2013-04-11

Tuhan Tidak Butuh Bodyguard, Agama Tidak Perlu Preman, dan Kebenaran Tidak Dibangun dengan Cara Menyalahkan Keyakinan Orang Lain

Kira-kira begitu.

Masalah Mantan

Keajaiban Dunia ke-13: Tidak pernah punya
pacar, tapi punya banyak mantan.
—Twitter, 8 Mei 2012
 

Sempat heran waktu tahu ada orang yang gak
pernah pacaran, tapi punya banyak mantan.
—Twitter, 1 September 2012
 

Ternyata oh ternyata, istilah mantan sekarang telah
mengalami redefinisi, khususnya untuk sebagian orang.
—Twitter, 1 September 2012
 

Jadi, dalam definisi sekarang, mantan adalah
“orang yang kamu cintai, tapi menolakmu.”
Atau, “orang yang kamu taksir, tapi gak jadian.”
—Twitter, 1 September 2012
 

Karena itulah ada beberapa orang yang
kita tahu gak pernah pacaran dengan siapa pun,
tapi bisa punya banyak mantan. Uhuy!
—Twitter, 1 September 2012
 

Karena itu pula, berarti Titi Kamal adalah mantanku.
Karena aku pernah naksir dia, tapi gak sempat
menyatakannya. Konyol banget, ya.
—Twitter, 1 September 2012
 

Dan karena redefinisi konyol itu pula, satu orang
bisa punya puluhan mantan, meski mereka
bahkan kadang tak saling kenal.
—Twitter, 1 September 2012
 

Meredefinisikan mantan, kupikir-pikir,
adalah cara beberapa orang menghibur diri sendiri.
Kedengarannya tragis memang, tapi juga konyol.
—Twitter, 1 September 2012
 

Yang lebih tragis dan konyol lagi adalah
ketika kamu tahu namamu disebut sebagai mantan
oleh orang yang sebenarnya tidak kamu kenal.
—Twitter, 1 September 2012

Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan Menyangkut Twitter (4)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.
***

Ketika mendengar pernyataan terakhir itu, jujur saja saya tertawa. Orang bisa mudah menerbitkan buku kalau memiliki banyak follower…? Kedengarannya asyik sekali. Rupanya, di zaman ini, orang tidak membutuhkan proses belajar dan kecerdasan yang cukup untuk bisa menerbitkan buku. Hanya dengan jumlah follower banyak di Twitter, maka… sim salabim, penerbit akan dengan senang hati menerbitkan buku karyamu.

Benarkah memang seperti itu? Semula saya tidak percaya. Dengan logika yang waras, saya sulit menerima kenyataan bahwa ada orang bisa mudah menerbitkan buku kalau memiliki banyak follower. Menerbitkan buku tidak semudah kedengarannya. Tak peduli anak presiden sekalipun, orang tidak gampang menerbitkan buku kalau memang tidak punya kemampuan untuk itu. Apalagi hanya dengan modal banyak follower di Twitter.

Tetapi, beberapa orang kemudian menunjukkan bukti-buktinya. Mereka menyodorkan setumpuk nama yang saat ini telah menerbitkan buku, dan membandingkan jumlah follower mereka di Twitter. Beberapa nama yang mereka sodorkan itu memang “nama baru” dalam dunia penerbitan, dan sama sekali belum pernah menulis buku satu pun. Benarkah mereka sekarang menerbitkan buku karena banyaknya jumlah follower mereka di Twitter?

Dari buku-buku karya “selebtwit” yang pernah saya baca, beberapa di antaranya berisi kumpulan tweet mereka di Twitter, sementara beberapa lainnya murni karya penulisan—bisa novel, bisa pula catatan-catatan tertentu. Umumnya pula, di sampul buku-buku itu tertulis nama akun si penulis (yang biasanya diawali tanda @). Bagi saya itu lucu, karena kesannya “maksa banget” ingin mengenalkan akun Twitternya.

Sekali lagi, benarkah memang penerbit sekarang menjadikan jumlah follower seseorang sebagai pertimbangan mereka dalam menerbitkan buku?

Salah satu orang yang saya follow di Twitter adalah editor di sebuah penerbitan. Dalam salah satu tweet-nya, editor itu menjelaskan bahwa penerbitnya memang menerbitkan buku dari orang-orang yang disebut “selebtwit”. Tetapi, menurutnya, para “selebtwit” itu tidak serta-merta menerbitkan buku tanpa kualifikasi.

Artinya, meski orang-orang itu memiliki banyak follower di Twitter, tapi penerbit juga mempertimbangkan isi atau karya mereka. Dalam bahasa yang lugas, tak peduli kau memiliki jutaan follower sekalipun, kau tidak bisa serta merta menerbitkan buku kalau kenyataannya tidak bisa menulis dengan baik.

Nah, argumentasi dari editor itu pula yang saya gunakan ketika bercakap-cakap dengan beberapa orang yang sinis menyangkut topik ini. Orang-orang sinis itu menyatakan bahwa standar penerbitan sekarang benar-benar telah jeblok karena siapa pun bisa menerbitkan buku hanya dengan modal jumlah follower di Twitter. Saya katakan pada mereka, bahwa mereka telah keliru memahami, dan saya nyatakan argumentasi di atas.

Tetapi, mereka membalikkan argumentasi saya dengan mudah. Mereka bilang, “Sekarang begini saja. Mungkinkah penerbit mau repot-repot meminta si A (nama seorang selebtwit) untuk menerbitkan buku, jika si A tidak memiliki ratusan ribu follower? Memangnya dulu penerbit ke mana saja ketika si A baru memiliki sepuluh follower? Fakta bahwa ada penerbit mau repot-repot meminta si A agar menulis buku—meski kualitas tulisannya pas-pasan—dengan jelas menunjukkan kalau penerbit itu memandang penting jumlah follower si A.”

Argumentasi itu membuat saya bungkam.

Saya memang tahu, ada orang-orang yang diminta secara khusus oleh penerbit untuk menulis buku. Bukan karena orang itu terkenal pintar menulis (misalnya karena orang itu memiliki blog yang dibaca ribuan orang, atau aktif menulis di koran/majalah), tetapi karena orang itu memiliki banyak follower di Twitter. Itu fakta yang mungkin pahit, tapi memang ada, bahkan cukup banyak. Ketika menemukan fakta itu, mau tak mau saya juga berpikir bahwa penerbit memang mempertimbangkan jumlah follower seseorang ketika menerbitkan bukunya.

Di Twitter, beberapa orang yang sinis atas fenomena tersebut juga sering menyindir adanya penulis-penulis dadakan, yang menerbitkan buku karena jumlah follower mereka yang bejibun. Bahkan, beberapa yang sangat sinis pernah menulis tweet, “Lu belum bisa disebut selebtwit kalau belum nerbitin buku.”

Sepertinya, di zaman ini, Twitter memiliki pengaruh yang amat besar dalam kehidupan sebagian orang. Jika dulu seseorang hanya dicap “kurang gaul” kalau belum punya Twitter, sekarang situs yang disebut microblogging itu juga memainkan banyak peran dan kemungkinan, dari menjadi seleb dadakan, menghasilkan uang dengan menjadi buzzer, sampai menjadi penulis yang dapat menerbitkan buku.

Sebegitu pentingnya Twitter dan follower saat ini, sampai-sampai sebagian orang melakukan berbagai cara untuk mengiklankan akun Twitternya, meski dengan cara yang aneh, semisal dengan menggunakan nama akun Twitternya di sampul buku. Twitter, rupanya, bukan hanya sekadar tempat untuk sharing dan berkomunikasi atau menjalin pertemanan melalui internet, tapi juga telah berfungsi sebagai identitas yang amat penting.

Bahkan untuk orang yang tergolong sudah terkenal sekalipun, identitas Twitter rupanya masih diperlukan. Kenyataan itu saya ketahui ketika belum lama membaca sebuah majalah, dan di dalamnya terdapat wawancara dengan seseorang yang terkenal, yang memiliki jutaan follower di Twitter. Dalam wawancara di majalah itu, foto si orang terkenal dipampangkan, dan identitasnya di Twitter (username yang menggunakan tanda @) dicetak secara menonjol.

Kebetulan, saya mengenal redaktur majalah itu. Waktu kami bertemu dan bercakap-cakap, topik obrolan kami sampai pada wawancara tersebut. Dia menceritakan, bahwa penonjolan akun Twitter itu memang persyaratan yang diminta si orang terkenal. Jadi, orang terkenal wanna be itu mau diwawancarai, dengan syarat identitas atau akun Twitternya ditonjolkan.

Cerita itu membuat saya geleng-geleng kepala. Sebegitu pentingnyakah identitas Twitter?

Dan kalau seseorang yang telah memiliki jutaan follower saja masih repot-repot berusaha seperti itu, tampaknya tidak mengherankan jika orang yang follower-nya beberapa biji juga melakukan hal yang sama. Twitter, di zaman ini, sepertinya telah menjelma bagai udara yang dibutuhkan banyak orang. Fungsinya telah bergeser jauh, dari sekadar untuk berinteraksi di dunia maya, telah berubah menjadi kebutuhan yang nyaris primer.

Dan “pertunjukan” di Twitter memang bisa dibilang tak ada habisnya. Meski dibatasi 140 karakter, timeline selalu penuh fenomena baru, hal-hal baru, berita baru, bahkan kegilaan-kegilaan baru. Di Twitter, ada akun yang konon ditujukan untuk penyebaran fitnah. Ada akun yang—lagi-lagi konon—ditujukan untuk melakukan disinformasi, pembelokan informasi, membelokkan isu, atau hal lainnya.

Sedangkan yang lebih ringan, di Twitter juga muncul beragam karakter yang kadang-kadang aneh dan tak masuk akal. Hanya di Twitter ada orang yang ocehannya tidak jelas, tapi di-follow puluhan ribu orang, dan selalu dinantikan tweet-tweet-nya.

Hanya di Twitter pula ada cowok yang “nyepik” ribuan cewek dengan santai tanpa merasa malu atau risih. Dan, oh ya, di Twitter pun rupanya ada beberapa orang yang ingin menjadi “nabi” dengan cara menyerang keyakinan orang lain sambil memuja keyakinannya sendiri.

Twitter telah mengjungkirbalikkan logika, bahkan kewarasan sebagian orang. Jika dulu orang berpedoman bahwa ucapan baik perlu didengarkan tak peduli siapa yang menyatakannya, maka di zaman ini pedoman bijak semacam itu sudah tak relevan.

Sekarang, di zaman Twitter, yang perlu didengarkan bukan ucapannya, melainkan siapa yang mengatakan. Banyak tweet bagus tapi diabaikan orang karena penulisnya bukan selebtwit. Sebaliknya, banyak tweet tak berguna dan tak punya manfaat apa-apa tapi didengarkan dengan khusyuk—di-mention, di-retweet, dan difavoritkan—banyak orang, karena penulisnya tergolong selebtwit. Kearifan bukan hal penting di Twitter, dan para berhala telah menjadi sesembahan follower.

“Aku berpikir, maka aku ada,” kata Descartes. Sayangnya, para pemuja Twitter tidak sepaham dengannya.

Beberapa Hal yang Perlu Kita Bicarakan Menyangkut Twitter (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.
***

Di blog tersebut, dijelaskan secara panjang lebar mengenai cara memperbanyak follower, khususnya yang dilakukan oleh segelintir orang terkenal di Twitter. Ternyata, orang-orang yang memiliki jutaan follower di Twitter juga mendapatkan follower-nya dengan cara membeli. Dan, yang mengejutkan bagi saya, mereka membelinya secara resmi melalui Twitter!

Mungkin kedengarannya aneh. Konon, Twitter melarang jual-beli akun/follower. Tapi nyatanya mereka sendiri melakukan praktik jual beli follower.

Jadi, berdasarkan penjelasan di blog tersebut, seseorang bisa membeli follower melalui Twitter, setelah mengisi formulir yang disediakan oleh Twitter. Tinggal meng-klik tab “bussiness” di Twitter, pengguna akan diarahkan pada formulir tersebut, untuk kemudian diisi. Karena Twitter baru melayani pembeli di Amerika, maka pembeli yang ada di luar Amerika (misalnya di Indonesia) harus menggunakan alamat di Amerika.

Setelah formulir pembelian kita diterima, Twitter akan menindaklanjutinya. Setelah pembayaran dilakukan, maka Twitter akan memasang akun kita pada halaman awal pendaftaran, sehingga orang-orang yang baru membuat akun di Twitter akan mem-follow akun kita. Dengan cara seperti itu, jumlah follower kita pun akan meningkat pesat dalam waktu singkat, dan tidak ada orang yang curiga kalau sebenarnya kita membeli follower!

Hebat, pikir saya sambil geleng-geleng kepala, ketika membaca semua penjelasan itu.

Dulu, sewaktu mendaftar untuk membuat akun di Twitter, saya memang disodori setumpuk akun di Twitter, untuk saya follow. Twitter bahkan mempersyaratkan agar pendaftar baru mem-follow setidaknya 5 orang (akun) sebelum bisa mulai menggunakan Twitter. Dulu, saya pikir akun-akun yang disodorkan Twitter untuk saya follow itu karena akun-akun tersebut dianggap terkenal. Tapi rupanya itu akun-akun yang telah membayar Twitter untuk memperbanyak follower mereka!

Di blog itu juga dijelaskan siapa-siapa saja yang selama ini telah membeli follower melalui Twitter, sehingga jumlah follower mereka mencapai jutaan. Bukan hanya dari luar negeri, tetapi juga dari Indonesia. Di Indonesia, ada akun-akun yang (mungkin) terkenal, yang memiliki jutaan follower, dan nyaris semuanya hasil membeli melalui Twitter. Mereka terdiri dari artis, penulis, juga atlit. Saya tidak enak menyebutkan nama-namanya—silakan cari sendiri.

Jika penasaran dan ingin tahu siapa saja orang terkenal (dari Indonesia ataupun luar negeri) yang membeli follower melalui Twitter, lakukan saja cara mudah berikut ini.

Buatlah akun baru di Twitter. Pada waktu melakukan pendaftaran, secara otomatis Twitter akan menyodorkan setumpuk akun yang mereka minta/sarankan untuk di-follow. Nah, lihatlah siapa saja akun-akun yang disodorkan Twitter itu, dan kalian mungkin akan terkejut! Mereka itulah yang selama ini telah membayar Twitter untuk memperbanyak follower mereka dengan cara yang amat tersamar.

Ketika mengetahui kenyataan itu, saya juga benar-benar terkejut, karena tidak pernah mengira. Saya pikir mereka yang memiliki jutaan follower itu memang terkenal, atau memang tweet-nya disukai banyak orang. Ternyata hasil beli juga. Ketika sampai pada fakta ini, lagi-lagi saya ingin bertanya, reputasi macam apa yang bisa dinilai dari jumlah follower di Twitter?

Reputasi tidak bisa dibeli, follower bisa dibeli—bahkan secara resmi. Reputasi dibangun dari keahlian, kemampuan, bahkan bakat, juga kerja keras bertahun-tahun. Ia tak terbeli oleh uang, karena harganya tak ternilai. Ada perbedaan yang amat signifikan antara “reputasi” dan “popularitas”. Popularitas memang bisa dibeli, tapi reputasi tak terbeli. Popularitas bisa dimanipulasi, tapi tidak dengan reputasi. Menggunakan istilah kasar, kalau dasarnya tolol, orang tetap akan tahu kalau memang tolol.

Tetapi mungkin sekarang memang zaman Twitter. Sama seperti dulu zaman Friendster atau era Facebook, orang-orang sekarang sangat aktif di Twitter. Ketika kemudian jumlah follower ternyata bisa mendatangkan popularitas, bahkan uang, sebagian orang pun mati-matian memperbanyak follower dengan berbagai cara. Bahkan, yang paling aneh, konon katanya orang bisa mudah menerbitkan buku jika telah memiliki banyak follower. 


Lanjut ke Sini.