2012-06-23

Jadi Bagaimana Hubungan Raffi Dengan Yuni?

Salah satu berita asmara paling hangat di Indonesia akhir-akhir ini adalah hubungan yang dijalin Raffi Ahmad dengan Yuni Shara. Sebenarnya sih berita percintaan antar artis bukan hal istimewa, karena beberapa artis sepertinya memang suka gonta-ganti pacar agar infotainment selalu punya berita. Tapi hubungan percintaan antara Raffi dengan Yuni jadi terkesan istimewa, karena latar belakang usia mereka.

Yuni Shara lahir pada 3 Juni 1972, dengan nama Wahyu Setyaning Budi. Sementara Raffi Ahmad lahir pada 17 Februari 1987, dengan nama Raffi Faridz Ahmad. Tak usah pedulikan nama asli atau nama lahir mereka, tapi perhatikan perbedaan tanggal lahirnya. Selisih usia antara Yuni dengan Raffi sekitar 15 tahun—Yuni jauh lebih tua (well, atau lebih dewasa) dibanding Raffi.

Karena perbedaan usia yang terlampau jauh itu pulalah yang menjadikan banyak orang gatal membicarakan hubungan mereka—termasuk saya. Umumnya, seperti kita tahu, cowok menjalin hubungan dengan cewek yang usianya relatif lebih muda darinya, atau setidaknya yang seumuran. Yeah, kalaupun tua ceweknya, paling-paling lebih tua satu atau dua tahun.

Raffi Ahmad “melanggar” aturan itu. Dia menjalin hubungan dengan perempuan yang lima belas tahun lebih tua darinya. Tentu saja Raffi tidak salah, karena—setidaknya sejauh ini—belum ada peraturan pemerintah yang menyatakan cowok harus pacaran dengan cewek yang lebih muda. Lebih dari itu, Yuni Shara oke-oke saja jalan sama Raffi, jadi apa salahnya?

Jika kita melihat “track record” Raffi Ahmad, kita tahu dia sebelumnya pernah “jalan bareng” dengan Laudya Chintya Bella, Bunga Zainal, Ratna Galih, Tyas Mirasih, Velove Vexia, dan beberapa lain yang mungkin terlewat dari ingatan saya. Cewek-cewek yang barusan disebutkan itu rata-rata usianya seimbang dengan Raffi—kalau tidak lebih muda, ya seumuran. So, kenapa kemudian Raffi “banting setir” memilih Yuni Shara yang usianya jauh di atasnya?

Sejujurnya, saya tertarik memperhatikan hubungan Raffi dengan Yuni, karena... itu seperti cermin tempat saya melihat diri sendiri. Jauh di lubuk hati, sebenarnya saya juga lebih tertarik pada wanita-wanita dewasa. Ya, ya, mungkin saya berbakat jadi berondong yang budiman. Tetapi, kata Agnes Monica, “Cinta kadang-kadang tak kenal logika.”

Wanita dewasa, di mata saya, entah mengapa jauh lebih mempesona dibanding cewek yang baru lahir kemarin. (Ya iyalaaaaah!). Maksud saya, wanita dewasa yang telah matang sepertinya lebih menarik dibanding cewek ABG yang masih alay. Umpama buah, wanita dewasa tuh seperti buah yang benar-benar matang. Sementara cewek ABG adalah buah yang masih hijau. Jika buah matang rasanya manis, buah yang masih hijau kadang-kadang masih kecut.

Tentu saja bayangan saya bisa keliru. Bisa saja ada cewek ABG yang benar-benar sudah matang dan dewasa melampaui umurnya. Tapi kebanyakan cewek ABG yang pernah saya lihat rata-rata masih alay. Jangankan bisa bersikap dewasa, bahkan menulis dengan baik dan benar pun mereka belum mampu. Mereka sepertinya masih rancu membedakan huruf dan angka, sehingga sering kali mencampur-campurkan keduanya. C0NtohNy4 5Ep3rti 1nI.

Tentu ada pula orang dewasa (dalam hal ini wanita) yang tetap saja alay. Secara umur mungkin dia sudah dapat dibilang dewasa, tapi secara sikap—dan mungkin pikirannya—masih sangat alay. Margaret Thatcher, wanita yang menjadi Perdana Menteri Inggris terkenal itu, pernah bilang, “Menjadi wanita dewasa tidak perlu dikatakan. Orang akan tahu apakah kau wanita dewasa atau bukan.”

I love you, Mrs. Thatcher. Dia merangkum penjelasan psikologi yang membutuhkan berlembar-lembar makalah dalam sebuah kalimat yang simpel. Menjadi wanita dewasa tidak perlu dikatakan, orang akan melihat dari sikap dan perbuatan yang dilakukan. Tak peduli seseorang gembar-gembor sudah dewasa, tapi orang akan mencibir jika sikapnya masih norak dan kekanak-kanakan. Orang dewasa, dalam hal ini wanita dewasa, mampu bersikap elegan.

Elegan—itulah sesuatu yang hanya dimiliki wanita dewasa.

Dan di hadapan wanita dewasa yang elegan, oh well, saya sering merasa... meleleh. Dulu saya tidak tahu apa yang menjadikan saya punya pikiran atau perasaan seperti itu, tapi entah kenapa saya selalu “meleleh” setiap kali bertemu atau berhadapan dengan wanita yang seperti itu—dewasa, dan elegan.

Dalam teori psikoanalisisnya, Sigmund Freud menyatakan bahwa kecenderungan terhadap wanita yang secara usia lebih dewasa dapat digolongkan sebagai oedipus complex. Itu, menurut Freud, adalah desakan dari bawah sadar seorang anak lelaki terhadap kecintaan pada ibunya. Saya pikir, Freud sedang ingin lebay ketika menyatakan teori itu. Kenyataannya dia kemudian meralat teorinya sendiri. Tetapi teori itu pula yang kemudian menuntun saya untuk instrospeksi, dan bertanya pada diri sendiri, mengapa saya punya kecenderungan terhadap wanita dewasa.

Jika saya introspeksi, mungkin dorongan yang membuat saya tertarik pada wanita yang secara usia lebih dewasa, adalah karena jauh di lubuk hati saya menginginkan seorang kakak perempuan. Dalam bayangan saya—yang mungkin keliru—kakak perempuan adalah sosok ideal bagi seorang bocah lelaki.

Seorang ibu mungkin wanita sempurna untuk bocah lelaki, tetapi hubungan antara ibu dengan anaknya pasti terpaut umur yang (sangat) jauh. Berbeda dengan kakak perempuan. Dengan usia yang tak terlalu jauh, seorang kakak perempuan dapat lebih memahami kehidupan adik lelakinya karena hidup pada zaman yang sama, dan menghadapi fenomena sosial yang sama. So, sekali lagi dalam bayangan saya, kakak perempuan adalah tempat sempurna untuk mendapatkan nasihat, juga pelajaran berharga, khususnya dalam hal hubungan antar lawan jenis.

Itulah yang tidak pernah saya miliki, yang sungguh-sungguh ingin saya miliki. Seorang kakak perempuan. Tempat saya dapat bertanya tentang perempuan. Tempat saya bisa memperoleh jawaban yang benar tentang perempuan. Tempat saya belajar untuk dapat benar-benar mengerti dan memahami perempuan. Juga tempat saya bisa curhat menumpahkan beban pikiran dan perasaan tanpa rasa sungkan.

Sejak dulu, saya selalu iri jika melihat teman-teman saya bisa asyik bercanda dengan kakak perempuannya. Saya tidak pernah mengalami pengalaman manis semacam itu karena tidak memiliki kakak, khususnya kakak perempuan. Meski kadang teman-teman saya bercerita mereka lagi dongkol pada kakak perempuannya, tapi saya pikir jauh lebih baik punya kakak perempuan daripada tidak punya. Kakak perempuan, bagi saya, adalah figur wanita ideal.

Mungkin bayangan saya di atas keliru. Tapi mungkin pula karena bayangan itulah kemudian sosok wanita dewasa begitu mengendap di bawah sadar saya, hingga kemudian menciptakan dorongan-tak-sadar untuk selalu “jatuh hati” pada wanita dewasa. Ketika mulai pacaran, saya pun ingat bahwa daya tarik paling besar yang menjadikan saya memilih mereka sebagai pacar adalah karena faktor kedewasaan yang mereka miliki, meski usianya sepadan atau di bawah saya.

Wanita dewasa itu menenteramkan, itulah kesan saya. Tentu saja mereka mungkin masih keluar manjanya—namanya juga wanita. Tapi bahkan kemanjaannya pun terlihat mempesona bagi saya. Mereka itu... oh, well, elegan. Ya, ya, mungkin saya memang berbakat jadi berondong idaman.

So, ketika mendengar berita Raffi Ahmad menjalin hubungan dengan Yuni Shara, saya pun sempat terpikir, “Apakah mungkin Raffi juga merasakan sesuatu seperti yang saya rasakan?”

Mungkin—sekali lagi, mungkin!—Raffi tidak mendapatkan kedamaian yang ia harapkan dari cewek-cewek sebaya yang pernah jalan bareng dengannya. Dan kemudian, dia menemukan Yuni Shara, dan menyaksikan sosok yang sebenarnya ingin ia temukan—sesosok yang entah bagaimana mengendap di bawah sadarnya. Dan menyaksikan Yuni Shara, mungkin Raffi menyadari bahwa itulah sesungguhnya sosok wanita yang diinginkannya.

Yuni Shara tentu berbeda jauh dengan cewek-cewek yang sebelumnya pernah jalan dengan Raffi. Bukan hanya dalam usia, tetapi juga dalam kematangan sikap dan cara menjalani hubungan yang elegan. 

Cewek ABG, kau tahu, suka mengirim SMS ke pacarnya hingga berpuluh kali dalam sehari hanya untuk bilang, “Kangeeeeen.” Sekali dua kali mungkin menyenangkan. Tapi setelah puluhan kali, SMS seperti itu benar-benar menjengkelkan juga membosankan. Nah, saya pikir, wanita dewasa mengetahui kenyataan itu, sehingga mereka akan menelepon sepantasnya, mengirim SMS secukupnya, dan bilang kangen tanpa membuat bosan pasangannya.

Wanita dewasa itu mendamaikan. Seperti yang terlihat dalam puluhan foto di internet, saya mendapatkan kesan ekspresi Raffi Ahmad begitu “tenteram” di sisi Yuni. Perhatikan kata dalam tanda kutip itu—tenteram, bukan bangga atau sekadar cengengesan.

Itu berbeda sekali dengan foto-foto pasangan artis yang sebaya. Mereka memang tampak bahagia, mungkin berpose sambil tertawa-tawa—tapi hanya itu. Dalam foto-foto yang membingkai Raffi dan Yuni, memancar aura ketenteraman. Raffi Ahmad tampak lebih dewasa dari umurnya, dan Yuni Shara terlihat matang serta bijaksana. Jika saya menjadi juri pasangan ideal Indonesia, saya akan memilih mereka.

Tapi kemudian saya mendengar hubungan mereka merenggang. Tak tahulah. Dan kemudian muncul berita lagi kalau hubungan mereka kembali erat seperti semula. Tak tahu juga saya. Yang jelas, di antara banyak orang yang mungkin merestui hubungan mereka, saya termasuk yang ikut bahagia di dalamnya. Dan jika mereka memang berjodoh, saya pun berharap dan berdoa, semoga mereka dapat melangsungkan ikatan itu hingga akhir hayat nanti.

Jadi, omong-omong, bagaimana kabar hubungan Raffi dengan Yuni?

2012-06-22

Pinjami

Pinjam tanganmu, pinjami tanganmu
Agar bisa kusentuh dunia dengan kelembutanmu

Pinjam kakimu, pinjami kakimu
Agar bisa kutapak luasnya jejak langkahmu

Pinjam matamu, pinjami matamu
Agar kupandang hidup dengan kejernihanmu

Pinjam bibirmu, pinjami bibirmu
Agar aku bisa berbincang dengan diriku

Pinjam senyummu, pinjami senyummu
Agar bisa kubagikan bahagia untuk sesamaku

Pinjam suaramu, pinjami suaramu
Agar dapat kusuarakan hati semerdu nada lagu

Pinjam hatimu, pinjami hatimu
Agar aku bisa menghayati cinta sepertimu

Pinjam cintamu, pinjami cintamu
Agar dapat kutemukan rahasia di diriku

2012-06-15

Jodoh

Ketika saya masih kecil—maksud saya, masih keciiiiil sekali—ada sebuah group musik dangdut bernama ‘Manis Manja Group’. Di dalam group ini tergabung empat orang pesinden dangdut paling okay bohay pada zaman itu, yakni Ine Chintya, Yulia Citra, Kitty Andriani, dan Lilis Karlina.

(Deskripsi di atas hanya berdasarkan memori masa kecil saya. Karenanya, kalau ternyata terdapat kekeliruan, tolong dikoreksi).

Nah, ada satu lagu milik ‘Manis Manja Group’ yang pernah sangat populer, berjudul “Jodoh”. Sebegitu populernya, hingga saya yang waktu itu masih kanak-kanak ikut hafal liriknya, dan hingga hari ini masih terkenang-kenang pada refrainnya. Refrain lagu itu berbunyi, “Joooodoh… tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti…”

Jadi, waktu itu, kalau pas lagi pengin nyanyi atau bersenandung, saya pun tidak jarang mendendangkan lagu itu. Lama-lama, sambil menyanyikan lagu yang asyik itu, saya mikir, “Kok, jodoh tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti? Lalu bagaimana orang bisa mendapatkan jodohnya?”

Karena otak bocah saya waktu itu tidak sanggup menemukan jawaban atas kebingungan tersebut, saya pun bertanya pada nyokap, “Mah, kalau jodoh tak usah dicari-cari dan tak usah dinanti-nanti, lalu gimana orang-orang bisa dapet jodoh? Apa jodoh tuh turun dari langit?”

Mungkin, karena ingin menutup pembicaraan “tingkat tinggi” itu, nyokap hanya menjawab, “Ya.”

Dan saya pun percaya—bahwa jodoh memang turun dari langit. Karena itu saya pun makin senang menyanyikan lagu itu, “Joooodoh… tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti…”

Ketika saya puber dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya mulai meragukan kebenaran bahwa jodoh turun dari langit. Ketika SMP, saya menyaksikan teman-teman saya mengejar-ngejar lawan jenis—yang cowok agresif sama cewek, yang cewek sibuk ngerumpi soal cowok. Pas SMA, urusan seputar cowok-cewek makin “parah”—dalam arti sama sekali tidak menunjukkan tesis si ‘Manis Manja Group’ bahwa jodoh turun dari langit.

Kalau jodoh turun dari langit, pikir saya waktu itu, maka seharusnya teman-teman saya tidak perlu mengejar-ngejar lawan jenis untuk bisa berpacaran. Kata ‘Manis Manja Group’, “tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti.” Tetapi, kenyataannya, jika kita tidak mencari dan menanti, susah banget mendapatkan pacar!

Ketika mulai kuliah, saya semakin tidak percaya pada lagu di atas, karena pada waktu-waktu itu banyak teman yang curhat tentang kisah cinta mereka yang beraneka ragam—yang semakin menunjukkan bahwa seseorang memang harus mengejar mati-matian untuk mendapatkan pacar atau jodoh. Saya masih ingat, ada teman sekelas saya waktu itu, yang cerita bahwa dia melakukan pedekate sampai satu semester hanya untuk meyakinkan calon pacarnya kalau dia benar-benar serius.

Artinya, seseorang mendapatkan jodohnya dengan usaha, dengan pencarian, dengan penantian, bahkan dengan pengejaran. Jadi apa maksudnya empat cewek manis di atas itu menyanyikan, “Joooodoh… tak usah dicari-cari, tak usah dinanti-nanti…?”

Tentu saja jodoh harus dicari dan dinanti, pikir saya waktu itu.

Sekarang, sambil menulis catatan ini, saya memutar ulang memori saya mengenai kisah-kisah yang berhubungan dengan cinta dan hubungan antarlawan jenis yang pernah dialami kawan-kawan saya. Dan, sambil menulis catatan ini pula, tiba-tiba saya mulai menyadari apa maksud nyanyian di atas.

Saya masih ingat, dulu si A pacaran dengan si B selama bertahun-tahun, tapi kemudian mereka menikah dengan orang lain yang sama sekali tak terduga. Si A menikah dengan si X, sedang si B kawin dengan si Z. Lalu, saya pun masih ingat, si K dulunya termasuk cewek populer di kampus, tapi sampai sekarang masih jomblo. Sedang si G yang dulunya dianggap cowok culun (bahkan pernah disangka homo) sekarang sudah punya tiga anak.

Kemudian, si D dan si W, yang dulu dianggap pasangan paling serasi di kampus, sekarang ternyata sudah kawin sendiri-sendiri dengan orang lain, dan sekarang hidup terpisah sejauh berkilo-kilo meter. Nah, si H kabarnya sudah berumahtangga dengan si R—keduanya dulu satu kampus, satu fakultas, satu angkatan, tapi tidak saling kenal. Mereka bertemu tanpa sengaja di acara kondangan, lalu saling sapa, dan jadi akrab setelah tahu kalau mereka satu kampus. Dan sekarang mereka sudah kawin.

Ini aneh. Ini jodoh. Ini… well, ini sepertinya memang turun dari langit.

Saya sendiri juga mengalami hal yang sama. Saya pernah pacaran dengan seseorang. Kami saling cinta, saling sayang, dan berjanji akan bersama sehidup semati. Baik saya maupun dia sama-sama yakin kalau kami berjodoh. Tapi kemudian hubungan kami bubar di tengah jalan, karena kesibukan masing-masing. Saya sibuk belajar, dia sibuk syuting. Sekarang, mantan pacar saya itu kawin dengan Christian Sugiono.

(Oke, oke, yang barusan itu ngaco! Tolong kalian tidak usah tegang begitu!).

Jadi, apakah jodoh memang turun dari langit? Mungkin saja iya. Kita lihat, ada dua orang yang sebelumnya tak pernah bertemu, tidak saling kenal, dan terpisah jarak ribuan kilometer, tapi kemudian suatu hari mereka bertemu di tempat yang tak terduga, di waktu yang tak disangka, dan setelah itu… nyebar undangan. Dasar jodoh!

Ada juga dua orang yang pada mulanya sudah saling kenal karena pernah satu sekolah. Tapi mereka tidak pernah memendam perasaan apa pun, selain hanya sebagai teman. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, keduanya saling bersua di internet, saling sapa di blog, lalu membangun hubungan yang lebih dekat, dan kemudian menikah. Sekali lagi, dasar jodoh!

Sebaliknya, ada pula dua orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, dan dunia pun hampir yakin kalau kedua orang itu pasti akan menikah. Tapi kemudian tersiar kabar kalau kedua bocah itu putus, dan masing-masingnya kawin dengan orang lain yang sama sekali tak disangka-sangka. Oh, jodoh yang aneh!

Memang, jodoh termasuk satu di antara beberapa hal lain yang tak bisa diprediksi. Bisa dibilang kita tak bisa yakin siapa, di mana, dan kapan akan bertemu si Jodoh. Bagi yang sudah punya pacar, mungkin bisa saja memprediksi kalau si pacar sekarang akan menjadi jodohnya. Tapi prediksi bukan kepastian mutlak, karena sifatnya yang memang (hanya) prediktif. Siapa tahu kalau ternyata pacarmu adalah calon jodohku? Hehe…

Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa sosok-sosok yang terbilang “sempurna” akan mudah mendapatkan jodoh. Tetapi, itu pun tidak seratus persen benar, tidak seratus persen terbukti. Saya mengenal cukup banyak lelaki-lelaki “perfect” yang tetap saja melajang karena memang belum ketemu jodoh, saya pun menyaksikan wanita-wanita mengagumkan yang tetap sendirian dan menanti-nanti datangnya jodoh.

Di Yunani zaman dulu, ada seorang cewek bernama Xanthippe, yang tinggal di Athena. Bagi masyarakat Athena waktu itu, Xanthippe adalah cewek yang terbilang “parah”. Secara fisik, dia tidak bisa dibilang cantik. Secara otak, dia juga dianggap tolol. Lebih dari itu, cewek ini juga cerewet, usil, judes, ceriwis, tidak bisa bersikap manis—pendeknya bukan tipe cewek yang akan membuat cowok jatuh hati.

Tetapi, ternyata, cewek “parah” ini mendapatkan jodoh yang luar biasa. Dia menikah dengan Socrates. Iya, Socrates yang itu!

Ketika Socrates kawin dengan Xanthippe, masyarakat Yunani pun gempar! Tapi begitulah jodoh—kadang-kadang memang tak masuk akal. Kita tak pernah bisa memprediksikan nasib seseorang menyangkut jodohnya, kita bahkan kadang tak bisa memprediksi siapa yang kelak akan menjadi jodoh kita. In this case, saya pun tidak yakin kelak akan berjodoh dengan siapa.

Si B, seorang cowok yang saya kenal, saban malam keluyuran ke kafe-kafe dengan harapan bisa ketemu cewek yang diharapkan dapat berjodoh dengannya. Pasalnya, nyokap si B terus-terusan menyinggung soal jodohnya, dan si B sendiri juga sebenarnya ingin segera menikah, lalu hidup tenteram bersama seorang istri. Tetapi, sampai bertahun-tahun keluyuran keluar masuk kafe dan menghamburkan uang tak terhitung banyaknya, si Jodoh tidak juga tertemukan.

Si D sebaliknya. Cowok ini terkenal sebagai “cowok rumahan” karena kegiatannya sehari-hari cuma membaca buku, main game di komputer, nonton bokep, dan punya pekerjaan mapan yang tidak mengharuskannya keluar rumah. Kalau disindir soal pacar, si D akan cengengesan sambil berujar, “Apa enaknya pacaran, sih?” Kebetulan si D hidup sendirian di rumahnya, jadi tidak ada orangtua yang ribut bertanya soal jodoh.

Eh, suatu hari, terjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Suatu siang, ketika si D baru saja bangun tidur, pintu rumahnya diketuk orang. Waktu dibuka, ternyata seorang cewek. Muda, dan cantik. Singkat cerita, ternyata si cewek salah alamat. Singkat cerita pula, si D dan cewek itu berkenalan, kemudian akrab, dekat, dan… taraaaa, mereka kawin! Waktu saya menulis catatan ini, si D dan istrinya sedang happy, karena tak lama lagi anak pertama mereka akan lahir.

Jadi, sekali lagi, apakah jodoh memang turun dari langit, sehingga tak perlu dicari dan dinanti sebagaimana yang dinyanyikan ‘Manis Manja Group’? Mungkin iya. Hanya saja, kita tak pernah tahu di langit sebelah mana jodoh itu akan turun menemui kita.

Rindu Untuk Pulang

Aku bisa melemparkan anganku ke tempat paling jauh, dan mengikutinya. Aku bisa melangkahkan kakiku ke tempat paling jauh, dan menikmatinya. Aku bisa pergi ke ujung mana pun paling tersembunyi, lekuk dunia paling sunyi. Aku pun bisa menyeberangi samudera atau melintasi langit mana pun untuk menjejakkan kaki di tempat yang kuinginkan. Tetapi, pada akhirnya, kapan pun waktunya, aku harus pulang.

....
....

Selalu tiba waktunya untuk pulang, karena jalan sepanjang pertanyaan. Menatap masa lalu yang semakin menjauh, dan menatap esok yang luas terbentang. Selalu ada masanya untuk pulang.

Pada waktu bayangan itu datang, bertahun-tahun lalu, aku membayangkan pada akhirnya adalah permulaan. Sebuah awal untuk mengakhiri, sebuah jeda untuk reffrain tarikan napas.

Dan hari-hari itu berjalan, melangkah. Atau berlari. Pernah ada suatu waktu ketika aku pergi, sendirian, dan memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Menyelesaikan mimpi buruk yang tak kunjung selesai—teriakan sunyi kepada langit. Dan luka. Dan tangis.

Satu per satu datang dan pergi. Datang dan pulang. Pada waktu itu aku ingin ikut bersama mereka—pergi, atau pulang, meninggalkan larut gelap malam. Tapi aku bertahan, menyatakan pada diri sendiri bahwa jalan masih panjang…

Berapa panjang waktu itu telah berlalu…? Kadang-kadang, saat duduk sendirian, membayangkan semua itu berkelebatan dalam benak, aku ingin tersenyum dan memaki, menyebutkan apa saja yang dapat kukatakan. Lalu hilang. Hilang lagi.

Mungkin sebenarnya kuhilangkan, karena ingin kulupakan. Tapi ketika malam datang dan kesunyian merobek langit, suara dan bayangan dan mimpi buruk itu kembali bermunculan seperti roh-roh kegelapan dari negeri yang tak kukenal.

Dan sekarang kembali datang. Kembali datang…

Aku rindu. Dan menangis. Aku ingin kembali. Aku ingin pulang.

Pulang kepada pulang.