2013-05-18

Satu-satunya Kepunahan yang Bermanfaat bagi Bumi Hanyalah Kepunahan Manusia (2)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

Itu baru nyamuk. Dan semut. Jika hewan-hewan kecil itu saja bisa menimbulkan malapetaka bagi Bumi jika punah, tidak bisakah kita membayangkan apa yang mungkin akan terjadi jika hewan-hewan lebih besar yang mengalami kepunahan? Pergilah ke perpustakaan, bacalah buku-buku yang menjelaskan tentang itu, dan lihat bagaimana efek mengerikan yang akan terjadi jika hewan-hewan—apa pun—punah dari muka Bumi.
 

Kemudian pohon. Selain hewan dan manusia, pohon atau tumbuhan adalah makhluk hidup yang juga mendiami planet ini. Apa yang akan terjadi jika pohon dan tumbuhan lainnya musnah dari muka Bumi?
Bayangkanlah suatu hari yang gersang, ketika Bumi yang kita kenal dan tinggali ini kehilangan semua pohon, besar maupun kecil. Tidak ada lagi tumbuhan apalagi bunga dan buah-buahan, sementara burung-burung yang biasa bernyanyi di antara ranting pohon meninggalkan kehampaan.

 

Hutan punah, dan hewan-hewan liar di sana berlarian di antara sesaknya perkotaan. Hewan-hewan ternak tak bisa lagi merumput, karena rumput telah punah, dan mereka hidup hari demi hari sambil menunggu ajal dengan sekarat. Manusia tak bisa lagi makan dari hasil alam, karena ladang dan persawahan telah punah, dan sebagai gantinya mereka memangsa hewan-hewan.
 

Bayangan mengerikan semacam itu mungkin tak akan terjadi, tapi siapa yang bisa menjamin jika pembakaran dan pembalakan hutan terus dilakukan, alam liar terus dirusak, sementara sawah dan ladang terus diubah menjadi pabrik dan tempat pemukiman?
Apa yang akan terjadi jika semua pohon di Bumi tak ada lagi? Jawabannya adalah horor!

 

Bagi Bumi, pohon berfungsi menyerap air. Hutan mampu menyerap air hingga 60 sampai 80 persen ke dalam tanah. Itu menjadikan pohon memiliki cadangan air tanah. Akar pohon juga berfungsi menahan erosi. Ketika hujan turun, tanah yang terkikis akan masuk ke aliran sungai, dan menyebabkan terjadinya endapan. Keberadaan pohon akan menahan hal tersebut, sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.
Karena adanya dahan-dahan pohon, butir-butir air tidak langsung terjatuh ke permukaan tanah ketika turun hujan, sehingga efeknya tidak sampai menggerus lapisan tanah bagian atas yang umumnya subur.

 

Akar pohon menyerap air hujan ke tanah, sehingga tidak mengalir sia-sia. Kemudian, pohon mengikat air di pori tanah, dan menjadikannya sebagai cadangan air di musim kemarau, sehingga ketersediaan air tanah secara berkesinambungan tetap terjaga. Karena keteraturan itu, Bumi mampu bertahan dari kekeringan di musim kemarau, dan musim penghujan tidak sampai menimbulkan ancaman banjir.
 

Kemudian, akar pohon juga mengikat butir-butir tanah, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi dan tanah longsor. Pohon-pohon di hutan mendaur ulang hujan dan membangun iklim mikro, menguapkan 3/4 air hujan ke atmosfer, sehingga iklim mikro terjaga, kelembapan terkendali, dan curah hujan turun.
 

Jika tidak ada lagi pohon di Bumi, maka hal di atas tidak akan terjadi. Air di tanah akan menguap. Ketika turun hujan, daya gerus airnya akan membawa endapan lumpur ke sungai, dan mencemari air. Bumi akan kering kerontang ketika kemarau datang, dan longsor serta banjir akan terjadi ketika musim penghujan. Ketika itu terjadi, manusia tetap akan bertahan hidup, tapi kisahnya belum selesai.
 

Selain menyerap air dan menjaga kesuburan tanah, pohon juga berfungsi dalam mata rantai makanan. Di alam, terjadi proses hubungan timbal balik, dan ketergantungan antarkomponen selalu melibatkan tanaman—langsung maupun tak langsung. Karenanya, jika pohon yang memiliki fungsi penting dalam rantai makanan sampai punah, maka bisa dipastikan kehidupan semua makhluk hidup akan terpengaruh.
 

Pohon menyediakan habitat bagi ratusan spesies. Kepunahannya akan menyebabkan kepunahan sama pada spesies yang bergantung padanya. Tapi itu bukan hal terburuk yang akan terjadi. Seperti yang disebutkan di atas, punahnya pohon juga akan menghancurkan rantai makanan di planet ini, yang efeknya akan sampai pada manusia.
 

Lanjut ke sini.

Satu-satunya Kepunahan yang Bermanfaat bagi Bumi Hanyalah Kepunahan Manusia (1)

Hei pemalas, pergilah kepada semut,
perhatikan lakunya, dan jadilah bijak.
—Sulaiman


Seperti yang telah kita ketahui, ada tiga makhluk hidup yang mendiami planet ini. Yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan. Tetapi, kalau kita mau jujur, yang paling brengsek di antara ketiga mahluk hidup itu adalah manusia. Manusialah yang mendominasi planet ini, dan mengeksploitasi Bumi sekehendak hati, tanpa memperhitungkan nasib makhluk hidup lainnya—hewan dan tumbuhan.

Padahal, manusia sering mengklaim diri sebagai pemimpin di muka Bumi, yang menentukan nasib planet ini—menjadi lebih baik, atau hancur binasa. Tetapi justru karena klaim sebagai “pemimpin di muka Bumi” itu pulalah, yang menjadikan manusia seenaknya sendiri memperlakukan planet yang menjadi tempat tinggalnya. Ironisnya, meski mengklaim sebagai pemimpin di muka Bumi, kepunahan manusia (jika itu terjadi) justru memberikan efek yang baik bagi Bumi.

Coba kita lihat dari makhluk yang sangat kecil—semut, atau nyamuk. Apa yang akan terjadi jika semut musnah dari Bumi?

Meski tampak kecil dan tak berdaya—karena mudah dibunuh—semut memiliki peran yang amat besar bagi kehidupan Bumi. Semut mencapai dominasi dalam hal jumlah individu dan biomasa hewan daratan. Di habitat alaminya, semut memiliki peran ekologis yang penting. Pada ekosistem daratan, semut adalah pemangsa utama terhadap invertebrata kecil. Setiap hari, semut juga menggali sejumlah besar tanah, sehingga menyebabkan terangkatnya nutrisi tanah.

Kemudian, semut membentuk simbiosis dengan berbagai serangga, tumbuhan, dan fungi. Tanpa bersimbiosis dengan semut, organisme tersebut akan menurun populasinya, hingga punah. Selain sebagai pemangsa, semut juga menjadi mangsa yang penting bagi berbagai serangga, laba-laba, reptil, burung, kodok, bahkan bagi tumbuhan karnivora.

Semut telah menjejakkan kaki-kaki kecilnya di Bumi sejak 90 juta tahun yang lalu, mendahului manusia yang baru muncul sekitar 250.000 tahun lalu. Peran yang dijalankan semut sedemikian penting, sehingga jika semut punah maka ribuan spesies hewan dan tumbuhan akan ikut punah. Bahkan lebih dari itu, hampir semua ekosistem daratan akan melemah, karena berkurangnya kompleksitas ekosistem.

Pendeknya, semut yang tampak kecil dan tak berdaya itu memiliki peran yang amat besar dalam mata rantai kehidupan di Bumi—dari menyuburkan tanah, sampai menjamin kelangsungan ekosistem di alam. Punahnya semut akan berpengaruh bagi kehidupan hewan lain, tumbuhan, dan manusia.

Itu baru semut.

Sekarang kita lihat hewan kecil lainnya. Nyamuk. Pada saat ini, diperkirakan ada 3.500 spesies nyamuk yang ada di Bumi, dan hanya ratusan spesies yang menyerang manusia. Apa yang akan terjadi jika nyamuk musnah dari muka Bumi?

Punahnya satu makhluk pasti berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Jika nyamuk punah, dampak paling besar yang akan segera terjadi ada di habitat tundra (padang es) di Kutub Utara. Tempat itu merupakan sarang terbesar spesies nyamuk Aedes impiger dan Aedes nigripes. Mereka adalah salah satu makanan kesukaan para burung. Jika mereka punah, maka migrasi burung akan berkurang hingga 50 persen—karena berkurangnya makanan.

Migrasi satwa lain juga akan terpengaruh, antara lain karibu (sejenis rusa kutub). Ribuan karibu yang sebelumnya menghindari gigitan nyamuk akan segera menyerbu wilayah tundra, dan hal itu pasti akan diikuti para serigala yang merupakan predator utama para karibu.

Kemudian, spesies ikan pemakan nyamuk, Gambusia affinis, juga akan terancam punah jika nyamuk sudah tidak ada. Punahnya ikan ini sedikit banyak akan berdampak pada rantai makanan yang terjadi di perairan air tawar.

Yang lebih penting lagi, larva atau jentik nyamuk turut berperan dalam penguraian sampah organik. Ketika berada di genangan air, jentik-jentik nyamuk mendapatkan nutrisi untuk tumbuh dari sisa-sisa tanaman yang membusuk. Itu baru sebagian kecil yang mungkin akan terjadi jika nyamuk benar-benar punah dari muka Bumi.

Karena nyamuk, di dunia terjadi korban kematian manusia akibat malaria setiap tahun. Jika tidak ada nyamuk, akan terjadi kekacauan pada ekosistem di planet yang jauh lebih parah, sehingga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih buruk, karena rusaknya ekosistem dan kacaunya rantai makanan.

Lanjut ke sini.

2013-05-17

Pesan Seseorang (2)

Jangan menghabiskan waktu untuk melawan sesuatu yang kau tahu tak bisa dikalahkan.


Pesan Seseorang (1)

Jangan menanyakan sesuatu yang tidak ingin kaudengar jawabannya.