 September 1970. Hingga saya menulis catatan ini, siapa sebenarnya Kipandjikusmin belum terungkap. Terlepas dari kontroversinya, buku ini penuh wawasan, khususnya seputar dunia sastra Indonesia.


Peter Tompkinn & Christopher Bird: Keajaiban Tumbuhan

Edisi bahasa Inggris buku ini telah menggemparkan ilmuwan dan para akademisi di berbagai belahan dunia. Meski judulnya terdengar ringan, namun isinya benar-benar memukau. Berisi hasil-hasil penelitian mengagumkan seputar dunia tumbuhan, yang belum pernah dibayangkan kebanyakan manusia.

Bertahun-tahun lalu, Charles Darwin telah menyatakan bahwa tumbuhan memiliki inteligensi. Keyakinan itu kemudian ditindaklanjuti Luther Burbank dan para ilmuwan lain, sampai kemudian dua bocah tekun di zaman kita—Peter Tompkinn dan Christopher Bird—melakukan penelitian komprehensif dengan peralatan yang lebih modern, hingga mampu menunjukkan rahasia-rahasia tumbuhan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Buku ini tergolong berat. Namun, seperti umumnya buku berat lain, Keajaiban Tumbuhan memberikan kenikmatan luar biasa selama membacanya. Buku ini pun akan mengubah pandangan kita dalam berinteraksi dengan tumbuhan, sekaligus mulai memahami bagaimana alam semesta menyembunyikan rahasia-rahasianya yang menakjubkan.

Secara keseluruhan, buku ini benar-benar hebat. Setiap bab dan halamannya akan membuat kita terpesona, dan memberikan kenikmatan tersendiri. Menyetubuhi buku ini, bagi saya, seperti menikmati ledakan orgasme tanpa henti. Terpujilah Peter Tompkinn dan Christopher Bird untuk karya agung mereka dalam buku ini.


Sampai jumpa di daftar 10 Buku Paling "WOW" tahun depan!

2012-12-21

Kenangan Yang Hilang

Seorang bocah menangis sambil mengelus-elus luka lecet di kakinya. Luka lecet itu tampaknya sudah mengering, tak lama lagi pasti akan sembuh, dan bekasnya akan hilang. Tapi bocah itu terlihat menangis sedih.

Seorang tetangga yang menyaksikan itu menegur dengan heran, “Kamu ngapain, kok nangis gitu?”

“Aku menangisi lecet ini,” sahut si bocah dengan lugu.

“Jadi, kenapa kakimu lecet?”

Si bocah menceritakan, “Seminggu lalu, aku kan jalan-jalan pakai sandal. Karena nggak terbiasa, jadinya kakiku lecet.”

Si tetangga memperhatikan luka lecet itu. “Tapi… lecet di kakimu kan udah mau sembuh, tuh. Kenapa kamu nangis?”

“Justru itu!” jerit si bocah. “Aku nangis, karena lecet ini udah mau sembuh!”

“Lho?” Si tetangga bengong. “Kamu nangis justru karena lecetmu mau sembuh? Kok bisa?”

“Iya!” jawab si bocah sambil mau nangis lagi. “Lecet di kaki ini terjadi waktu aku jalan-jalan sama orang yang kusayangi. Nggak lama lagi lecet ini akan sembuh dan bekasnya akan hilang. Itu bikin aku sedih, karena nggak punya lagi kenangan dengan orang yang aku sayang.” Kemudian, sambil mengelus-elus luka lecetnya, bocah itu berkata perlahan-lahan, “Padahal cuma lecet ini yang bikin aku ngerasa punya kenangan sama dia. Fu… fu… fu…”

2012-12-14

Mimpiin "Bulan" Di Siang Bolong

Dalam tidurku yang gelisah di suatu siang, aku bermimpi tentang Bulan. Rasanya, dalam mimpi itu, kami duduk berdekatan, dan Bulan mewujud sesosok wanita. Dengan keindahan sempurna. Aku tak tahu di tempat mana kami bertemu, tapi aku masih ingat di sana hanya ada keheningan dan kesunyian. Bahkan angin pun tak ada. Dan kami bercakap-cakap dengan berbisik, namun saling mendengar dengan jelas.
Dalam mimpi itu, aku masih ingat, aku berkata kepadanya, “Mungkin aku terlalu naif. Tapi aku sama sekali tak menyangka kau seorang wanita.”

Bulan tersenyum.

 

Untuk sesaat, aku bingung mau mengatakan apa lagi. Jadi kuedarkan pandanganku ke sekeliling, dan mendapati tempat yang luar biasa hening… luar biasa sunyi. Itu tempat paling hening yang pernah kusaksikan, keadaan paling sunyi yang pernah kurasakan. Jadi itulah yang kemudian kukatakan kepadanya, “Tempat ini sangat hening.”
Sekali lagi Bulan tersenyum. Dan menyahut, “Kuharap kau suka.”

“Aku suka sekali,” jawabku jujur. “Aku belum pernah merasakan hening yang lebih damai dari tempat ini. Well, bagaimana rasanya tinggal di sini?”

“Bagiku menyenangkan.”

“Aku bisa membayangkannya. Sudah berapa lama kau di sini?”

“Kau mempertanyakan relativitas waktu,” jawab Bulan. “Mungkin kau lupa, di sini tidak ada jam, hari, tanggal, tahun, atau hitung-hitungan waktu seperti di tempatmu.”

Aku terdiam sesaat mendengar jawaban itu. Kemudian aku bertanya, “Kalau boleh tahu, apakah kau tidak kesepian? Maksudku, well… kau tinggal sendirian di sini, tanpa ada siapa pun yang bisa diajak bicara. Kau tak pernah terpikir untuk bergabung dengan kehidupan manusia di Bumi? Yeah, maksudku, sebagai manusia, aku tetap merasa butuh berinteraksi dengan sesama, meski aku juga mencintai keheningan. Memiliki teman bicara, atau semacamnya.”

Kali ini Bulan yang terdiam sesaat. Lalu, dengan suara lirih ia berkata, “Berabad-abad yang lalu, sebenarnya, aku pernah turun ke Bumi, ke tempatmu para manusia.”

Aku terkejut. “Sungguh?”

“Ya.” Bulan mengangguk. “Waktu itu, aku juga sempat terpikir seperti yang baru kaukatakan. Mungkin sangat menyenangkan jika aku turun ke Bumi, dan bisa bercakap-cakap dengan manusia. Jadi aku pun meninggalkan tempat ini, dan turun ke sana. Tetapi, kemudian, keberadaanku di Bumi waktu itu menjadi kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”

“Apa yang terjadi?”

 

Hening menyelimuti kami sesaat, karena Bulan terdiam. Menundukkan wajah. Aku menunggu. Bahkan jika harus menunggu seabad pun aku tak peduli, pikirku waktu itu.
Tapi aku tak perlu menunggu sampai satu abad, karena Bulan kembali menatapku, dan berkata perlahan-lahan, “Di Bumi, aku terkejut mendapati banyaknya kejahatan, nafsu, iri hati, kedengkian, serta kemunafikan. Selain itu, yang paling membuatku risih—dan yang membuatku meninggalkan Bumi—ada banyak lelaki yang tergila-gila kepadaku. Itu… itu sangat menyusahkanku, kalau kau tahu maksudku.”

“Kau sangat menawan, wajar kalau mereka begitu.”

“Aku tahu,” ujar Bulan tanpa nada angkuh, “dan aku bisa memahami kenyataan itu. Tetapi, ada satu lelaki yang sangat… oh, bagaimana aku harus menyatakannya? Maksudku, dia sangat… sangat keterlaluan.”

Aku benar-benar penasaran sekarang. “Apa yang dilakukannya?”

“Beberapa lelaki yang mendekatiku di Bumi melakukannya secara wajar dan biasa—seperti umumnya interaksi manusia lelaki dan wanita. Tetapi lelaki yang satu itu sangat… sangat keterlaluan. Sejak mengenalku, dia terus mengikutiku ke mana pun aku melangkah, menuju ke mana pun aku pergi, dan tak pernah berhenti menggangguku. Kau tahu bagaimana tidak nyamannya keadaan seperti itu.”

Aku mengangguk.

“Dan dia mengirimkan banyak puisi cinta,” lanjut Bulan.

Aku menyahut sambil mencoba bercanda, “Kedengarannya romantis.”

“Tidak, jika kau melihat kisahnya. Pada waktu itu, ada banyak lelaki yang juga mendekatiku, dan mereka juga mengirimiku banyak puisi cinta. Puisi-puisi mereka sangat indah, dengan kata-kata yang sangat tertata, halus, lembut, dan menyentuh. Tetapi aku tahu tak mungkin membalas cinta satu pun dari mereka, karena aku tidak ditakdirkan menikah. Nah, lelaki ini—lelaki yang sangat keterlaluan tadi—mengirimkan banyak puisi cinta, namun puisinya paling buruk di antara lainnya.”

Aku masih mendengarkan.

“Dan dia tak pernah berhenti mengirimkan puisi-puisinya yang buruk itu,” lanjut Bulan. “Seiring dengan itu, dia terus mengikuti langkahku, ke mana pun aku pergi. Yang paling mengganggu, dia juga tak pernah berhenti menanyakan bagaimana pendapatku tentang puisi-puisinya. Bagaimana cara manusia mendefinisikan sikap dan perilaku semacam itu? Tidak tahu malu?”

“Like that.”

“Dia tidak tahu malu, dan sejujurnya aku sangat malu dengan perilakunya,” tutur Bulan dengan wajah sedih. “Mungkin dia lelaki yang baik. Tetapi sikap dan perilakunya, serta agresivitasnya yang keterlaluan membuatku memilih untuk menjauhinya.”

“Dan dia juga menjauh darimu?”

“Sayangnya tidak. Seperti yang kubilang tadi, dia terus menanyakan bagaimana pendapatku tentang puisi-puisinya yang terus ia kirimkan untukku. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku menerima banyak puisi lain yang jauh lebih indah dari puisinya, yang dikirimkan para lelaki yang tahu sopan santun. Dan para lelaki yang sopan itu tidak pernah menanyakan bagaimana pendapatku tentang puisi mereka. Tetapi lelaki yang satu itu… oh, dia benar-benar keterlaluan. Puisinya sangat buruk, tetapi dia tanpa malu terus menanyakan bagaimana pendapatku.”

“Jadi, apa yang kemudian kaulakukan?”

 

Bulan kembali menunduk. Terdiam beberapa saat. Dan aku menunggu. Lalu ia kembali mengangkat wajahnya, menatapku, dan berkata perlahan-lahan seperti tadi. “Manusia memiliki pepatah bahwa kesabaran kadang ada batasnya. Begitu pun aku pada waktu itu. Menghadapi lelaki itu, kesabaranku rasanya terkuras. Semula, aku tidak mau memberikan pendapat apa pun atas puisi-puisinya, karena aku tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi, karena dia terus memaksa, dan kesabaranku telah habis, akhirnya aku pun jujur menjawab, dan menyatakan kepadanya bahwa puisinya sangat buruk.”
“Dan…?”

“Dan dia marah-marah,” jawab Bulan dengan wajah terluka. “Dia marah-marah karena aku menyatakan jawaban yang jujur kepadanya. Mungkin aku bisa membohonginya, dan menyatakan bahwa puisinya sangat indah. Tetapi, kupikir, itu tidak akan membuatnya belajar, malah sebaliknya akan membuatnya besar kepala. Lagi pula, bukankah dia sendiri yang meminta dan memaksaku memberikan pendapat atas puisinya? Tanpa malu, dia terus memaksaku memberikan pendapat atas puisinya. Dan ketika pendapat yang jujur itu kukatakan, dia tidak terima.”

 

Mendengar penjelasan itu, aku bisa memahami mengapa wajah Bulan tampak sangat sedih. Dia pasti ada di antara dilema. Dia bisa saja memberikan jawaban bohong kepada lelaki itu, dan menyatakan bahwa puisinya sangat indah. Tetapi, Bulan pasti khawatir pujian itu justru akan menjerumuskan si lelaki ke dalam kepongahan, sekaligus khawatir si lelaki menganggap pernyataan itu sebagai penerimaan Bulan pada dirinya.
 

Dengan memberikan jawaban jujur kepada si lelaki, dan menyatakan bahwa puisinya memang buruk, Bulan tentu berharap si lelaki mau menyadari bahwa dia masih harus banyak belajar, dan jawaban itu pun pasti dimaksudkan agar si lelaki menjauh dan tidak mengganggunya lagi. Oh, well, kau tidak bisa merayu wanita dengan puisi yang buruk, dan berharap dia jatuh cinta kepadamu.
“Apa yang kemudian terjadi setelah itu?” tanyaku.

Bulan menjawab, “Seperti yang kubilang tadi, lelaki itu tidak terima dan marah-marah. Karena mungkin dia memang tidak tahu malu, dia mengumbar kemarahannya di mana-mana. Dia mencaci-maki aku, memburuk-burukkan namaku, dan menimpakan setumpuk tuduhan tak masuk akal, seolah-olah aku sangat rendah dan hina.”

Kemudian, dengan nada suara agak meninggi, Bulan melanjutkan, “Dia sendiri yang mendekatiku. Dia sendiri yang mati-matian mengirimkan puisi-puisi itu untukku. Dia sendiri pula yang terus memaksaku memberikan pendapat atas puisi-puisinya. Tetapi, ketika keinginannya kukabulkan, dia tidak terima. Itu seperti kau berdiri di hadapan cermin, dan cermin memantulkan bayangan yang jujur, tapi kemudian kau tidak terima ketika menyaksikan bayanganmu sendiri, lalu kaupecahkan cermin itu. Alangkah anehnya manusia!”

 

Melihat kedukaan di wajahnya, rasanya aku ingin menggenggam tangannya yang halus. Tapi aku ragu. Jadi, aku pun hanya diam, dan menatap wajahnya, menunggu dia kembali berbicara.
“Kenyataan itulah yang kemudian membuatku trauma,” lanjut Bulan. “Aku menyesal telah turun ke Bumi. Di sana aku memang menemukan teman, dan bisa berbicara satu sama lain. Tetapi, di sana pula aku terluka. Sejak itu, aku pun kembali ke tempatku semula. Di sini memang tidak ada apa pun atau siapa pun, selain hening dan sunyi. Di sini aku memang sendirian. Tetapi di sini aku tidak memiliki masalah apa pun. Di sini aku bebas menjadi diriku sendiri, menikmati kesendirian yang memang menjadi kesenanganku. Kupikir, kau pun tahu perbedaan antara kesepian dan kesendirian.”

“Aku tahu,” jawabku. “Kesendirian adalah kondisi seorang diri yang kita inginkan. Kesepian adalah kondisi terasing yang tidak kita harapkan.Kau bisa sendirian tanpa kesepian, karena kesendirian memang bukan kesepian.”

Bulan tersenyum. “Aku senang ada yang memahamiku.”

 

Aku membalas senyumnya. Pada waktu itu, aku bermaksud ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi kemudian aku terbangun dari tidur. Dan mimpi itu pun selesai sampai di sana

2012-12-12

Twilight...???Apaan sihh???Aneh!!!

Satu perempuan. Dicintai dua lelaki.
Lelaki pertama jelmaan vampir.

Lelaki kedua serigala jejadian.

Cinta selalu tahu menemukan kisah.

….
….

Yang paling aneh sekali pun.