2012-12-10

Bokep Dan Rahasia Alam Semesta (4)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

Dalam tataran pemikiran yang lazim, nafsu seks adalah modal manusia untuk tertarik pada lawan jenis, saling jatuh cinta, untuk kemudian berpasangan dan berketurunan. Karena itu, nafsu seks yang besar bukan masalah bagi orang dewasa yang telah matang jiwa raga, serta telah siap untuk menikah, sehingga bisa menyalurkan nafsu seks pada pasangannya. Tetapi, sekali lagi, kita terbentur pada pertanyaan, “Mengapa nafsu seks yang besar justru ada di tangan remaja?”

Para remaja, kita sama-sama tahu, adalah manusia yang belum matang. Mereka masih labil, belum bisa bersikap dan berbuat bijaksana, bahkan belum siap untuk menikah dan memiliki pasangan. Kenapa mereka dianugerahi nafsu seks yang sedemikian besar sekaligus kemampuan untuk melakukannya? Untuk apa, atau apa manfaatnya, kemampuan serta nafsu seks itu bagi remaja?

Saya kerap kali membayangkan. Jika para remaja tidak dianugerahi nafsu seks yang begitu besar, maka semua kerusakan yang terjadi di dunia remaja dapat dihilangkan, atau setidaknya ditekan. Penjualan film bokep, pembuatan video porno amatir, hingga kenakalan-kenakalan lain yang biasa terjadi di dunia remaja, semuanya hampir bisa dijawab karena dilatarbelakangi nafsu seks mereka. Bahkan, saya curiga, sekian banyak aktivitas tawuran antara remaja juga dilatarbelakangi libido mereka yang masih menggelegak.

Sigmund Freud bahkan menyatakan semua aktivitas yang dilakukan manusia didasari oleh libido. Libido, yang dimaksud Freud, tentu nafsu seks. Dan saya pun sepakat dengannya, bahwa film-film bokep, aktivitas pacaran, sampai keasyikan telanjang dan ngomongin hal-hal berbau seks, didasari oleh libido yang kita miliki. Tetapi, rupanya Freud telah memikirkan hal itu secara lebih mendalam. Ia menyebut “semua aktivitas”. Artinya, bagi Freud, segala macam aktivitas manusia—dari bangun tidur sampai mau tidur lagi—didasari oleh libido.

Pernyataan Freud itu pernah membuat saya tidak bisa tidur. Freud adalah salah satu pemikir—khususnya dalam bidang psikoanalisa—paling hebat yang pernah dimiliki planet ini. Karenanya, statemen yang pernah keluar dari mulutnya, atau yang pernah ditulisnya, tentu bukan statemen main-main. Dan jika Freud menyatakan “semua aktivitas” manusia didasari oleh libido, maka tentunya Freud memiliki dasar bagi pernyataan itu. Tapi apa dasarnya…?

Pencarian saya untuk pertanyaan-pertanyaan di atas kemudian membawa saya pada sesuatu yang disebut “transmutasi seks” (sex transmutation). Dan, sejauh ini, transmutasi seks itulah satu-satunya jawaban yang saya anggap paling masuk akal untuk menjawab alasan mengapa alam semesta menganugerahi nafsu seks yang besar kepada manusia, khususnya para remaja.

Transmutasi adalah “perubahan atau pemindahan suatu unsur atau suatu bentuk energi, menjadi unsur lainnya”. So, transmutasi seks adalah pengalihan energi seks untuk mewujudkan energi lainnya.

Energi seks adalah energi yang besar. Ia laksana air yang mengalir deras. Jika aliran itu dibiarkan, ia akan mengalir ke mana-mana. Jika dibendung, aliran air itu mungkin akan berhenti sesaat, tetapi kemudian pada akhirnya akan membludak. Satu-satunya cara terbaik untuk menangani aliran air deras itu adalah mengubahnya menjadi energi. Misalnya menjadikannya energi listrik bertenaga air.

Nah, transmutasi seks tak jauh beda dengan itu. Jika nafsu seks dibiarkan, ia akan mengalir kemana-mana—ke bokep, ke pacaran, ke video porno, dan lain-lain. Jika dibendung, nafsu seks mungkin akan tertahan sebentar, tetapi pada akhirnya ia akan meledak dan membludak keluar. Satu-satunya cara sehat menangani nafsu seks adalah mentransmutasikannya ke hal-hal lain.

Napoleon Hill, dalam Think and Grow Rich, menulis deskripsi penting mengenai hal tesebut. “Hasrat keinginan seksual,” tulis Napoleon Hill, “adalah yang paling kuat di antara semua keinginan manusia. Jika terdorong oleh keinginan ini, manusia bisa mengembangkan imajinasi yang paling tajam, keberanian, kekuatan kemauan, ketekunan, dan semua kemampuan kreatif yang tidak mereka ketahui pada saat-saat lainnya. Sedemikian kuat dan berpengaruhnya keinginan untuk kontak seksual, sehingga manusia begitu berani mempertaruhkan jiwa dan reputasi untuk memenuhinya. Kalau dikendalikan dan diarahkan kembali sepanjang jalur yang lain, kekuatan yang memberikan motivasi ini menjaga semua atribut ketajaman imajinasi, keberanian, dan sebagainya, yang bisa digunakan sebagai daya kreatif yang kuat dalam kesusastraan, seni, atau dalam profesi lainnya, yang tentu saja termasuk pengumpulan kekayaan.”

Ketika menulis buku Think and Grow Rich, Napoleon Hill mempelajari kehidupan ribuan orang kaya dan berhasil di dunia ini secara langsung—melalui observasi dan wawancara-wawancara. Dan ia menemukan, sebagaimana yang ditulisnya dalam buku tersebut, “Orang-orang yang telah mencapai prestasi tertinggi adalah mereka yang hakikat seksualnya telah berkembang begitu tinggi, yaitu orang yang telah mempelajari seni transmutasi seks.”

Di dalam bukunya tersebut, Napoleon Hill bahkan memberikan contoh siapa saja tokoh-tokoh hebat dunia ini yang berhasil mencapai prestasi gemilang karena kemampuan mereka melakukan transmutasi seks. Dalam penelitian Hill, beberapa tokoh itu adalah Thomas Alva Edison, Thomas Jefferson, George Washington, William Shakespeare, Ralph Waldo Emerson, Abraham Lincoln, Enrico Caruso, Woodrow Wilson, Elbert Hubbard, hingga Andrew Jackson. (Jika belum kenal nama-nama itu, silakan lacak mereka di Google atau Wikipedia).

Bahkan—kali ini menurut Sigmund Freud—kemampuan hebat yang dimiliki Leonardo DaVinci, sehingga ia dikenal sebagai manusia paling genius di muka bumi, juga karena didasari kemampuan Leonardo dalam mengubah nafsu seksnya menjadi energi untuk berpikir.

Jadi, mengapa nafsu seks yang amat besar dianugerahkan kepada para remaja? Sekarang saya mulai melihat kerangka yang dirahasiakan alam semesta.

Jika nafsu seks yang besar diberikan pada orang dewasa atau orang-orang tua, hal itu sudah tak hebat lagi, karena mereka bisa menyalurkannya dengan mudah pada pasangannya. Nafsu seks yang amat besar sengaja dianugerahkan kepada para remaja, agar mereka mencari cara menyalurkan nafsu itu kepada hal lain yang tak ada hubungannya dengan seks. Jika mereka berhasil menemukannya, mereka akan mencapai kehebatan dan kebesaran tak terbayangkan.

Seks adalah energi terbesar yang dimiliki manusia. Dan sekarang saya tahu, bahwa energi itu tidak dianugerahkan alam semesta kepada manusia untuk urusan kawin semata-mata, tetapi juga ditujukan untuk sesuatu yang tidak kalah mulia, yaitu untuk mencapai takdir rahasia yang disembunyikan dari pemiliknya, untuk menggapai puncak tertinggi yang dapat diraih seorang manusia.

Bokep Dan Rahasia Alam Semesta (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.


Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa alam semesta meletakkan sebuah granat aktif di tangan seorang bayi? Mengapa remaja yang masih sangat labil justru dikaruniai kemampuan hebat dalam nafsu dan ereksi?

Remember, seks adalah godaan terbesar manusia. Ketika seseorang sedang bernafsu—tak peduli sebesar apa pun—dia tidak akan mampu melakukannya jika organ tubuhnya (lebih khusus lagi; organ seksnya) tidak mendukung. Contoh paling mudah, orang yang menderita impotensi atau disfungsi ereksi. Dalam kasus semacam itu—yang biasanya dialami orang dewasa atau orang tua—seseorang tidak bisa melakukan aktivitas seks karena organ seksnya tidak berfungsi.

Kenyataan itu berbeda dengan yang terjadi pada remaja. Pada remaja, mereka memiliki nafsu seks yang menyala-nyala, sekaligus kemampuan melakukannya, karena organ seks mereka juga mudah membara. Artinya, godaan seks jauh lebih besar dialami remaja dibanding pada orang dewasa atau orang tua. Yang merisaukan, dalam hal ini, kaum remaja masih sangat labil. Ketika nafsu seksnya menyala dan organ seks mereka membara, kira-kira apa atau bagaimana yang mereka lakukan?

Jawabannya pun segera tergambar jelas di depan mata kita—dari aktivitas pacaran, nonton bokep, sampai memposting foto-foto telanjang. Dan dari situ, kita kembali berhadapan dengan pertanyaan penting, “Mengapa alam semesta melakukan kekeliruan semacam itu?”

Seperti yang telah disinggung di atas, makalah-makalah kedokteran dengan jelas menyebutkan bahwa tingkat ereksi seorang pria mencapai tingkat tertinggi ketika masih remaja, dan akan menurun seiring bertambahnya usia. Bukankah, jika dipikirkan secara mendalam, kenyataan itu sebenarnya terbalik sekaligus berbahaya?

Kemampuan ereksi yang hebat mungkin tidak jadi masalah jika dimiliki orang dewasa yang telah menikah atau memiliki pasangan, karena nafsu seks bisa disalurkan pada pasangannya. Tapi kenapa justru nafsu seks yang amat besar semacam itu dimiliki kaum remaja, yang tentunya belum cukup umur dan belum memiliki pasangan? Tidakkah alam semesta memikirkan kenyataan itu…?

Di antara banyak hal lain yang saya pikirkan, kenyataan itu menjadi salah satu hal yang pernah saya pikirkan hingga bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun, saya mencari jawaban yang sekiranya masuk akal, mengapa alam semesta sampai melakukan kekeliruan yang amat berbahaya dalam kehidupan umat manusia. Mengapa nafsu dan kemampuan seks yang besar justru dianugerahkan kepada para remaja?

Jika kita menggunakan perspektif biologi, kita akan diberitahu bahwa kemampuan fisik manusia memang akan mencapai tingkatnya yang tertinggi ketika ia masih muda. Begitu pula dalam kemampuan ereksi dan nafsu seks. Itu tak ubahnya seperti motor atau mobil. Ketika kita membeli kendaraan baru, kendaraan itu butuh waktu untuk mencapai tingkat terbaiknya. Beberapa bulan setelah dikendarai, kendaraan baru itu pun akan semakin lancar dan semakin nyaman digunakan. Tetapi, setelah bertahun-tahun dipakai, kendaraan yang semula hebat itu akan mulai aus. Begitu pula tubuh manusia.

Jika kita menggunakan perspektif medis, penjelasannya juga tak jauh beda. Tubuh manusia tidak selamanya fit. Di waktu-waktu tertentu, kita akan mengalami lelah dan jatuh sakit, dan kita pun membutuhkan obat, yang biasanya berbentuk zat kimia. Usia yang semakin menua—ditambah menumpuknya zat kimia di tubuh kita—mau tak mau akan mempengaruhi tingkat kemampuan dan kekuatan yang kita miliki. Ketika usia semakin bertambah, kemampuan dan kekuatan kita akan menurun.

Dua penjelasan itu tentu saja logis dan masuk akal. Tapi tetap belum mampu menjawab pertanyaan di atas. Sekali lagi, nafsu seks yang amat besar pada remaja sama berbahayanya dengan granat aktif di tangan seorang bayi. Tetapi kenapa justru kenyataan semacam itu yang terjadi?

Lanjut ke sini.

Bokep Dan Rahasia Alam Semesta (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.



Berdasarkan kenyataan itu, “wajar” pula kalau aktivitas pacaran atau bahkan seks bebas paling banyak dilakukan para remaja, karena pada masa itu mereka sedang berada dalam tahap “paling panas”, secara biologis maupun psikologis. Aktivitas pacaran—terlepas bagaimana kita mendefinisikannya—banyak dijadikan sebagai semacam “penyaluran” nafsu yang meledak-ledak. Sekali lagi, saya tidak sedang bicara moral—saya sedang bicara fakta.
 

Ketertarikan pada lawan jenis secara menggebu-gebu, aktivitas pacaran, hingga kecenderungan terhadap film bokep, adalah sedikit di antara “hal-hal panas” yang bisa dikatakan dekat dengan kehidupan remaja. Bahkan, ketika film bokep dianggap “membosankan”, sebagian remaja bikin film bokep sendiri secara amatiran. Menurut Sonny Set, film bokep amatiran semacam itu jumlahnya telah mencapai ribuan.
Namun itu belum semuanya. “Panas”nya dunia remaja di era sekarang juga telah mendapatkan fasilitas-fasilitas hebat yang tidak pernah dikenal remaja-remaja zaman dulu. Di masa sekarang, anak-anak remaja bisa melampiaskan nafsunya dengan berbagai sarana yang ada—dari kamera ponsel untuk membuat bokep amatir, film-flm porno yang bebas diunduh di internet, hingga kebebasan di situs jejaring sosial.

Siapa pun yang suka keluyuran di Facebook atau Twitter, pasti tahu banyaknya group atau orang per orang yang hobi memamerkan foto-foto telanjangnya. Di Facebook, ada group-group tertutup yang masing-masing anggotanya bebas memposting foto-foto telanjang mereka. Di Twitter, tak terhitung banyaknya orang—lelaki maupun perempuan—yang enjoy memposting foto-foto panasnya sebagai sarana berkenalan dengan sesama pecinta ketelanjangan.
(Tolong tidak usah repot-repot menghubungi saya untuk menanyakan alamat group atau akun Twitter tersebut, karena saya tidak akan menjawabnya).
 

Ketika menyaksikan semua itu, saya tertegun. Menemukan website yang menjual bokep dalam harddisk satu tera saja sudah membuat saya takjub. Tapi “ketakjuban” saya ketika menyaksikan orang-orang asyik telanjang di Facebook atau Twitter benar-benar tak pernah saya bayangkan. Kita tentu bisa mengajukan pertanyaan klise, “Mengapa mereka bisa segila itu?” Jika saya perhatikan, semua “kegilaan” yang terjadi itu kebanyakan dilakukan para remaja, atau anak-anak muda. Sejauh ini, saya belum pernah menemukan kakek-kakek atau nenek-nenek yang memposting foto telanjang mereka. Dan para remaja yang asyik memposting foto-foto telanjangnya itu bisa berdasar karena narsis, bisa pula karena semacam eksibisionis. Yang jelas, hal itu telah menjadi salah satu penyaluran “nafsu” mereka yang meledak-ledak.
 

Ketika menyaksikan semuanya itu, saya sering kali berpikir bahwa alam semesta telah melakukan “kekeliruan” berbahaya. Seperti yang telah disebutkan di atas, nafsu seks seseorang bisa dibilang tak pernah mati sampai usia berapa pun. Tetapi, kemampuan melakukannya (dalam contoh yang gampang; ereksi) mencapai tingkat paling hebat ketika seseorang masih remaja. Bukankah ini semacam kekeliruan yang sengaja dilakukan alam semesta?
 

Ketika seseorang masih puber atau remaja, secara umum dia belum bisa berpikir dan bersikap secara matang atau dewasa—namanya juga masih remaja. Artinya, remaja adalah usia yang labil, jauh dari sikap bijaksana. Tapi kenapa alam semesta mengaruniai nafsu seks yang luar biasa besar semacam itu untuk orang yang jelas-jelas masih labil dan baru puber? Dalam bayangan saya, nafsu seks yang meledak-ledak pada diri remaja tak jauh beda dengan granat aktif di tangan seorang bayi. Berbahaya—sangat berbahaya.
 


Lanjut ke sini.

Bokep Dan Rahasia Alam Semesta (1)

"Kepuasan hidup, kau tahu, tak bisa diukur
dari berapa banyak koleksi bokepmu."
~Tori Black~

Dalam kehidupan banyak orang—khususnya kaum lelaki—bokep memiliki tempat yang cukup spesial. Khususnya bagi yang masih remaja atau anak muda. Statistik terbaru bahkan menyebutkan bahwa 97 persen remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah melihat bokep. Saya tidak bermaksud membicarakan moral. Saya sedang bicara fakta. Dan, sejujurnya, saya tidak terkejut mendapati fakta itu.

Negeri yang kita tinggali ini—dan mungkin sebagian masyarakatnya—bisa saja bertingkah sok alim dan sok suci, tetapi fakta selalu berbicara lebih keras dibanding slogan dan pencitraan. Berbagai upaya dilakukan untuk memblokir situs porno dari akses internet masyarakat, tetapi—bagi banyak orang—pemblokiran semacam itu hanya sebentuk pemubaziran, atau bahkan semacam kemunafikan. 

Saya masih ingat, dulu ketika sering liburan ke Jakarta, kadang saya keluyuran ke Glodok untuk mencari VCD bokep. Oh, well, pemerintah Indonesia, bahkan Gubernur DKI Jakarta, tahu peredaran bokep di sana, jadi saya tidak malu mengakui kalau saya juga kadang keluyuran ke sana. Lebih dari itu, ada banyak orang selain saya yang juga mendatangi tempat itu.

Dulu, ketika pertama kali membeli bokep di sana, per keping VCD dijual seharga dua belas ribu perak. Beberapa waktu kemudian, harga itu turun, menjadi sepuluh ribu perak per keping. Lalu turun lagi menjadi lima ribu, hingga akhirnya sepuluh ribu perak dapat tiga keping. Sekarang era VCD sudah berlalu, dan cakram DVD menggantikannya. Saya tidak tahu berapa harganya, karena tak pernah lagi keluyuran ke sana.

Sekarang, orang tidak perlu susah-susah mendapatkan bokep, karena internet mampu memberikannya tanpa harus keluar rumah. Silakan saja situs-situs porno diblokir, tapi industri pornografi bagaikan aliran air—ia selalu mampu menyelusup melalui celah-celah sesempit apa pun. Memblokir situs porno, seperti yang dituliskan di atas, adalah pekerjaan sia-sia, tanpa membenahi moral masyarakat pengaksesnya terlebih dulu.

Di internet, seperti yang kita tahu, ada ribuan situs yang menawarkan film bokep. Seseorang bisa menjadi member dengan membayar iuran yang disepakati, dan kemudian bebas mengunduh film sebanyak apa pun—dengan identitas anonim. Jika ingin gratisan, ribuan situs serupa juga menyediakannya. Jika tidak ingin repot men-download, orang dapat membeli yang sudah “matang” alias dalam bentuk cakram DVD.

Belum lama, saya “kesasar” ke sebuah situs yang menawarkan bokep yang telah dikemas dalam sebuah harddisk eksternal atau portabel. Di masa sekarang, harddisk tidak lagi berukuran besar sehingga sulit dibawa-bawa. Keberadaan harddisk eksternal yang ramping bahkan kecil telah melakukan revolusi dalam hal penyimpanan data. Selain itu, harddisk eksternal juga memiliki kapasitas ruang penyimpanan dalam jumlah raksasa. Ukurannya tidak lagi mega atau giga, tapi sudah tera. Bagi yang mungkin belum tahu, satu tera sama dengan seribu giga.

Nah, di situs itu, saya melongo mendapati tawaran bokep yang telah dikemas dalam harddisk berbagai ukuran—rata-rata berkapasitas satu tera, dan berisi ribuan judul bokep yang isinya bisa dipesan. Melihat trafik yang tinggi di situs tersebut, hampir dapat dipastikan pengunjungnya cukup banyak, begitu pula peminat dan pembelinya. Industri pornografi, kau tahu, setua umur manusia.

Mengapa orang menyukai bokep? Jika statistik menyatakan bahwa penonton bokep sebagian besar lelaki, maka psikologi dapat menjawabnya cukup mudah. Lelaki senang menonton bokep, karena mereka makhluk visual. Itulah kenapa lelaki selalu cenderung dengan wanita cantik, karena indra visual mereka yang lebih banyak berbicara. Dalam hal ini, bokep memanjakan indra visual lelaki.

Wanita juga menyukai hal-hal indah—dalam banyak hal, mereka bahkan memuja keindahan. Tetapi dalam konteks ketertarikan pada lawan jenis, wanita (disadari atau tidak) lebih mengandalkan hal lain selain visual—bisa pendengaran, perasaan, ataupun faktor lain. Ada banyak wanita yang jatuh cinta karena ketertarikan fisik, tetapi jauh lebih banyak wanita yang jatuh cinta karena hal-hal di luar ketertarikan fisik.

Back to bokep.

Berdasarkan statistik pula, konsumen terbesar bokep adalah kaum remaja—atau mereka yang baru puber. Itu bisa dimaklumi, karena usia puber adalah usia ketika seseorang sedang “panas-panasnya”. Bahkan, menurut makalah-makalah kedokteran yang saya baca, lelaki paling mudah ereksi ketika ia masih puber atau remaja. Seiring bertambah usianya, tingkat kemampuan ereksi pria akan menurun, dan terus menurun—meski nafsu seks mereka mungkin tidak pernah mati. 


Lanjut ke sini