2012-12-10

Bokep Dan Rahasia Alam Semesta (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.



Berdasarkan kenyataan itu, “wajar” pula kalau aktivitas pacaran atau bahkan seks bebas paling banyak dilakukan para remaja, karena pada masa itu mereka sedang berada dalam tahap “paling panas”, secara biologis maupun psikologis. Aktivitas pacaran—terlepas bagaimana kita mendefinisikannya—banyak dijadikan sebagai semacam “penyaluran” nafsu yang meledak-ledak. Sekali lagi, saya tidak sedang bicara moral—saya sedang bicara fakta.
 

Ketertarikan pada lawan jenis secara menggebu-gebu, aktivitas pacaran, hingga kecenderungan terhadap film bokep, adalah sedikit di antara “hal-hal panas” yang bisa dikatakan dekat dengan kehidupan remaja. Bahkan, ketika film bokep dianggap “membosankan”, sebagian remaja bikin film bokep sendiri secara amatiran. Menurut Sonny Set, film bokep amatiran semacam itu jumlahnya telah mencapai ribuan.
Namun itu belum semuanya. “Panas”nya dunia remaja di era sekarang juga telah mendapatkan fasilitas-fasilitas hebat yang tidak pernah dikenal remaja-remaja zaman dulu. Di masa sekarang, anak-anak remaja bisa melampiaskan nafsunya dengan berbagai sarana yang ada—dari kamera ponsel untuk membuat bokep amatir, film-flm porno yang bebas diunduh di internet, hingga kebebasan di situs jejaring sosial.

Siapa pun yang suka keluyuran di Facebook atau Twitter, pasti tahu banyaknya group atau orang per orang yang hobi memamerkan foto-foto telanjangnya. Di Facebook, ada group-group tertutup yang masing-masing anggotanya bebas memposting foto-foto telanjang mereka. Di Twitter, tak terhitung banyaknya orang—lelaki maupun perempuan—yang enjoy memposting foto-foto panasnya sebagai sarana berkenalan dengan sesama pecinta ketelanjangan.
(Tolong tidak usah repot-repot menghubungi saya untuk menanyakan alamat group atau akun Twitter tersebut, karena saya tidak akan menjawabnya).
 

Ketika menyaksikan semua itu, saya tertegun. Menemukan website yang menjual bokep dalam harddisk satu tera saja sudah membuat saya takjub. Tapi “ketakjuban” saya ketika menyaksikan orang-orang asyik telanjang di Facebook atau Twitter benar-benar tak pernah saya bayangkan. Kita tentu bisa mengajukan pertanyaan klise, “Mengapa mereka bisa segila itu?” Jika saya perhatikan, semua “kegilaan” yang terjadi itu kebanyakan dilakukan para remaja, atau anak-anak muda. Sejauh ini, saya belum pernah menemukan kakek-kakek atau nenek-nenek yang memposting foto telanjang mereka. Dan para remaja yang asyik memposting foto-foto telanjangnya itu bisa berdasar karena narsis, bisa pula karena semacam eksibisionis. Yang jelas, hal itu telah menjadi salah satu penyaluran “nafsu” mereka yang meledak-ledak.
 

Ketika menyaksikan semuanya itu, saya sering kali berpikir bahwa alam semesta telah melakukan “kekeliruan” berbahaya. Seperti yang telah disebutkan di atas, nafsu seks seseorang bisa dibilang tak pernah mati sampai usia berapa pun. Tetapi, kemampuan melakukannya (dalam contoh yang gampang; ereksi) mencapai tingkat paling hebat ketika seseorang masih remaja. Bukankah ini semacam kekeliruan yang sengaja dilakukan alam semesta?
 

Ketika seseorang masih puber atau remaja, secara umum dia belum bisa berpikir dan bersikap secara matang atau dewasa—namanya juga masih remaja. Artinya, remaja adalah usia yang labil, jauh dari sikap bijaksana. Tapi kenapa alam semesta mengaruniai nafsu seks yang luar biasa besar semacam itu untuk orang yang jelas-jelas masih labil dan baru puber? Dalam bayangan saya, nafsu seks yang meledak-ledak pada diri remaja tak jauh beda dengan granat aktif di tangan seorang bayi. Berbahaya—sangat berbahaya.
 


Lanjut ke sini.

Bokep Dan Rahasia Alam Semesta (1)

"Kepuasan hidup, kau tahu, tak bisa diukur
dari berapa banyak koleksi bokepmu."
~Tori Black~

Dalam kehidupan banyak orang—khususnya kaum lelaki—bokep memiliki tempat yang cukup spesial. Khususnya bagi yang masih remaja atau anak muda. Statistik terbaru bahkan menyebutkan bahwa 97 persen remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah melihat bokep. Saya tidak bermaksud membicarakan moral. Saya sedang bicara fakta. Dan, sejujurnya, saya tidak terkejut mendapati fakta itu.

Negeri yang kita tinggali ini—dan mungkin sebagian masyarakatnya—bisa saja bertingkah sok alim dan sok suci, tetapi fakta selalu berbicara lebih keras dibanding slogan dan pencitraan. Berbagai upaya dilakukan untuk memblokir situs porno dari akses internet masyarakat, tetapi—bagi banyak orang—pemblokiran semacam itu hanya sebentuk pemubaziran, atau bahkan semacam kemunafikan. 

Saya masih ingat, dulu ketika sering liburan ke Jakarta, kadang saya keluyuran ke Glodok untuk mencari VCD bokep. Oh, well, pemerintah Indonesia, bahkan Gubernur DKI Jakarta, tahu peredaran bokep di sana, jadi saya tidak malu mengakui kalau saya juga kadang keluyuran ke sana. Lebih dari itu, ada banyak orang selain saya yang juga mendatangi tempat itu.

Dulu, ketika pertama kali membeli bokep di sana, per keping VCD dijual seharga dua belas ribu perak. Beberapa waktu kemudian, harga itu turun, menjadi sepuluh ribu perak per keping. Lalu turun lagi menjadi lima ribu, hingga akhirnya sepuluh ribu perak dapat tiga keping. Sekarang era VCD sudah berlalu, dan cakram DVD menggantikannya. Saya tidak tahu berapa harganya, karena tak pernah lagi keluyuran ke sana.

Sekarang, orang tidak perlu susah-susah mendapatkan bokep, karena internet mampu memberikannya tanpa harus keluar rumah. Silakan saja situs-situs porno diblokir, tapi industri pornografi bagaikan aliran air—ia selalu mampu menyelusup melalui celah-celah sesempit apa pun. Memblokir situs porno, seperti yang dituliskan di atas, adalah pekerjaan sia-sia, tanpa membenahi moral masyarakat pengaksesnya terlebih dulu.

Di internet, seperti yang kita tahu, ada ribuan situs yang menawarkan film bokep. Seseorang bisa menjadi member dengan membayar iuran yang disepakati, dan kemudian bebas mengunduh film sebanyak apa pun—dengan identitas anonim. Jika ingin gratisan, ribuan situs serupa juga menyediakannya. Jika tidak ingin repot men-download, orang dapat membeli yang sudah “matang” alias dalam bentuk cakram DVD.

Belum lama, saya “kesasar” ke sebuah situs yang menawarkan bokep yang telah dikemas dalam sebuah harddisk eksternal atau portabel. Di masa sekarang, harddisk tidak lagi berukuran besar sehingga sulit dibawa-bawa. Keberadaan harddisk eksternal yang ramping bahkan kecil telah melakukan revolusi dalam hal penyimpanan data. Selain itu, harddisk eksternal juga memiliki kapasitas ruang penyimpanan dalam jumlah raksasa. Ukurannya tidak lagi mega atau giga, tapi sudah tera. Bagi yang mungkin belum tahu, satu tera sama dengan seribu giga.

Nah, di situs itu, saya melongo mendapati tawaran bokep yang telah dikemas dalam harddisk berbagai ukuran—rata-rata berkapasitas satu tera, dan berisi ribuan judul bokep yang isinya bisa dipesan. Melihat trafik yang tinggi di situs tersebut, hampir dapat dipastikan pengunjungnya cukup banyak, begitu pula peminat dan pembelinya. Industri pornografi, kau tahu, setua umur manusia.

Mengapa orang menyukai bokep? Jika statistik menyatakan bahwa penonton bokep sebagian besar lelaki, maka psikologi dapat menjawabnya cukup mudah. Lelaki senang menonton bokep, karena mereka makhluk visual. Itulah kenapa lelaki selalu cenderung dengan wanita cantik, karena indra visual mereka yang lebih banyak berbicara. Dalam hal ini, bokep memanjakan indra visual lelaki.

Wanita juga menyukai hal-hal indah—dalam banyak hal, mereka bahkan memuja keindahan. Tetapi dalam konteks ketertarikan pada lawan jenis, wanita (disadari atau tidak) lebih mengandalkan hal lain selain visual—bisa pendengaran, perasaan, ataupun faktor lain. Ada banyak wanita yang jatuh cinta karena ketertarikan fisik, tetapi jauh lebih banyak wanita yang jatuh cinta karena hal-hal di luar ketertarikan fisik.

Back to bokep.

Berdasarkan statistik pula, konsumen terbesar bokep adalah kaum remaja—atau mereka yang baru puber. Itu bisa dimaklumi, karena usia puber adalah usia ketika seseorang sedang “panas-panasnya”. Bahkan, menurut makalah-makalah kedokteran yang saya baca, lelaki paling mudah ereksi ketika ia masih puber atau remaja. Seiring bertambah usianya, tingkat kemampuan ereksi pria akan menurun, dan terus menurun—meski nafsu seks mereka mungkin tidak pernah mati. 


Lanjut ke sini

2012-12-03

Mengapa dan Mengapa??

Pertama kali mengenal nama Steven Seagal adalah ketika menonton Undersiege, film yang kemudian membesarkan nama Seagal. Sebagaimana banyak penonton film, saya juga menilai Undersiege sebagai film bagus. So, ketika Undersiege dibuat sekuelnya, saya pun memastikan diri untuk menonton.
Seusai Undersiege, Steven Seagal juga membintangi film-film lain—hingga di masa sekarang. Entah sudah berapa banyak film yang pernah dibintanginya selama masa-masa itu, namun yang jelas saya cukup banyak menonton filmnya, di antaranya Urban Justice, Today You Die, Shadow Man, Ruslan, Pistol Whipped, Kill Switch, Attack Force, dan puluhan lainnya.

Banyaknya film Steven Seagal yang saya tonton, karena saya penasaran ingin menyaksikan dia sekali-sekali kalah. Tetapi rupanya harapan saya tak pernah terkabul. Di antara puluhan film Seagal yang pernah saya tonton, tidak ada satu pun yang memperlihatkan Steven Seagal kalah, apalagi sampai terbunuh. Artinya, dalam setiap pertempuran, Steven Seagal selalu dan pasti menang.

Mengapa Steven Seagal tidak pernah kalah dalam film-film yang dibintanginya? Tentu saja jawabannya mudah, karena dia menjadi tokoh utama, sekaligus protagonis. Kemudian, belakangan saya tahu, dia juga menjadi produser, bahkan penulis skenario sebagian besar film yang dibintanginya. Artinya, dia bisa memerankan apa saja yang diinginkannya, dengan jalan cerita semustahil apa pun yang dibayangkannya—dan dia selalu menang, alias tak pernah kalah.

Setelah yakin Steven Seagal tak pernah kalah sejak film pertama sampai filmnya yang terbaru, saya pun jadi pesimis bahkan apatis untuk dapat melihat Seagal kalah dalam filmnya. So, ketika mendengar film Machette dirilis, dan dalam film itu Seagal tewas, saya pun langsung tertarik.

Machette adalah film yang dibintangi Danny Trejo, Robert De Niro, Jessica Alba, Don Johnson, Jeff Fahey, Michelle Rodriguez, Lindsay Lohan, dan Steven Seagal. Berbeda dengan film-film Seagal yang lain, dalam film itu ia menjadi penjahat alias antagonis. Dalam film itu memang dikisahkan tokoh yang diperankan Steven Seagal tewas. Tetapi tewasnya benar-benar tidak seperti yang saya harapkan.

Dalam pertempuran hidup-mati antara Danny Trejo dan Steven Seagal, sebilah pedang menusuk perut Seagal. Tapi dia tidak langsung tewas. Sebaliknya, Seagal “mengorek-ngorek” perutnya sendiri dengan pedang itu, alias tidak mau disebut mati terbunuh, dan lebih suka jika orang mengingatnya sebagai “harakiri”. (Untuk lebih memahami maksud saya, ada baiknya untuk menonton filmnya secara langsung).

Ini aneh, pikir saya.

Aneh, karena seolah-olah Steven Seagal memang tidak pernah mau kalah, apa pun dan bagaimana pun kisahnya.

Jadi, mengapa Steven Seagal tidak pernah kalah dalam film-filmnya? Bukan karena ia selalu menjadi protagonis atau sang hero. Bukan karena ia menjadi produser dan penulis skenario filmnya. Bukan pula karena ia tidak ingin mengecewakan para penggemarnya. Steven Seagal tidak pernah kalah dalam film-film yang dibintanginya, karena… itu membuktikan kebenaran teori Freud.

Enough, jawaban itu sudah terlalu panjang, masih banyak pertanyaan lain di kepala saya. So, sekarang tinggalkan Steven Seagal, dan lanjut ke pertanyaan-pertanyaan lain di kepala saya….


Mengapa Saleem Iklim selalu ngotot kalau menyanyi?
Yeah, suka-suka dia, laaah. Orang dia yang nyanyi ini!


Mengapa rambut Leonardo DiCaprio selalu modis?
Dalam film Romeo & Juliet, rambut Leonardo DiCaprio selalu modis, dalam arti terus dalam kondisi enak dilihat (tidak awut-awutan) meski dia jungkir balik tak karuan.

Begitu pun dalam film Titanic. Dalam film itu, Leonardo DiCaprio berdiri di buritan kapal, dan rambutnya tertiup angin. Tapi rambutnya tetap saja modis—enak dilihat, tidak awut-awutan. Dia juga sempat menyelam ke dalam air ketika air laut mulai memasuki Titanic. Tapi meski telah basah kuyup sekali pun, rambutnya tetap saja modis.

Dan saya benar-benar terpesona, sekaligus ingin sekali memiliki rambut seperti itu. Dengan segala kegoblokan, saya menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan dan mencari cara agar bisa memiliki rambut sehebat itu!

Waktu menonton kedua film tersebut, saya masih SMP atau awal SMA. Dan, sebagai cowok culun campur tolol, saya benar-benar tidak paham kalau rambut sialan itu sebenarnya tidak seperti yang saya lihat. Belakangan saya tahu, rambut Leonardo DiCaprio yang selalu modis dalam film itu adalah kerjaan salon. Tiap beberapa menit sekali—selama suting film-film tersebut—rambut Leonardo DiCaprio terus-menerus dibenahi mbak-mbak salon yang telah siap di lokasi suting.

Ketika tahu hal itu, saya misuh-misuh.


Mengapa banyak cewek yang cemburu pada Manohara?
Karena Manohara ada dalam film Titanic. Hingga detik ini saya masih bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Manohara dengan Kate Winslet.


Mengapa cewek-cewek suka Justin Bieber?

Karena ingin punya pacar seperti dia.

Salah! Cewek-cewek suka Justin Bieber, justru karena tidak ingin punya pacar seperti dia!

Lirih

Ya, ya, aku tahu kau membaca blogku.

Tak perlu malu.

Aku akan tetap pura-pura tak tahu.