2013-12-01

Takut Yang Aneh



Wanita ini bertanya pada bocah ini, “Kenapa sekarang kamu jarang bikin blog bagus kayak dulu?”
 

Si bocah menjawab, “Karena sekarang, setiap aku nge-blog, selalu banyak yang meng-copy.”
 

Si wanita heran, “Lhoh, memangnya kenapa kalau banyak yang meng-copy? Bukannya itu bagus?”
 

“Itu sangat buruk bagiku! Karena semakin banyak yang meng-copy, orang-orang jadi tertarik melihat akun asli si pembuat blog asli.”
 

“Lhoh, bukannya bagus kalau makin banyak yang liat?”
 

“Itu sangat menakutkan! Karena lama-lama aku khawatir jadi terkenal.”
 

“Uhm, memangnya kenapa kalau kamu terkenal?”
 

“Aku sangat khawatir! Karena, jika itu terjadi, aku takut tidak lagi menjadi aku.”

Suatu Siang di Kamar Kos

Kalau hidup kita tidak bahagia, ada dua
kemungkinan. Kita tidak tahu arti bahagia,
atau kita berpikir hidup kita tidak bahagia.
_bayukacrut


—Salam untuk Naula

Saya baru selesai cuci muka pagi itu, ketika ponsel berdering. Waktu saya lihat, nama Thoriq tertera di layar. Dia teman sejak masa SD. Saya pun segera menerimanya.

“Aku baca blogmu tadi malam,” ujar Thoriq di telepon. “Kayaknya kamu lagi sakit?”

“Yeah, lumayan,” saya menjawab, “tapi sekarang udah mendingan.”

“Kamu di kos?”

“Ya.”

“Bagus. Siang nanti aku ke tempatmu. Kamu ingin dibawain sesuatu?”

“Nggak. Aku senang kalau kamu datang. Ada teman ngobrol.”

Siangnya, sekitar pukul 11, Thoriq benar-benar datang. Saya kira dia akan datang sendirian, tapi rupanya bersama seorang cewek. Semula, saya pikir itu pacar Thoriq yang baru—dulu saya kenal pacarnya, dan seingat saya bukan cewek ini. Tapi, ketika memperkenalkan kami, Thoriq menyebut cewek itu temannya.

“Namanya Naula,” ujar Thoriq saat memperkenalkan kami. Lalu menambahkan, “Dia penggemar berat blogmu.”

Saya tersenyum malu-malu, sebagaimana mestinya seorang anak manis. (Yeah!)

 Pada waktu itu mungkin Naula berumur 20 atau sekitar itu—tapi sudah cukup tampak anggun dan dewasa, juga sangat cantik. Tapi di atas semua itu, ia ramah dan teman ngobrol yang menyenangkan. Jadi, meski kami baru kenal, dia bisa ikut nimbrung percakapan saya bersama Thoriq dengan asyik.

Selepas dhuhur, Thoriq menawari kami keluar untuk mencari makan, karena dia sudah kelaparan. Tapi saya tak berselera keluar rumah. Selain badan agak lemas, waktu itu siang sangat panas. Jadi, Thoriq pun mengusulkan, “Gimana kalau aku keluar sebentar buat nyari makan? Yeah, biar kita nggak ikut-ikutan sakit kayak kamu.”

Naula setuju, dan saya nitip pesan, “Carikan nasi yang keras, Riq.”

“Sip!” Lalu dia pun pergi.

Sepeninggal Thoriq, saya melanjutkan percakapan dengan Naula di kamar kos. Bagaimana pun, kami baru kenal. Jadi, selancar apa pun percakapan kami, akhirnya muncul jeda cukup panjang, karena kehabisan bahan percakapan. Mengisi jeda itu, saya mengambil rokok dan menyulutnya. Dan menyadari Naula memperhatikan saya dengan ekspresi serius.

Dengan suara seringan mungkin, saya berkata, “Kenapa kamu mandangin aku begitu?”

Dia tersenyum. “Rasanya aku masih belum percaya, saat ini sedang menjenguk seseorang yang selama ini hanya aku kenal lewat tulisan-tulisannya.”

“Kamu pasti kecewa,” saya menyahut. Setelah mengisap asap rokok, saya melanjutkan, “Kamu pasti kecewa melihatku sekarang, karena mungkin selama ini membayangkan aku terlalu tinggi.”

Senyumnya tidak hilang. “Sebaliknya,” dia berujar, “aku sangat senang bisa melihatmu sekarang—melihatmu dalam wujud asli—karena ternyata kamu sangat manusiawi.”

Waktu itu saya memakai t-shirt dan celana boxer—pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Karena semula saya mengira Thoriq akan datang sendirian, saya pun tidak berganti pakaian yang “lebih pantas”. Jadi begitulah sekarang saya tampak di hadapan Naula—seorang bocah lelaki dengan kaus dan celana boxer, dan sebatang rokok di tangan, dengan sikap yang mungkin agak kikuk karena berduaan dengan cewek cantik.

Tiba-tiba saya tertawa.

“Kenapa kamu malah ketawa?” tanya Naula dengan heran.

“Yeah, aku sama sekali nggak ngira akan mendengar komentar seperti itu,” saya menjawab jujur. “Menurutmu, aku sangat manusiawi, ya?”

“Ya, maksudku, jauh lebih manusiawi dari yang kubayangin selama ini.”

Saya pun penasaran. “Jadi, apa yang kamu bayangin selama ini?”

Dia menatap saya, dan tersenyum. “Mau jawaban jujur?”

“Ya.” Saya berdebar-debar.

“Hampir tiap hari aku masukin namamu di Google, untuk mengunjungi blogmu. Selama membaca tulisan-tulisanmu, aku tuh sering bayangin kamu nggak seperti manusia lainnya.”

Setelah terdiam sesaat, Naula melanjutkan, “Mungkin, banyak orang lain yang membaca tulisan-tulisanmu di blog juga berpikir gitu. Dulu, waktu Thoriq bilang kenal kamu—karena kalian berteman sejak SD—aku langsung kaget dan nggak percaya, karena selama ini kupikir kamu udah... yah, udah dewasa banget, gitu.”

Saya tersenyum. “Itu cara lain untuk menyatakan ‘udah tua’.”

“Ya gitu, deh.” Dia tertawa. “Makanya, aku masih ngerasa belum percaya kalau sekarang sedang berhadapan dengan kamu—dalam wujud asli—dan mendapati kamu sangat manusiawi. Yah, maksudku, kamu nggak beda dengan Thoriq atau cowok-cowok lainnya.” 

“Aku senang mendengarnya, Naula.”

Dan saya benar-benar senang mendengar komentar itu. Saya bersyukur mendengar seseorang dengan jujur menyatakan bahwa dia senang mendapati saya tak jauh beda dengan cowok-cowok lain—dengan bocah-bocah lain—meski dia mungkin telah membayangkan saya jauh lebih hebat dari kenyataannya.

Kalau kau membayangkan seseorang terlalu tinggi, kemudian mendapati ternyata dia tak setinggi yang kaubayangkan, atau dia terlihat biasa-biasa saja, selalu ada kemungkinan kau akan kecewa. Itu fitrah manusia—ketika kenyataan tak sesuai dengan bayangan, atau tak lebih hebat dari yang dibayangkan, maka yang biasa muncul adalah kekecewaan.

Tetapi, ketika kau membayangkan seseorang terlalu tinggi, kemudian mendapati ternyata dia tak setinggi yang kaubayangkan, atau dia terlihat biasa-biasa saja, dan kau justru bersyukur karenanya, maka kau pasti manusia bijaksana. Hanya orang bijaksana yang bisa bahagia ketika mendapati sesuatu yang “biasa-biasa saja”. Hanya orang bijaksana yang justru akan bersyukur ketika mendapati kenyataan yang ternyata tak setinggi bayangannya.

Itu pula yang secara jujur saya katakan pada Naula, “Kamu pasti wanita yang bijaksana.”

Dia tersenyum malu-malu.

Sesaat, keheningan mengambang di kamar kos.

Kemudian, dengan suara perlahan dia berkata, “Sekarang aku tahu, kenapa kamu mengagumi Batman dan Spiderman. Karena kamu juga merahasiakan identitas seperti mereka—demi tangan kirimu tak mengetahui yang dilakukan tangan kanan—agar orang-orang hanya mengetahui kebaikanmu tanpa mengenalmu.”

Tiba-tiba saya merasa telah mengenalnya bertahun-tahun. Meski baru dua jam kami berkenalan, tapi dia bisa merangkum sesuatu yang telah saya pikirkan selama bertahun-tahun. Itu pula yang saya katakan kepadanya, “Kamu memang bijaksana, Mary Jane Watson.”

“Hahahaaa... bukan Rachel Dawes?”

Saya tersenyum. “Apa pun yang kamu inginkan.”

....
....

Thoriq datang membawakan nasi bungkus dengan lauk istimewa—ikan bakar dengan sambal yang luar biasa nikmat. Siang itu, di kamar kos, kami bertiga menikmati makan siang sambil bercakap dan bercanda, seperti orang-orang lainnya, seperti bocah-bocah lainnya, dan... entah mengapa, saya merasa bahagia.

Mengetahui orang lain senang karena kau “biasa-biasa saja”, adalah satu alasan untuk bahagia.

Doaku Untuk Tuhanku

Tuhan,
 

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang menampakkan senyum yang tampak ramah, tapi menyembunyikan kebusukan di hatinya. Orang-orang yang tampak baik di depan manusia lain, tapi menikam di belakang. Orang-orang yang melemparkan pujian palsu, sambil diam-diam merasa iri pada orang yang dipujinya.
 

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang meluangkan waktunya bukan untuk memperbaiki diri, tapi malah sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Orang-orang yang menggunakan energinya bukan untuk menyembuhkan, tapi malah melukai. Yang menggunakan pikirannya bukan untuk memberi manfaat bagi sesamanya, tapi justru untuk menyombongkan diri.
 

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang merasa dirinya hebat, lalu sakit hati ketika menemukan orang lain lebih hebat darinya. Orang-orang yang menganggap dirinya pintar, lalu mendendam ketika melihat orang lain lebih pintar darinya. Orang-orang yang merasa dirinya tinggi, lalu iri dan dengki ketika melihat orang lain lebih tinggi darinya.
 

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang lebih suka mencela, daripada menghargai. Orang-orang yang justru tersenyum ketika melihat orang lain jatuh. Orang-orang yang lebih fasih membicarakan keburukan orang lain daripada kebaikan sesamanya, sambil diam-diam menganggap dirinya manusia paling suci dan terberkati.
 

Jauhkanlah aku dari para pendengki—orang-orang yang menyaksikan kehebatan orang lain tidak dengan kekaguman, tapi dengan dendam. Orang-orang yang bukannya belajar pada kelebihan orang lain, tapi malah sibuk mencari alasan untuk merendahkannya. Orang-orang yang menyuguhkan senyum munafik, sambil diam-diam menjadi iblis.
 

Jauhkanlah aku dari para pendengki.
 

Lebih penting dari itu, jauhkanlah dengki dan iri hati dari diriku sendiri.

Puncak Kejernihan

Ada dalam ti-ada.